Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suluh

Andreas Nawawi, Peduli Masyarakat Bawah

Posted : 08 Juni 2010
Andreas Nawawi.jpg
PERCAYA diri adalah  bentuk kepribadian yang positif. Namun jika rasa percaya diri itu karena keyakinan terhadap diri sebagai sentralnya, maka percaya diri berubah menjadi kesom-bongan. Ini menyebabkan manusia menjauh bahkan melupakan Tuhan, dan menjadi bermasalah ketika berhu-bungan dengan sesama. Hal seperti ini pernah dialami Pdt. Budianto Andreas Nawawi di awal kariernya.
Lalu, bagaimana pria kela-hiran Bandung, Jawa Barat 24 Juli 1957 ini beranjak menapaki kegagalan dalam dunia usaha, dan akhirnya menemukan arti hidup untuk melayani? Apakah keduanya (dunia usaha dan pelayanan) dapat dipisahkan? Bagaimana suami dari Christine Yonia ini menjalani hari-harinya sebagai pendeta yang tidak meninggalkan pekerjaan sebagai pengusaha dan  pro-fesional? Apakah Andreas mampu melaksanakan panggilan ini dengan baik dan benar, dan hadir menjadi berkat di market place?

Temukan langkah baru
Dulu, sewaktu menjadi training manager PT. Traktor Nusantara, Andreas merasa hebat dengan setiap ide dan kemampuan yang dia miliki. Rasa percaya diri yang berlebihan, membuat Andreas selalu bersikap menonjolkan kemampuan, yang menim-bulkan gesekan atau perten-tangan dengan pimpinan. Akibatnya Andreas digeser dari jabatan saat itu.  
Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB)  Politeknik Mekanik Swiss ini merasakan mutasi jabatan itu sebagai aib. Dia stres, putus asa, dan rasa kehilangan pengharapan menghantui kehidupan pria bertubuh besar ini. Cita-cita untuk meraih sukses ternyata berbuah kegagalan. Saking tertekannya batin Andreas, dia bahkan ada keinginan untuk bunuh diri. Dia juga sempat memutuskan memasuki dunia kebatinan.  
Namun di sinilah titik awal ayah dari Veronica, Debora, dan Abraham ini, mulai mencari penolong. Dan itu ditemukannya di dalam Kristus, melalui acara retreat pada 12 November 1982. “Diriku bukan apa-apa, hanya kasih Kristus-lah yang dapat menyelamatkan hidupku,” ungkap Andreas penuh kepasrahan mengenang saat-saat yang membahagiakan itu.
Taat dan menghargai pemimpin, rendah hati, menjadi bagian kehidupan penyuka sepeda ini. Nilai-nilai yang didapat melalui Firman Tuhan, menjadi pedoman yang mendorong Andreas untuk mewujudkannya dalam seluruh kehidupan.
Perubahan-perubahan itu mendorong Andreas semakin mencintai Tuhan, dan membu-latkan tekad mengabdikan hidupnya untuk melayani.
Untuk melengkapi diri, Andreas belajar teologi di Extention Bible School, Institut Injili Indonesia Jakarta, hingga tahun 1983. Kemampuannya yang baik dalam memimpin, mengarahkan Andreas melan-jutkan pendidikan ke Calvary Theological Institute Jakarta, dan selesai di tahun 2000.
Aktif di Open Doors International Indonesia, dan menjadi secretary of the board CBN Indonesia, menjadi wujud pelayanan yang dapat dilakukan Andreas. Dia juga fokus melayani di Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB), sebagai penatua hingga menjadi sekretaris Majelis Apostolik sejak 2006 sampai saat ini.

Market place
Menyangkut aktivitasnya yang penuh warna itu, pria yang saat ini juga adalah direktur nasional Crown Financial Ministry ini mengatakan, “Usaha dan pelayanan tidak dapat dipisah-kan, sama halnya gereja dan kehidupan sehari-hari. Itu tidak dapat dipisahkan. Menjadi orang Kristen harus tetap di mana pun kita ada,” tandasnya. “Pendeta nyaris lelah dengan kata-kata untuk mendorong jemaatnya menjadi garam dan terang, sebaliknya pengusaha atau karyawan Kristen berpikir bagaimana bisa melayani,” tambah Andreas. Inilah yang membuat ayah 3 anak ini, melayani di market place se-bagai pendeta yang tetap menjadi profesional. “Melayani dengan kemampuan yang ada, menjadikan meja kerja sebagai mimbar tempat bersaksi,” tekad suami Christine Yonia ini.
Menurutnya, dia melihat ada banyak kesempatan dan kebutuhan di luar gereja. “Panggilan saya raising up leaders: membangkitkan pe-mimpin. Saya sangat mencintai tugas sebagai pembawa khotbah. Saya merasakan suka cita saat menyampaikan khotbah,” ujar Andreas yang mengaku merasa senang banget mengajar dan memo-tivasi orang. Hal-hal itulah yang mendorong Andreas hadir di market place.
Dia berprinsip, untuk dapat menolong banyak orang, kita harus memberi kail, supaya yang ditolong tidak hanya makan sehari. “Dari 20 orang, saya latih, ajari untuk ber-jualan, mulai dari supir sampai ibu rumah tangga. Saya memberikan segala sesuatu yang berguna. Bisa atau tidak mereka dengan apa yang diajarkan, tergantung pada orangnya. Hidup saya bahagia kalau melihat mereka berhasil. Saat ini tidak sedikit dari mereka yang menjadi direktur dan pengusaha. Saya ingin bisa menolong orang lebih banyak lagi,” kata pendidik yang menjadikan dirinya sebagai ‘pelayan’ di market place ini.
Status dan apa pun yang dia miliki, hal itu tidak tidak pernah mengurangi cinta presiden komisaris PT. Sentul City Tbk ini pada orang pinggiran. Dengan mengayuh sepeda dia mengun-jungi desa-desa, makan di warteg, bertemu orang di jalanan dan ngobrol tanpa harus memperkenalkan diri sebagai pendeta. Dari sinilah mantan direktur PT. Lippo Karawaci Tbk ini, sering menangis dan memikirkan sesuatu yang dapat dilakukan bagi masyarakat bawah. “Siapa yang memikirkan mereka, kalau bukan mulai dari diri sendiri,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.   
Sebagai pendeta, Andreas menempatkan diri sebagai sosok yang dapat membangun pemimpin, melalui pemuridan yang dilakukannya. Menyam-paikan khotbah menjadi tugas panggilan yang menyenang-kan untuk dapat membagikan kebenaran, serta menjalankan seni kepemimpinan.
Andreas mewujudkan pang-gilannya dalam dunia usaha dan pelayanan. Karena dia percaya bahwa menjadi seorang Kristen harus hadir di mana saja, tanpa kehilangan identitas untuk menjadi ber-kat-NYA. Andreas adalah sosok suami dan ayah bagi anak-anaknya yang dapat menjadi teladan. Pelayanan dan pekerjaan, tidak pernah mengubah kebiasaannya un-tuk tetap mempunyai waktu bagi anak dan istrinya selama di rumah. Andreas mampu mempengaruhi keluarganya untuk mencintai Tuhan dan pelayanan, namun juga men-jadi berkat bagi masyarakat bawah maupun dunia sekeliling.
                        ?Lidya

52
35 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4171 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net