REFORMATA.com - KUALITAS merupakan kunci utama sukses bisnis jasa maupun produk. Termasuk juga penyedia jasa makanan, entah itu restoran, warung maupun catering. Faktor lainnya adalah cara masak, servis atau pelayanan dan promosi. Begitulah simpul percakapan dengan pengusaha Warung Le’ko yang terkenal dengan sajian “iga penyet”-nya.
Menurut Wira, salah seorang pemilik warung yang terletak di Grand Indonesia, Citywalk dan Setiabudi One ini, keempat faktor itu harus berjalan beriringan. “Tak boleh salah satu sisinya diabaikan,” kata pria yang oleh teman-temannya dipercaya bertanggung jawab di bagian konsep dan desain interior untuk kenyamanan pelanggan ini.
Dalam kenyataannya, memang banyak orang yang lebih bersandar pada cara memasak. Tapi menurut Wira, faktor cara memasak itu relatif. “Cara masak itu tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Yang terpenting adalah pemahaman kita akan selera makan orang,” kata pria enerjik ini. Ia mencontohkan, iga itu bisa dimasak dengan seribu cara. Tapi pihaknya menyertakan sambal sebagai “temannya”. Kalau di Singapura, lanjutnya, memakai sambal akan terasa terlampau pedas. “Jadi yang terpenting itu adalah memahami dengan benar selera makan dari kostumer atau bakal pelanggan kita,” katanya.
Konsistensi
Sejak menyelenggarakan usaha makanan yang berinduk di Surabaya ini, usaha waralaba yang mereka selenggarakan itu terus menitik-beratkan pada konsistensi baik dari segi mutu maupun harga. Seperti dika-takan Samuel, partner bisnis Wira, sejak dari awal berdirinya, mereka sangat mengedepankan konsistensi dalam kualitas. “Kita selalu berusaha konsisten dalam sajian,” katanya.
Untuk menjaga kualitas sajian itu, pasokan daging sungguh dijaga. Bahkan pemasoknya pun harus benar-benar terekomendasi. “Karena pasokan itu sangat vital, maka kita tidak mau kecolongan sedikit pun dalam hal ini. Istri dari dua teman kami sesama owner yang bertanggung jawab untuk itu,” kata Samuel.
Konsistensi juga terlihat dalam aspek harga. Sudah menjadi komitmen mereka untuk tetap menyajikan makanan berkualitas dengan harga terjangkau. Meski berada di lokasi mewah, tapi harga yang dipatok dapat dijangkau oleh sebagian besar pelanggan. “Harga makanan kita termasuk menengah murah, tidak mahal,” kata Samuel sambil menambahkan bahwa resep gerak maju bisnis restoran adalah kualitas terjaga, harga terjangkau dan servis yang bagus.
Selain terjangkau, harga yang dipatok juga stabil. Sebagai contoh, meski di bulan puasa harga bahan mentah akan membubung naik, pihaknya tetap akan mempertahan-kan kestabilan harga. Tidak bakal mendatangkan kerugian? “Yang jelas kita tidak rugi, hanya keuntungan kita yang berkurang,” kata Wira sambil menambahkan bahwa agar efisien, ongkos lain diperketat, terutama pembinaan SDM sehingga tidak terjadi pemborosan di bidang lain.
Terus berinovasi
Warung Le’ko yang terletak di tiga lokasi di Jakarta Pusat itu didirikan oleh 7 orang yang sudah bersahabat sejak sekolah di SMP, hingga di luar negeri. Kebersamaan itu terus dipupuk dan akhirnya melahirkan banyak hal, salah satunya adalah warung makan dengan label Le’ko itu.
Sebagai usaha waralaba, biasanya keseluruhan sistem sudah disiapkan oleh pemilik pertama. Tapi karena merupakan usaha rumahan, sistem itu belum ada. “Karena itu kitalah yang menciptakan sistem dan manajemen sendiri. Bahkan tak jarang mereka belajar dari kita,” kata Samuel.
Sudah setahun lebih mereka menjalankan usaha ini dengan menyandang motto: “Memberikan makanan dengan kualitas bagus, harga terjangkau untuk semua kalangan dan dengan servis yang paling bagus!” Kemajuan warung makan ini, menurut Samuel, ditunjang oleh beberapa faktor. Selain oleh faktor campur tangan Tuhan, juga oleh pendekatan-pendekatan manusiawi dan profesionalitas.
Makanan, menurut Troy, mitra bisnis yang lain, pertama-tama merupakan kebutuhan dasar dan juga berkaitan dengan masalah selera. Karena itu, promosi yang dilakukan lebih memakai jalur “dari mulut ke mulut”. “Yang pertama adalah kualitas masakan, kualitas pelayanan dan harga yang terjangkau. Kalau itu sudah kita jamin dan bisa memuaskan pelanggan, maka pelanggan itu sendiri yang akan menjadi media promosi yang paling efektif. Mereka akan men-sharing-kannya pada relasi mereka,” kata pria single yang dipercaya menangani bidang promosi ini.
Agar pelanggannya puas, inovasi terus dilakukan. Bersama rekan-rekan lainnya, pria murah senyum ini selalu bertanya pada para pelanggan soal selera makanan mereka, menu apa saja yang perlu ditambahkan dan sebagainya. “Prinsipnya, kita melayani kebutuhan pelanggan, jadi kebutuhan itulah yang harus kita ketahui terus,” katanya.
Selain mengandalkan promosi “dari mulut ke mulut” itu, promosi dilakukan juga dengan selebaran atau pemasangan spanduk di lokasi-lokasi strategis di lokasi yang bersangkutan. Selain iga penyet, beberapa menu favorit dihidangkan. Sebut misalnya iga goreng, gurami penyet, sup sum-sum, bandeng tanpa duri, bebek penyet, ayam penyet, terong penyet dan masih banyak lagi.
Paul Makugoru.