Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suara Pinggiran

Maria, Pemulung Tak Kan Berpaling dari Kristus

Posted : 02 Februari 2010
Maria,-Pemulung-Tak-Kan-Berpaling-dari-Kristus.jpg
Reformata.com - JALANAN menjadi “rumah” bagi Maria. Dia tidur di mobil yang diparkir, mandi di kamar mandi umum. Pekerjaannya memungut gelas plastik bekas air mineral. Dia berteduh di pinggir jalan, makan seadanya. Itu semua dilakoni Maria bersama putri kecilnya, Charina (2 ½ tahun). Sehari-hari Maria berbaju kusut menenteng karung plastik. Pagi dan malam hari, Maria memunguti gelas bekas air mineral.
Sejak 2005, Maria merantau dari Pekalongan ke Jakarta. Mulanya dia menjadi pembantu rumah tangga, lalu berjualan makanan katering, sampai akhirnya bertemu dengan Chandra Purba yang menikahinya 2006.  
Ternyata kehidupan rumah tangga tidak melepaskan dirinya dari kesulitan. Sang suami mengidap penyakit gula (diabetes), hidup bertambah sulit. Menjadi pemulung adalah pilihan Maria dan sang suami, untuk melanjukan hari-hari yang sulit. Kesulitan hidup membuat mereka tidak rukun. Maria dipaksa untuk bekerja, memungut gelas plastik sambil menggendong  Charina.  

Tahun 2008, sang suami meninggal karena penyakit yang dideritanya. Maria harus berjuang sendiri. Tetapi tekanan dan kesulitan tidak membuat Maria berpaling dari Kristus atau menjual diri. “Hidup saya adalah bagi Charina. Tuhan selalu menolong saya, melalui kebaikan orang lain. Orang gereja selalu memperhatikan dan menolong saya. Saya dibimbing untuk tetap percaya pada Tuhan,” aku Maria tegar.
Siang itu, wanita usia 29 tahun ini tetap ceria bersama Charina, walau hanya duduk berteduh di emperan jalan. Charina terlihat lincah, wajah manisnya mengisyaratkan pengertiannya akan kondisi ibunya. Sambil berlari kecil, bermain tanpa mengenakan sandal, Charina tetap terlihat seperti anak kecil lainnya. Ada kebahagiaan di lesung pipinya. Charina sangat merdeka, walau hanya anak pemulung.
 
Perjuangan dan impian
Maria ingin memiliki tempat tinggal untuk sekadar berteduh. Meski pendapatan sehari hanya cukup untuk makan, itu tidak mengurangi se-mangatnya mengumpulkan uang untuk sewa rumah kos di kawasan Jatinegara. “Semoga kerinduan  bisa menempati kos di tahun ini dapat terkabulkan,” harap Maria.
Dia rindu pulang kam-pung. Namun selain tidak punya ongkos, keluarga juga tidak menerima  karena kini dia memeluk Kristen. Teman-temannya sering bertanya, mengapa dia menjadi orang Kristen. Maria selalu menjawab, bahwa “Saya sudah belajar tentang Firman Tuhan, berdoa, dan Tuhan sangat baik pada saya. Maka saya tidak akan meninggalkan Tuhan. Dia selalu menolong saya dengan kebaikan orang-orang Kristen, yang baik kepada saya”.  Dengan berpegang pada Yesus, Maria terlihat tegar menghadapi kesulitan.   

Jalanan adalah dunia yang keras dan menakutkan. Ada saja gangguan mengancam, tapi Maria selalu menemukan orang-orang yang berbelas kasihan. Ada saja yang menyodorkan uang jajan, makanan bagi Charina. Selain itu, ada yang menawarkan mobil angkutan untuk tempat tidur bagi Maria dan Charina di malam hari.  Inilah pertolongan-pertolongan tak terduga yang dialami Maria dan anaknya setiap hari.          Kesulitan sepertinya telah menjadi teman bagi Maria. Dia bisa tinggal di mana saja, makan seadanya cukup membuat Maria kenyang dan bersyukur.  Kebaikan orang lain telah membuat Maria dan Charina merasakan kasih. Komitmen menjadi seorang Kristen, membuat Maria kehilangan keluarga di kampung, tapi menemukan banyak keluarga seiman yang mengasihi. Inilah kekuatan yang menghidupkan harapan dan semangat hidup Maria.
Maria sosok ibu yang berjuang demi anaknya. Kesulitan tidak menjadi penghalang untuk dirinya membuktikan cinta. Walau tanpa suami, namun Maria mampu menjadi ibu sekaligus ayah bagi Charina. ?Lidya

77
44 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4113 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net