Gratis, Tetapi Tidak Murah

Author : Pdt Robert R Siahaan | Mon, 12 January 2015 - 10:39 | View : 1221
womanworshippositionfreechrist.jpg

Pdt. Robert R. Siahaan, M.Div

Anugerah yang Murah?
 
Seseorang sangat mungkin untuk salah dalam memberikan makna pada sesuatu, misalnya menempatkan makna yang sangat tinggi kepada sesuatu yang kurang bernilai dan tidak penting, atau sebaliknya menganggap sesuatu yang sebetulnya penting dan bernilai sebagai sesuatu kurang bernilai dan kurang penting. Evelyn Adams memenangkan lotre New Jersey dua kali berturut-turut pada tahun 1985 dan 1986 sejumlah $5,4 juta dan sebagian besar ludes di mesin jackpot Atlantic City. Ia pun kemudian harus hidup di Trailer Park. Adams berkata: “Saya harap saya punya kesempatan  lagi.”  
Mungkinkah Adams menganggap remeh uang sebesar 5,4 juta dolar Amerika karena ia mendapatkannya dengan mudah dua kali berturut-turut? Sikap dan pemikiran (mind set) seperti ini bisa terjadi pada orang Kristen dalam memahami aspek-aspek keselamatan yang diberikan oleh Allah kepadanya. Banyak orang Kristen yang menganggap murah anugerah Allah dengan menjadi seorang Kristen namun menjauhi ibadah, tidak mau terlibat dalam pelayanan, tidak mau bertumbuh dan tetap mencintai dosa. Di sisi lain banyak orang Kristen yang merasa pasti masuk surga dan setiap mengaku dosa pasti diampuni oleh Tuhan (1Yoh 1: 9) lantas dengan alasan itu tetap bermain-main dengan dosa dan tidak hidup dalam kekudusan.
Alkitab mengajarkan dan menegaskan bahwa keselamatan adalah pemberian cuma-cuma dan manusia tidak bisa menambah atau menyumbangkan apa pun sehingga keselamatan itu diberikan Allah kepadanya (Rm 3: 20). Namun karena cuma-cuma alias gratis (Ef 2: 8-9), keselamatan dan kekristenan itu sering dipandang sebelah mata dan dianggap murah melalui sikap dan cara hidup orang Kristen yang tidak hidup dalam kekudusan. Mengapa demikian? Mungkin banyak orang Kristen yang melupakan kemutlakan sifat moral Allah, seperti diungkapkan T.C. Hammond (1938): “Adalah sesuatu yang selalu penting untuk mengingatkan diri kita sendiri akan keagungan kesempurnaan moral yang absolut, yang mengelilingi Pribadi Ilahi. Tanpanya, penyembahan sejati akan mengecil dan manusia akan menjadi arogan.”  

