Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Muda Berprestasi

Stefanus Lie, Ukir Prestasi Di Olimpiade Matematika

Posted : 27 Oktober 2010
setelah-penerimaan-medali.jpg

Stefanus Lie, Siswa SMAK I Penabur, Jakarta3

Reformata.com - MESKI terasa lelah penerbangan lima  jam dengan pesawat  Turkish Air lines dari Turki menuju Almaty, dan selanjutnya 3 jam dari Almaty menuju Astana, Kazakhstan, 5 Juli 2010 (tiba pukul  8 malam waktu Kazakhstan), senyum sumringah Stefanus Lie tak pernah memudar. Hal ini tentu  bukan semata lantaran dia sudah menginjak negeri  Kazakhstan, namun terutama dambaannya kembali mengikuti kompetisi tingkat internasional terwujud. Siswa kelas 2 SMAK I Penabur,Tanjung Duren, Jakarta Barat ini, adalah salah satu dari 6 peserta mewakili Indonesia mengikuti kompetisi Olympiade Matematika Internasional yang diselenggarakan pada 7-8 Juli 2010.
Malam pertama di Kazakhstan, Stefanus dan kelima rekannya nginap di Hotel Duman, di pusat Kota Astana. Besok paginya, Selasa, 6 Juli 2010, selama 3 jam mereka mengikuti opening celebration kompetisi tersebut yang berlangsung di Independen Hall, Astana, yang dibuka oleh Menteri Pendidikan Kazakhstan.
Usai opening celebration, Stefanus dan kawan-kawannya diantar menuju asrama Baldauren, sebuah tempat yang terletak di pinggir kota. Di tempat inilah mereka melaksanakan perlombaan selama dua hari. Jumlah peserta yang mengikuti perlombaan 600-an orang itu berasal dari kurang lebih 100 negara.
Peserta lomba dibagi dalam tiga ruangan, setiap ruangan terdiri dari 200 orang. Setiap hari tes terdiri dari tiga soal. Untuk tiga soal durasi waktu yang dibutuhkan hanya 4,5 jam. Soal-soalnya berupa pemecahan masalah. Jumlah 6 soal tersebut mencakup 4 bidang materi, antara lain: Aljabar, Teori Bilangan, Geometri, dan Kombinatorik. 
Sambil menunggu pengumuman hasil perlombaan, selama tiga hari, tanggal 9–11 Juli 2010, Stefanus dkk melepas lelah, selain menikmati tempat-tempat bersejarah di sekitar Astana, juga nonton konser dan balap kuda di sana.
Tanggal 12 Juli 2010 hasil perlombaan pun diumumkan. Nama Stefanus Lie disebut sebagai peraih perunggu. Sebuah prestasi luar biasa disandang anak Indonesia terlukis di Kazakhstan. Kebahagiaan pun tersembul dari wajahnya meski diakuinya hasil itu sebenarnya bukan targetnya. “Target saya dapat emas,” ujarnya. Hanya saja, aku dia, saat mengerjakan soal-soal tersebut kurang maksimal karena beberapa faktor tak terduga sehingga medali emas pun tak tergaet olehnya.
Meski demikian, meraih perunggu dalam perlombaan Matematika di tingkat internasional sudah termasuk prestasi yang sangat memuaskan dan membanggakan. Tak heran, saat kembali ke Tanah Air, di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu, 17 Juli 2010, Stefanus disambut gembira oleh anak sekolah seluruh Indonesia, yang diwakili oleh beberapa pejabat Depdiknas, serta didampingi kepala Sekolah SMAK I Penabur, Tanjung Turen.  

Lolos seleksi
Menuju Olympiade Matematika di Kazakhstan bukanlah perjuangan mudah. Beberapa kali Stefanus mengikuti tahap seleksi yang dilakukan di Indonesia. Seleksi awal dilakukan pada saat pehobi catur dan olahraga lari ini mengikuti perlombaan Olympiade Sains Nasional (OSN) pada 2-8 Agustus 2009 yang diselenggarakan Depdiknas, di Jakarta. Saat itu peserta 120 orang. Yang mendapat medali hanya 30 orang, dan Stefanus meraih medali perak.
Selanjutnya, Oktober 2009, siswa kelahiran Jakarta, 22 April 1994 ini dipanggil Depdiknas (juga termasuk peserta seniornya 10 orang yang pernah mengikuti olympiade serupa di mancanegara) untuk bersama-sama mengikuti seleksi tahap pertama di Yogyakarta, 13 Oktober sampai 13 November 2009. Dari peserta 40 orang, terpilih 14 orang, termasuk Stefanus.
Seleksi tahap kedua dilakukan di Malang, 12 Februari sampai 12 Maret 2010. Dari 14 peserta, terpilih 9 peserta, salah satunya Stefanus. Selanjutnya, seleksi tahap ketiga dilaksanakan di UI Depok (25 April sampai 25 Mei 2010). Hasilnya terpilih 6 orang yang dipastikan berangkat ke  Kazakhstan. Salah satunya Stefanus.
Setelah itu, Stefanus dan kawan-kawannya mengikuti simulasi matematika di Bandung, 7–31 Juni 2010. Simulasi soal matematika dibuat semirip mungkin dengan soal-soal IMO (Internasional Mathematics Olympiade). Kemudian 1 Juli 2010, Stefanus dan kawan-kawan dipanggil ke Kantor Depdiknas untuk mendapat arahan dari Menteri Pendidikan RI M. Nuh. Sejak 1 Juli sampai 3 Juli, mereka menginap di Cilandak, Jakarta Selatan dalam rangka persiapan menuju Kazakhstan.

Cepat paham
Stefanus, remaja imut dan periang. Pembawaannya terlihat santai, tapi siapa sangka kalau dia tergolong anak  jenius. Dia memiliki potensi berfikir (menalar) dan menghitung yang luar biasa. Rumus-rumus hitungan yang diajarkan gurunya di sekolah, dengan cepat dipahaminya. Tak heran setiap soal-soal matematika atau hitungan dapat dia selesaikan dengan mudah.
Kejeniusan putra tunggal Jimmy dan Sukiana ini, tidak hanya karena kemampuannya yang cepat menyelesaikan soal matematika dengan rumusan baku sebagaimana diajarkan guru, tapi terutama pada kemampuannya menemukan metode-metode baru dalam menyelesaikan soal matematika. Metode yang ditemuinya akurat, efektif, dan tepat.
“Hingga kini, metode atau rumusan baru itu belum dinamakan. Soalnya, terkadang konsep rumusannya bisa berubah mesti harus menyelesaikan satu bentuk soal matematika yang sama,” tutur Stefanus.
Karena kemampuannya ini, Stefanus dijuluki si “cabe rawit” karena postur tubuhnya  kecil tapi otaknya sangat cerdas. Ada pula yang menyapanya sebagai “kalkulator hidup” karena sering menyelesaikan soal matematika tanpa kalkulator tapi kemampuan otak. Bahkan dia bisa lebih cepat dari kalkulator. Alasannya, “karena kalau menggunakan kalkulator berarti kita harus mencari kalkulatornya dulu, melihat dan memencet tombol angka yang diinginkan, dan seterusnya”.  Stevie Agas

78
39 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.3854 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net