CLOSE
REFORMATA.COM
YouTube Facebook Twitter RSS

Suluh

Pdt Julianto Simanjuntak, Indonesia Butuh Konselor

Tuesday, 31 Agustus 2010 | View : 5245
REFORMATA.com - Bebannya menjadi konselor berawal dari  pembentukan  keluarga asalnya yang bermasalah. Julianto dibesarkan oleh seorang ibu yang mengalami masalah depresi ringan dan seorang ayah pecandu alkohol.  
“Mengapa tidak ada bantuan khusus dari gereja? Pelayanan seperti apa yang dapat membantu keluarga-keluarga yang mengalami gangguan kesehatan mental, serta konflik dalam pernikahan?” pertanyaan-pertanyaan ini semakin meng-ganggu Julianto, dan dia ingin menemukan jawaban.
Jawaban itu akhirnya baru ditemukan suami Roswitha dan ayah dari Josephus dan Moze ini, saat studi konseling di tahun 1991 di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. “Konseling adalah alat bantu yang terbukti dipakai di seluruh dunia. Konseling sangat baik dalam mendampingi masalah-masalah pernikahan dan kesehatan mental. Ilmu konseling sangat berkembang, dan kaya dengan metode-metode yang baik”,  ungkap pria kelahiran Tanjung Balai Asahan, 25 Juli dan penggemar musik klasik ini. Itulah awal terpanggilnya Julianto menekuni profesi konselor.
Inilah titik awal yang membangun kehidupan Julianto terus melewati berbagai proses, hingga terbentuk sebagai hamba Tuhan yang melayani full time di bidang konseling, dengan mendirikan Layanan Konseling Keluarga dan Karir (LK3) bersama istrinya Roswitha Ndraha  tahun  2002.

Pelayanan Konseling sangat dibutuhkan warga jemaat
Melayani jemaat selama 5 tahun, sebagai Gembala Sidang GKMI Anugerah-Cinere Jakarta, semakin mempertajam beban konseling Julianto. “Mereka lebih butuh didengar daripada khot-bah. Lebih suka  didengarkan. Saya berpikir apakahkah ada sekolah yang bisa mende-ngarkan? ya ternyata ada sekolah konseling,” ungkap  Sarjana Teologi Jurusan Konseling Pastoral di UKSW Salatiga ini.  
Kesadaran ini mendorong  Julianto melanjutkan ke program S2 Konseling dan masuk ke STTRII Jakarta, dan lulus  tahun 1999. Lewat sekolah konseling itu Julianto mengalami pemulihan, dan pernikahannya dengan Roswitha diperkaya. Itu sebabnya Julianto sangat menyukai pelayanan ini, karena percaya konseling sebagai sarana yang Tuhan pakai membantu banyak orang.
Kesempatan melanjutkan ke Magister Sains Agama dan Masyarakat (UKSW Salatiga), membuat Julianto lebih dapat memahami sosiologi di Indonesia, dan menemukan pastoral apa yang cocok di Indonesia. “Orang Indonesia senang ngobrol tetapi tidak cukup terbuka membicarakan masalah. Pelayanan konseling Indonesia, orang harus mampu mendengar, dan menjadi teman bicara yang asyik, sehingga klien terbuka. Terbuka adalah awal pemulihan. Konselor yang punya kecakapan dan suka mendengarkan sangat dibutuhkan,” urai Anggota  Asosiasi  Pastoral Indonesia (API) ini.
“Sistem keluarga yang bermasalah. Sistem pernikahan yang tidak berfungsi adalah persoalan utama yang dihadapi warga jemaat. Sepuluh tahun ke depan persoalan keluarga dan kesehatan mental akan meledak jumlahnya,” ungkap direktur Program Konseling STT Jaffray Jakarta dan Makassar  ini. “Indonesia membutuhkan konselor. Indonesia perlu piskiater dan  psikolog. Ladang ini dibutuhkan orang banyak. Pemimpin dan aktifis  gereja perlu dilatih  konseling. Selain itu  gereja perlu memberi dukungan kepada warga gereja untuk sekolah konseling atau menjadi psikolog,” tutur penulis buku “Mencinta Hingga terluka”, yang mendapat endorsemen dari CEO Kompas Gramedia, Agung Adiprasetyo, ini bersemangat.
Julianto melihat profesi sebagai konselor adalah visi yang ditanamkan Tuhan dalam dirinya. Membaca banyak buku, sharing para dosen, membakar hatinya untuk konsisten dalam pelayanan konseling ini. Dan keteguhan melalui Firman Tuhan yang menekankan pentingnya konseling pribadi, yang dilakukan Yesus. Adanya dukungan komunitas, khusus keluarga, serta hadirnya karya tulisan melalui buku-buku yang informatif dalam dunia pelayanan konseling, semuanya memberi “api” bagi pelayanan konseling Julianto.


