Reformata.com - Pria itu melompat dari bus kota sambil menenteng gitar. Sembari berjalan, senandung kecil terdengar dari bibirnya saat menghampiri seseorang yang sedang duduk di kawasan Karet, Jakarta Selatan. Pria itu menyerahkan gitarnya. Lalu dengan wajah tetap ceria, dia kembali melangkah dan menyapa setiap orang yang dilewatinya. “Hai, Teman, aku ke gereja dulu ya,” katanya. Sekilas, dari topi khas yang dipakainya, orang-orang tentu mengira kalau dia itu bukan Kristen. Itulah kesan pertama REFORMATA saat bertemu dengan pengamen bernama Ryansyah Syaputera Kamarulop tersebut.
Anak jalanan. Itulah sebutan bagi orang-orang seperti Ryansyah. Hari-hari dia lalui dengan mengamen di bus-bus kota. Suaranya yang merdu, dan permainan gitar yang cukup trampil, menjadi modal pemuda kelahiran Jakarta, 18 Juni 1984 ini, untuk mencari duit dengan mengamen. Awalnya, dia mengamen hanya untuk mengekspresikan hobi, namun akhirnya menjadi sumber penghasilan.
Perasaan tertolak, sangat membekas di hati Ryan yang dibesarkan oleh orang tua angkat. Perasaan tersisih, tidak dicintai, menjadikan Ryan tidak nyaman berada di rumah. Inilah latar belakang yang menyebabkan Ryan mulai terjun ke jalanan, sejak tahun 1997. Ryan membangun kehidupan sendiri di jalanan. Makan, tidur, semua dilakukan di jalanan.
Andaikan dia bisa menyelesaikan kuliahnya dari sebuah universitas swasta, fakultas ekonomi manajemen, jalan hidupnya tentu akan beda. Karena terbentur biaya dan seabreg masalah kehidupan, dia hanya sampai di semester 5. Ryan juga pernah dipercayakan bekerja di sebuah perusahaan hostkeeping dengan posisi yang baik, namun semua berakhir, hingga dia terjun ke jalanan.
Dengan mengamen, Ryan dapat Rp 20 ribu per hari, cukup untuk makan dan beli susu. Dengan gitar pinjaman itu dia mulai mengamen dari pukul 10.00 pagi atau mulai sore pukul 16.00-21.00. Banyak kisah sedih yang dia alami sebagai pengamen, seperti harus lari dikejar kamtib, bentrok dengan supir dan kondektur yang kurang senang dengan kehadiran pengamen.
Sejak bayi, Ryan dititipkan kepada orang lain karena orang tua cerai. Dia dibesarkan oleh keluarga yang tidak mencintainya. Ryan merasa tertolak dan dianggap telah mati oleh keluarga terlebih setelah dia menerima Kristus. Namun di jalanan, Ryan menemukan keluarga baru.
Kala sakit, lapar, dan tidur di jalanan, ada orang yang menawarkan makanan dan minuman. Itulah saat-saat yang tidak terlupakan. Mereka sahabat jalanan, yang memberikan kasih itu kepada Ryan. Inilah yang membuat Ryan semakin mencintai sahabat-sahabat jalanan, dan berjanji tidak akan melupakan mereka, jika kehidupan berubah lebih layak dari saat ini.
Dia mau hidup normal, punya tempat tinggal, walau itu hanya di kos-kosan. Bisa mengajak teman-teman tinggal bersama. Ingin memiliki gitar sendiri untuk bisa ngamen dan tidak harus meminjam dari teman lain. Sekalipun demikian, dalam kerasnya kehidupan. Ryan merasa bahwa Tuhan memberi damai di hati, ketenangan di saat menghadapi masalah besar maupun kecil. “Tuhan pasti menopang hidup saya untuk tidak begini terus. Kasih karunia Tuhan membuat saya bisa hidup sampai saat ini,’’ tandas Ryan dengan senyum.
Ryan, pengamen jalanan yang hidup di jalanan dengan harapan yang besar. Sikap, tutur kata, dan pemikirannya, menjadikan dirinya berbeda dari anak jalanan yang lain. Sepertinya Ryan terkondisi dengan keadaan, untuk harus bangkit lebih baik. Keluarga jalanan, memberi kebahagiaan tersendiri kepada Ryan, untuk memikirkan orang lain namun juga menemukan kasih yang dicarinya selama ini.
Tanggal 20 April 2007, adalah pristiwa besar dalam hidupnya, yang membuat Ryan tidak lagi kehilangan arti. “Mulai saat itu saya telah percaya kepada Yesus. Dia memberi saya kedamaian. Dia membuat saya merasakan saya dikasihi dan harus mengasihi orang lain,” kisah Ryan.
Ryan kini menemukan potensi dirinya tidak hanya bermusik dan bernyanyi, namun membangun kreativitas dengan keluarga jalanan. Membangun masa depan di Dapur Kreatif, mengem-bangkan kemampuan, memper-kenalkan, dan membuat dunia menghargainya. Lidya