Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Varia Gereja

Gereja Tidak Bisa Meninggalkan Penggunaan Bahasa Jawa

Posted : 05 Januari 2009
Gereja Tidak Bisa Meninggalkan Penggunaan Bahasa Jawa.jpg
Gereja Katolik di DI Yogyakarta hingga kini terus mengukuhi tradisi budaya lokal dalam tata cara ibadah. Jadwal misa di kapel-kapel yang terletak di pelosok pedesaan disesuaikan dengan kalender Jawa. Misa digelar setiap selapanan atau 35 hari sekali sesuai kalender Jawa agar umat bisa lebih mudah mengingat jadwal ibadah.

Mayoritas ibadah ekaristi juga digelar dalam bahasa Jawa. Pada perayaan Natal tahun ini, seluruh kapel yang berjumlah sebelas buah menggelar perayaan Natal dalam bahasa Jawa. Gereja Katolik Santo Petrus Kanisius Wonosari pun merayakan misa Natal pertama dengan bahasa Jawa dan diiringi alunan gamelan.

Menurut Romo Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari, Romo V Suryatma Surya Wiyata dan Romo Agustinus Nunung Wuryantoko, misa Natal berbahasa Jawa paling diminati oleh umat. "Biasanya umat membeludak saat misa berbahasa Jawa," ujar Romo Suryatma, Selasa (23/12).

Seperti di Wonosari, Gereja Katolik di Kulon Progo juga tidak bisa meninggalkan penggunaan bahasa Jawa dalam setiap kegiatan ritual. Penyesuaian terhadap bahasa dan kebudayaan Jawa ini memudahkan gereja menyampaikan pesan moral kepada umat.

Menurut Romo Agustinus Ariawan Pr, Pimpinan Paroki Promasan di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo, penggunaan bahasa Jawa tak lepas dari pengaruh tokoh Katolik pertama di Kalibawang, yakni Barnabas Sarikrama. "Pada tahun 1904, Barnabas Sarikrama menyebarkan ajaran Nasrani di sekitar Kalibawang hingga Magelang. Agar mudah dipahami masyarakat, ia menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar. Cara itu tetap kami pertahankan," ujar Ariawan saat ditemui akhir pekan lalu.

Ditambahkan Manajer Sendangsono Yohanes Setianto, hampir semua kegiatan ritual di wilayah Paroki Promasan selalu memakai bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Indonesia dilakukan di bulan Mei dan Oktober, karena banyak peziarah yang datang dari luar DI Yogyakarta.

Yohanes mengatakan, penggunaan bahasa Indonesia sering menuai protes dari umat yang mayoritas merupakan generasi lanjut usia. Mereka biasa menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pergaulan sehari-hari. "Generasi muda Promasan yang mengerti bahasa Indonesia umumnya merantau ke daerah lain. Selain itu, kami tak bisa mengubah tradisi yang sudah terpelihara sejak lebih dari seratus tahun lalu," ujarnya.
sumber:Kompas

Lainnya

Arsip :20092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.2917 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net