VISI 2030 : Satu Pusat Konseling di Setiap Kota  Indonesia
  Menurut Julianto, dari 230 juta penduduk Indonesia, ada 26 juta jiwa mengalami gangguan jiwa ringan dan berat. Di kota besar data itu lebih besar, 20 persen penduduk terganggu jiwanya. Hal ini diungkap jelas dalam buku Julianto “Membedakan gangguan Jiwa dan kerasukan” (Gramedia).  Ini mem-beri catatan betapa pentingnya gereja terlibat untuk mengikuti pelatihan konseling, agar bisa menjawab kebutuhan masyarakat. Selain itu, gereja perlu membangun klinik mental, pusat-pusat konseling, supaya tahu bagaimana merawat warga jemaat yang mengalami masalah. Juga penting mendorong warga jemaat agar ter-panggil menjadi psikolog, psikiater dan konselor. “Ini profesi yang semakin dibutuhan di masa kini dan masa depan. Profesi yang sangat dicari,”. Demikian penegasan Julianto, yang pernah mendapatkan penghargaan dari Ketua Badan Narkotika Nasional (BNN) di tahun 2006 atas konsistensinya melayani keluarga pecandu narkoba.
Pemilik motto “orang bijak peduli konseling” ini  punya impian besar, di tahun 2030: agar tersedia 1 pusat konseling di setiap kota, dan 1 mental hospital di setiap ibu kota provinsi. Itulah mimpi Julianto dan dia bagikan kepada para maha-siswanya setiap kali kuliah. Dia juga tak hentinya terus kampanye ke pelbagai sekolah dan gereja di pelbagai Kota. Mengingatkan semua orang bahwa Konseling adalah bagian dari Amanat agung Kristus yang terabaikan.
Spesialisasi konseling Julianto adalah konseling keluarga dan penanganan kesehatan mental. Baginya, klien merupakan life document atau sebagai dokumen hidup bagi Julianto. Membaca buku, mengikuti seminar psikologi/konseling, dan mengikuti program studi doktoral di STT Jaffray Jakarta, adalah pelbagai  cara yang dipakai Julianto untuk meng-upgrade dirinya. Tak terlupakan memperkaya kehidupan perni-kahan, menikmati hobi, dan rekreasi adalah penyegaran bagi seorang konselor seperti Julianto yang kadang terancam jenuh dengan pelayanan.
    
“Membangun kesadaran pen-tingnya konseling itu tidak mudah, karena orang peduli kalau sudah  ada masalah yang kritis. Untuk ini Julianto mengembangkan pela-yanan konseling preventif. Sebelum bermasalah, orang melihat pentingnya konseling itu,” tandas penggemar traveling dan doyan mie kwetiaw goreng ini dengan lugas. Julianto juga rutin memberikan pelatihan bukunya yang terkenal “Self-Healing & Self-Counseling”, sebuah seni pemulihan Diri.  
Prinsip-prinsip yang digunakan Julianto dalam konseling pri-badinya adalah: “Masalah tidak untuk disimpan tapi dibagikan. Bukan untuk dise-salkan tapi dirayakan. Bukan kelemahan tapi kekuatan. Bukan kutuk tapi berkat. Bukan diatasi tapi dijalani. Bukan cobaan tapi ujian mendapat mahkota”. Semua ini diurai dalam buku Julianto dan istrinya Roswitha di Buku  Seni Merayakan Hidup yang Sulit, yang diterbitkan Gramedia dan mendapat endorsemen langsung dari Preskom Kompas Gramedia Jakob Oetama dan dari Prof. Yohanes Surya (Rektor UMN)
Julianto saat ini bersiap berkeliling 15 kota mulai Agustus-November 2010, untuk  mela-kukan kampanye dan seminar interaktif: “Mendidik Anak Utuh, Menuai Keluarga Tangguh”. Infonya dapat dibaca di www.pedulikonseling.or.id
Julianto, sosok pria yang tekun dan dengan impian besar. Kehadirannya memberi pence-rahan akan pentingnya konseling di Indonesia. Gereja sebagai titik tombak yang harus meng-hadirkannya dan menggerak-kannya. Lidya

See Also

Saut Sitompul Menjadi Motivator, Menemukan Nilai Spiritual
Pdt. STP Siahaan: Sabar Dan Tekun Menunggu Mahkota
Membantu Sesama Manusia Menghadapi Bencana Alam
Pdt. Petrus Octavianus, Pelopor Gerakan Kebangunan Rohani Di Indonesia
Akreditasi Perlu Agar Sekolah Teologia Mengupayakan Mutu
Mengembangkan Pelayanan Holistik
Merawat Bumi, Menggapai Sorga
Ir. Tjandra Tedja, MSc Memadu Ayat Emas, Berbisnis Dan Melayani
Integritas Dibangunmelalui Pendidikan Karakter
Magdalena Sitorus, Menulis Sebagai Terapi Mengatasi Kesedihan
Melatih Kecerdasan Umat, Membagun Bangsa
Membangunkan Komunikasi Kristen Di Indonesia
Revitalisasi Pelayanan Holistik Dalam HKBP
Memberdayakan Kaum Disabilitas
Melestarikan Sasando
Anak Jalanan Berarti Dan Mulia Dihadapan Tuhan
Hadirkan Kristus Di Masjid
Henk Venema, CINTA UNTUK PAPUA
jQuery Slider

Comments

Arsip :2014201320122011201020092008
Mata Hati
revolusi-mental.jpg
Istilah revolusi mental, kini lagi populer-populernya di Republik tercinta. Kata yang akrab dengan presiden terpilih Jokowi. Seperti apa pelaksanaannya, tentu ..
Konsultasi Teologi
alkitab--kontradiksi.jpg
Shalom pak Pdt. Bigman Sirait.Dalam Injil Matius 5:17 dikatakan “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para ..
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2014 Tabloid Reformata. All rights reserved . Visit: 18.072.246 Since: 14.11.05
Online Support :