Suami Nganggur, Istri Selingkuh

Author : Bimantoro | Wed, 1 July 2015 - 15:12 | View : 2448
london-car-title-loans-no-job1.jpg

Konselor yang saya hormati, saya M, usia 28 tahun, tinggal di Tangerang, punya istri (usia 30 tahun) dan seorang anak (2 thn). Saya seorang suami yang mungkin memang tergolong pasif karena selama ini saya yang lebih banyak menjaga anak, dan istri saya yang bekerja. Sebetulnya selama ini tidak pernah masalah, bahkan istri saya tergolong nyaman dalam peran seperti ini, namun karena sempat ada masalah dalam perusahaan tempat istri saya bekerja, ia di-PHK dan sejak kondisi tersebut, istri sering marah-marah dan mengatakan membenci saya, karena saya ini orang yang tidak berguna.  
Saya sadar selama ini memang tidak bekerja, karena itu saya tidak banyak bicara untuk membela diri. Hal ini berlangsung 2 tahun dan saya tidak lagi dekat dengan istri, baik secara emosi maupun fisik. Kondisi ini ternyata membuat dia menjalin hubungan dengan orang lain, dan akhir-akhir ini saya ketahui dari seseorang yang melaporkan kepada saya dan kenal pria lain tersebut. Bahkan orang tersebut mengatakan bahwa pria tersebut pernah merekam perselingkuhan tersebut. Ini sangat mengerikan buat saya. Apa yang harus saya lakukan, Pak? Apakah saya harus menegur istri saya, atau mendiamkannya atau bagaimana? Karena memang selama ini mungkin saya sudah tidak dekat lagi. Mohon nasihatnya.
    M di Tangerang

BAPAK M yang terhormat, memang menghadapi masalah yang mengagetkan bisa menjadi sesuatu hal yang mengerikan bagi kita. Apalagi jika masalah tersebut, sifatnya sangat personal, dan sangat mempengaruhi kehidupan berumah tangga dan perkawinan. Suatu kondisi yang tidak pernah disangka-sangka dan memberikan perasaan tersendiri bagi kita. Entah itu perasaan kecewa, kesal, penuh amarah, dan sakit hati. Melihat hubungan dengan istri yang makin lama makin renggang, lalu mengetahui adanya “isu” sebuah rekaman yang berisi perselingkuhan istri kita dengan pria lain, akan sangat mempengaruhi respon dan tindakan kita.  
Di sisi lain kita mulai menyadari bahwa kemungkinan besar masalah sudah muncul sejak bertahun-tahun lalu, di mana kondisi tertentu muncul dan membuat peran kita sebagai suami sebagai pencari nafkah dan istri sebagai ibu rumah tangga, menjadi berbalik, sehingga hal ini menimbulkan salah satu andil dalam pembentukan masalah. Hal lainnya mungkin kita juga sudah mencoba berbagai macam bentuk dalam mengatur rumah tangga, namun selalu berbentur, sehingga untuk menghindari konflik tanpa sadar kita menjadi suami yang bersikap pasif.  
Hal ini seolah-olah memberikan kebebasan kepada istri untuk mengaktualisasikan dirinya, dan bisa bekerja dengan cara yang ia mau. Namun permasalahan dalam perusahaan yang membuat terjadinya PHK tentu saja menciptakan ketidakseimbangan dalam rumah tangga. Kondisi ini mungkin saja membuat istri menjadi frustrasi dan ditambah dengan kondisi ekonomi yang sulit serta anak yang masih kecil, ada sebuah kemarahan melihat kondisi suami yang juga sepertinya tidak siap dalam memberikan support sehingga lambat laun mungkin sekali istri kehilangan respect.
Di sisi lain, apakah mungkin ada beberapa ketidakpuasan yang ia lihat dari cara suami mengatur anak dan rumah tangga sehingga ia bisa mengatakan benci dan melihat suami sebagai orang yang tak berguna? Dan efek dari beban tersebut istri mulai lebih banyak memfokuskan diri dengan lingkungan di luar, atau mungkin berusaha mencari pertolongan sehingga tanpa sadar terjebak dalam kondisi yang juga menghancurkan dirinya, meski kita tidak mengerti seutuhnya motivasi apa yang mendorong istri untuk melakukan hal tersebut.  
Dalam kondisi yang dilematis seperti ini, sebetulnya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Pertama, penting sekali bagi kita untuk mengetahui dan menyadari kelebihan-kelebihan apa yang ada dalam diri kita, untuk bisa menolong di tengah-tengah kesulitan. Meski Bapak tidak menjelaskan bagaimana kondisi keluarga sekarang ini, apakah Bapak bekerja atau istri sudah mendapat pekerjaan baru. Namun apa yang sebetulnya bisa kita kerjakan untuk menolong bangkitnya keluarga ini? Meski keuangan adalah faktor pemicu, dan bukan faktor utama dalam permasalahan ini, namun kemungkinan besar, kondisi ini sangat signifikan dalam berumah tangga. Kebutuhan primer keluarga untuk hidup sehari-hari perlu didahulukan, sehingga kita yang selama ini terbiasa pasif, mau tidak mau harus berusaha sekuat tenaga untuk mencari pekerjaan yang minimal bisa membantu keuangan keluarga dari keterpurukan. Dalam hal ini tentu saja memerlukan strategi dalam mengatur anak dan mengurus rumah tangga. Karena itu penting untuk mengetahui siapa-siapa saja yang bisa mensupport dalam hal ini.
Kedua, dalam melihat hubungan dengan istri, tentu saja ada pilihan-pilihan yang bisa kita ambil. Kita bisa bertindak seolah-olah tidak memperdulikan dan tidak memperhatikan isu yang terjadi dan membiarkan istri seperti apa adanya, meski di sisi lain, tanpa kita sadari, kita sedang menuju ketidakberdayaan (learned-helplessness), atau sebetulnya ada sebuah tindakan yang kita lakukan di mana kita bisa berusaha membangun komunikasi, melakukan klarifikasi dan menjadi seorang comforter buat istri, meski di tengah-tengah kesalahan yang ia lakukan.
Firman Tuhan dalam Filipi 4: 3 berkata: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang member kekuatan kepadaku.” Hal ini pasti tidak akan mudah dan kadang-kadang memerlukan waktu yang cukup lama, karena begitu banyaknya muatan negatif yang dirasakan kedua belah pihak, ditambah lagi dengan masalah yang sudah tahunan ada dalam hubungan Bapak dan Ibu. Kami sangat menganjurkan, Anda berdua bisa menemui konselor pernikahan, dan menemukan solusi. Tuhan memberkati.

Lifespring Counseling
and Care Center Jakarta
021- 30047780

 

Komentar

Top