Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suara Pinggiran

Selalu Merasa Cukup Dalam Kekurangan

Posted : 31 Agustus 2010
130-suara-pinggiran.jpg
REFORMATA.com - TIDAK selamanya kehidupan dipenuhi dengan tangisan atau pun tawa. Sebaliknya kedua-duanya menjadi pelengkap kehidupan, yang memberi arti kepada manusia yang menjalaninya. Bagaimana kehidupan ini harus dijalani, menjadi pertanyaan pen-ting yang dapat mengarahkan manusia untuk memaknai setiap peristiwa yang terjadi. Rudi Gunawan telah merasakan dinamika kehidupan yang tidak sederhana itu.
Kala tidak ada jalan Pria lulusan SMA ini, bertarung hidup di Jakarta. Dengan hanya mo-dal ijasah SMA, Rudi mulai bekerja sebagai tenaga keamanan (security) di beberapa perusahaan, de-ngan imbalan  gaji yang lumayan hingga yang paling rendah. Dia beberapa kali berpindah dari satu tempat ke tempat  lain, bahkan pernah menjadi tukang ojek. Ada kalanya dia bahkan tidak punya pekerjaan, alias  mengganggur. Kesulitan demi kesulitan pun menerpa hidupnya, hingga punya pemikiran: “Bekerja apa saja, yang penting ada kegiatan, cukup untuk makan.”
Suatu ketika suami Astrid Felicia ini mendapat peluang untuk membantu membersihkan ruang ibadah di GPIB Ebenhaezer, Jalan Kramat VII Jakarta. Dia bekerja selama 6 bulan. Upah harian yang didapat tidak seberapa, namun Rudi menjalaninya dengan setia. “Tuhan yang mengatur segalanya, saya akhirnya dipindahkan ke bagian tata usaha. Saya tidak pernah menduganya,” tutur ayah  2 orang anak ini penuh syukur.
Sejak bekerja di gereja, Rudi mulai memiliki impian yang selama ini bahkan tidak pernah terlintas di benaknya. “Saya mau melayani Tuhan. Ini peluang pekerjaan sekaligus pelayanan. Saya tidak boleh berpikir mau dapat uang berapa, secara daging kurang, tapi harus belajar mencukupkan diri dari apa yang didapat. Saya mau berbeda dari yang lain, harus lebih baik setelah mengenal Tuhan Yesus yang baik itu,” ungkap Rudi dengan nada penuh kepasrahan.
    
Hidup itu pengorbanan
Menjadi kepala rumah tangga, apalagi untuk mencukupi kebutuhan 2 orang anak yang bersekolah, dan istri yang hanya sebagai ibu rumah tangga, tentu membutuhkan perjuangan tersendiri. Dan ini tidak mudah bagi Rudi yang tiap bulan mendapat imbalan (gaji) sekitar Rp 1 juta per bulan. Uang sebesar itu memang kurang mencukupi bagi kebutuhan di kota Jakarta ini, terlebih punya beberapa tanggungan. Namun ayah Christian dan Lydia Elizabeth ini meyakini, “Hidup itu pengorbanan. Berharap pada Yesus karena Dia punya kuasa, dalam DIA selalu ada jalan keluar”.   
Sejak menikah 11 tahun yang lalu, Rudi menjadi orang Kristen. Kini, dalam kehidupan rumah tangganya, Rudi belajar untuk menjadi pribadi yang penuh dengan harapan: “Saya ingin menjalani hidup ini hingga akhir untuk terus mengikuti Kristus. Jangan sampai saya berpaling dari DIA. Saya harus berjalan sesuai dengan kemauan-Nya,” tekad Rudi.
Di tengah lingkungan yang tidak mendukung untuk menjadi seorang Kristen yang baik, Rudi tetap berjuang dengan apa yang dia yakin, terus menjadi sosok yang dapat mengisi kehidupannya dengan arti.
Rudi memberi pengertian akan kehidupan bahwa: “Apa yang kita terima, tidak menjamin kehidupan menjadi cukup. Sebaliknya apa yang kerjakan, dan untuk siapa pekerjaan itu dilakukan, memberi keyakinan dan kecukupan yang pasti”. Lidya


60
40 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.375 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net