Menghitung Harga Anugerah

Mengapa ada orang yang berpikir yang gratis itu pasti murah? Padahal yang gratis tidak selalu murah, tergantung nilai yang terkandung di dalamnya. Kata gratis mungkin dapat menjelaskan tindakan Allah menyelamatkan orang berdosa.
“Gratis” berasal dari kata latin “gratia” (for zero price, free of charge) atau dalam bahasa Inggris “grace”  yang diterjemahkan dalam Alkitab sebagai anugerah atau kasih karunia (Ef 2: 8-9; Rm 3: 24). Secara penuh dan mutlak penebusan dosa telah dibayar lunas dalam kematian Kristus di kayu salib bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus (1Pte 1: 18-19). Apakah penebusan itu murah, sehingga Allah mau memberikan keselamatan itu bagi orang-orang berdosa yang telah memberontak bahkan telah melakukan banyak kejahatan dan kekejian di hadapan-Nya? Strategi manajemen ‘six sigma’ menekankan beberapa prinsip antara lain: “You don’t know until you measure, you don’t measure what you don’t value, you don’t value what you don’t measure.” Dengan kata lain prinsip di atas menegaskan bahwa setiap orang Kristen harus melakukan perhitungan atau kalkulasi total atas tindakan yang dilakukan Allah atas keselamatan yang diberikan secara gratis kepadanya. Berapa harga anugerah Allah? Tergantung tindakan apa yang dilakukan oleh Allah untuk keselamatan tersebut. Surat Petrus mengatakan: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,1:19 melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1Pet. 1:18-19).
Harga keselamatan tidak bisa diukur dengan uang atau dengan apa pun yang ada di dunia ini, harga itu tidak bisa dibayar dengan usaha apa pun yang dapat dilakukan oleh manusia karena terlalu mahal harganya (Mz 49:8-10), karena hanya bisa dibayar dengan darah Kristus sang domba Allah. Begitu mahal harga penebusan dosa manusia sehingga Allah harus menjadi manusia, harga yang tak terhingga bagi manusia. Mengapa Allah mau melakukannya? Tentunya karena kasih-Nya yang sangat besar (Yoh 3:16), kitab Hosea juga menggambarkan betapa besarnya hasrat Allah untuk menyelamatkan anak-anak-Nya yang berdosa (Hos 14:5), dan puncak dari semuanya itu adalah pengorbanan Kristus di kayu salib (Rm 5:8). Kalau seseorang diselamatkan dan menjadi seorang Kristen itu berarti anugerah diberikan kepadanya, mengapa mendapat anugerah? Tentu tidak ada alasan pada manusia selain dari kasih Allah semata. Paulus mengatakan, “Karena anugerah Allah di dalam Kristus kita tidak binasa” (Rm 3:24; 6:23).

Free, but not cheap

Dietrich Bonhoeffer, teolog Jerman yang meraih gelar Ph.D. pada usia 21 tahun dari  University of Berlin, sangat menggumuli fenomena di atas. Dari pengamatannya di Jerman maupun ketika di Amerika ia melihat banyak hal yang tidak wajar terjadi dalam kekristenan. Ia melihat kekristenan yang semakin sekuler dan mengakomodasi tuntutan sosial daripada menaati Kristus, sehingga anugerah menjadi property umum. Tahun 1937 ia menulis buku “The Cost of Discipleship,” yang mengulas tentang “anugerah yang murah atau anugerah yang mahal” (“cheap grace or costly grace”). Ia mengaskan “anugerah yang murah adalah musuh gereja yang mematikan, kita berjuang hari ini untuk anugerah yang mahal, anugerah yang mahal adalah inkarnasi Kristus dan kematian-Nya di kayu salib (Fil. 2: 5-8). Baginya anugerah yang murah adalah mengkhotbahkan pengampunan tanpa tuntutan pertobatan, memberikan baptisan tanpa disiplin, melakukan perjamuan kudus tanpa pengampunan dosa. Anugerah yang murah adalah kekristenan tanpa pemuridan, kekristenan tanpa salib dan tanpa Kristus. Ia menegaskan bahwa tuntutan menjadi orang Kristen adalah menjadi murid Kristus berapa pun harganya (following Jesus at all costs), dan ia dieksekusi hukuman mati oleh Hitler karena memperjuangkan kekristenan.
Tuhan Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lk. 9:23). Salah satu tuntutan dan kualitas tertinggi yang diharapkan Yesus dalam ayat tersebut pastilah berbicara tentang kekudusan dan hal ini ditegaskan dalam Ibrani 12:10: “Sebab ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya”. Sinclair Ferguson (1985) dalam bukunya “A Heart for God,” mengatakan: “Kekudusan Allah mengajarkan kita bahwa hanya ada satu cara untuk berhadapan dengan dosa – secara radikal, serius, menyakitkan, konstan. Bila engkau tidak hidup demikian, engkau tidak hidup di hadirat Dia yang Kudus dari Israel.” Harga yang harus dibayar untuk menjadi orang Kristen “KTP” pasti murah sekali, namun Alkitab menegaskan: “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” 1 Yoh. 2:6.
Sejatinya yang gratis tidak berarti murah (free, but not cheap) dan gratis hanya berlaku bagi kita yang menerima penebusan tetapi harus dibayar oleh Kristus dengan pencurahan darah yang mahal di kayu salib. Haleluya!

Komentar

Top