Joelle Didjaja, Konsep Pendidikan Yang Tidak Membebani Anak

Author : Ronald | Wed, 1 July 2015 - 14:52 | View : 922
joelle-didjaja-konsep-pendidik.jpg

ANAK adalah harta karun paling berharga yang tak ternilai. Adalah sebuah kewajiban mutlak dari para orangtua untuk mengawasi proses tumbuh kembang anak serta memberikan yang terbaik bagi anak. Memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak adalah dambaan dari setiap orangtua. Namun, seringkali para orangtua mengabaikan fakta bahwa perkembangan teknologi informasi saat ini ikut mengubah tantangan dan minat dari anak.
“Anak-anak zaman sekarang masuk dalam kategori generasi Z. Generasi Z ini berbeda sekali dengan generasi-generasi sebelumnya. Sebelum Z itu masuknya ke dalam generasi X dan Y. Perbedaannya adalah, anak-anak yang berada pada generasi Z ini dibesarkan di era teknologi. Anak-anak dari generasi Z ini sejak kecil sudah mengerti teknologi, dan mereka itu sudah banyak bermain dengan hal-hal yang bersifat teknologi,” ujar Joelle, saat mengawali perbincangan dengan Reformata (22/5). Joelle yang akrab disapa dengan Miss Ching, ini, adalah seorang kepala sekolah dari SMA Ebenezer Christian Academy, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Plus Minus Perkembangan Teknologi bagi Anak
Sebagai seorang guru, Joelle melihat perkembangan teknologi informasi saat ini memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri bagi tumbuh kembang anak-anak dari generasi Z. “Cara mereka belajar bukan hanya sesuatu yang mereka dapatkan secara akademik dari sekolah. Mereka berada di dalam era Constant Learning Mode (era pembelajaran secara menerus),” kata perempuan lulusan kriminologi dari Simon Fraser University, Kanada, ini.
Menurut Joelle, di saat anak-anak beraktivitas menonton televisi, memainkan game di gadget, dan menggunakan ponsel untuk berkomunikasi, tanpa sadar mereka juga telah belajar akan hal-hal baru. “Dengan demikian Learning Mode mereka seperti ‘On’ terus. Saat mereka menonton TV, mereka ikut mempelajari segala sesuatu yang tidak mereka peroleh di buku,” imbuh jemaat Gereja Bethel Indonesia, ini.
Sementara itu dari sudut kekurangan, Joelle melihat bahwa generasi Z tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol diri seperti generasi X dan Y. “Generasi X dan Y lebih bisa membedakan kapan waktunya untuk belajar (akademik), berkomunikasi, maupun bermain. Nah, kalau anak zaman sekarang membaurkan ketiganya menjadi satu,” ujar perempuan bernama lengkap Joelle Hidjaja, ini. “Kedua hal inilah yang tidak disadari oleh para orangtua. Karena para orangtua hidup di zaman yang totally berbeda. Karena waktu mereka (orangtua) berada pada umur yang sama dengan anak mereka seperti saat ini. Ibaratnya zaman saya sekolah dulu ponsel aja belum ada, berbeda dengan anak Taman Kanak-kanak zaman sekarang yang sudah pegang ponsel. Akibatnya mereka lebih mengerti teknologi lebih dini. Inilah yang kurang dipahami oleh orangtua, dan sering menimbulkan clash dalam hubungan mereka dengan anak,” imbuhnya lagi.

Konsep Home Schooling
    Ilmu pengetahuan adalah sebuah kebutuhan primer yang harus dimiliki oleh generasi penerus bangsa. Namun seringkali anak menjadi sebuah “proyek” perwujudan mimpi dari orangtua. Tak jarang dijumpai, banyaknya anak-anak yang harus mengorbankan minat dan bakatnya untuk merealisasikan impian yang tidak tercapai dari para orangtua mereka. Program pendidikan nonformal (homeschooling), dilihat Joelle sebagai solusi tepat bagi anak-anak yang hidup di generasi saat ini. “Anak-anak saat ini proses penyerapan informasinya lebih cepat dibanding era-era sebelumnya. Jadi kuncinya kita harus memakai language (bahasa), atau perangkat yang sama dengan mereka (generasi Z),” terang perempuan yang juga pernah mengenyam pendidikan di John Casablanca Institute, Canada, ini.
Pendidikan formal di Indonesia saat ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Beban yang mengharuskan seorang anak untuk belajar dan maju bersama, sehingga semua terlihat sebagai sebuah bentuk untuk penyeragaman. “Sebenarnya kalau kita perhatikan, pelajaran yang berhubungan dengan institusi pendidikan itu hanya mulai di era industrial revolution (revolusi Industri), yang tidak lebih dari 200 tahun,” jelas Joelle. Ia pun menambahkan, di era pra Revolusi Industri, pendidikan lebih bersifat individu dan lebih spesifik pada kebutuhan dari si anak itu sendiri.
Konsep pendidikan formal yang ada seperti saat ini cenderung membuat anak lebih merasa mendapatkan tekanan (stress). Bahkan dengan tekanan yang begitu besar, dapat memunculkan perlawanan dari seorang anak untuk tidak ingin kembali lagi ke sekolah (putus sekolah). “Alasan mengapa saya berpendapat bahwa sekolah nonformal dapat lebih menjawab kebutuhan anak, karena kita bisa melihat area mana yang bagus dan diminati oleh sang anak. Di situlah yang kita asah,” ungkap Joelle. Ia menambahkan lagi, melalui pendidikan nonformal sang anak tidak mendapatkan beban yang begitu besar karena harus menjalani keseragaman seperti yang diterapkan di sekolah-sekolah pada umumnya, dan memberikan mereka kesempatan sebesar-besarnya untuk mengeksplorasi lebih jauh bidang, minat, dan bakat yang mereka kehendaki.
           ?Ronald

Komentar

Top