CLOSE
REFORMATA.COM
YouTube Facebook Twitter RSS

Khotbah Populer

Menang Atas Pencobaan

| View : 1681

. Bersama

Pdt. Bigman Sirait

DALAM Matius 4:1-11 dikisahkan tentang Yesus yang dibawa Roh Kudus ke padang gurun untuk dicobai iblis. Kalimat ini sekilas kedengarannya tidak enak. Pasti ada tersirat pertanyaan di benak kita: Lho, kok Yesus dibawa untuk dicobai? Mestinya Roh Kudus itu datang bukan untuk mencobai, tetapi untuk memberkati, menghibur, memberi tahu. Oleh karena itu mari kita lihat Alkitab itu secara keseluruhan, jangan sepotong demi sepotong, yang akhirnya bisa berbenturan dengan ayat lain. Misalnya, jika kita mengatakan bahwa Allah tidak pernah mencobai, maka urusan jadi repot, sebab Allah mencobai Abraham dalam Kejadian. Sekarang Roh mencobai Yesus.

Pencobaan dalam bahasa Ibrani bisa berkonotasi positif dan negatif. Mencobai, dalam arti positif adalah ujian. Sedangkan arti negatif adalah untuk menjatuhkan. Mencobai dalam pengertian negatif adalah sesuatu perangkap. Jadi dalam terminologi Ibrani, kalau dikatakan Yesus dibawa Roh Kudus, tidak ada yang salah. Tetapi pencobaan ini sebenarnya untuk menunjukkan kepada dunia kemampuan luar biasa Yesus Kristus dalam hal ketaatan pada Allah. Bagaimana DIA memelihara sebuah panggilan dalam diri-NYA, ketika dia memainkan peran di dalam kemanusiaan-NYA sebagai anak Allah, sebagai hamba Allah, sebagai Anak Manusia.

Maka ketika dikatakan, “Yesus dibawa Roh ke padang gurun untuk dicobai”, jangan berpikiran negatif, tetapi justru kita harus melihat bagaimana Roh Kudus memimpin kita di tengah-tengah kehidupan. Sehingga apa yang kita bicarakan, apa yang kita lakukan menjadi sesuatu yang mengejutkan bagi dunia. Oleh karena itu, yang perlu kita sadari pertama-tama adalah bahwa ketika kepahitan, kesedihan, pencobaan itu datang, jangan lupa, bisa jadi Roh Kudus yang membawa kita ke sana, supaya bisa mengukur diri apakah kita mampu melewatinya.

Jadi, iman Kristen itu tidak mungkin bertumbuh tanpa proses yang mewarnai perjalanan iman itu sendiri. Namun proses itu bisa disebut pasang-surut, tikung kiri kanan, jatuh-bangun, mengalami goncangan yang membuat orang tiba pada satu titik yang jelas untuk menemukan kesejatian, kekuatan, kemenangan. Oleh karena itu, tidak menjadi penting apakah kita masuk atau tidak masuk ke dalam pencobaan. Tapi siapa yang membawa kita ke dalam pencobaan, itulah yang penting.

Sebab ada kalanya hawa nafsu kitalah yang membawa kita ke sana. Jika ini yang terjadi maka urusan jadi beda lagi, sebab bukan Roh Kudus yang membawa kita ke dalam pencobaan, tetapi hawa nafsu, diri, keputusan kita sendiri. Kalau ini yang terjadi hancurlah kita, sebab kita sudah mencobai Tuhan. Kita gambling untuk melakukan sebuah tindakan, dan akhirnya kita hancur, karena memang pencobaan itu tidak pernah didisain Tuhan untuk kita, tetapi kita menciptakan sendiri cobaan itu dan menjadi lubang yang menjerumuskan kita sendiri. Maka jangan mencobai Tuhan, sebab kita akan rontok. Kita seharusnya bergantung kepada ketetapan Tuhan, melakukan apa yang diperintahkan Tuhan.

 

Sebatas kemampuan

Kenapa? Karena setan tidak akan pernah diam. Dia akan terus mencoba menawarkan berbagai argumentasi yang menarik supaya manusia berbuat dosa. Dan untuk mengesahkan tindakannya itu, manusia membuat tindakan itu seperti beriman dan kristiani. Dia berdoa atas tindakannya, padahal itu salah. Orang yang terjebak dalam lakon seperti ini disebut telah mencobai dirinya. Orang-orang ini bisa merencanakan sebuah dosa, tetapi dibuat samar dengan doa-doa sehingga kelihatannya kristiani.

Orang-orang seperti ini bisa ada di ruang ibadah, tetapi sudah menjorokkan dan menajiskan dirinya di dalam jerat topeng kemunafikan. Ia sedang mencobai Tuhan. Tetapi ia akan hancur dalam pencobaan-pencobaan yang dia ciptakan sendiri itu. Jika sudah hancur karena ulah sendiri, jangan bilang bahwa setanlah yang membawa ke dalam pencobaan, dan setan itu kuat. Omong kosong. Yang kuat itu hanya Tuhan, bukan setan. Kalau kita gagal dalam pencobaan, itu karena kita sendiri yang lemah, bukan karena setan yang kuat. Kita kalah karena tidak mau berpegang kuat pada Tuhan. Jika kita berpegang kuat pada Tuhan, DIA menjamin kita menjadi kuat selama kita berpegangan pada tangan yang kuat itu. Sebaliknya, jika tidak bergantung pada-NYA, maka kita tidak akan pernah kuat, kita akan cenderung lemah, rontok, hancur.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kita memerlukan kesadaran yang utuh bahwa Roh Kudus bisa membawa kita ke dalam pencobaan, tetapi diri kita sendiri juga bisa membawa kita ke dalam pencobaan. Dan seperti dikatakan di depan, jika kita yang membawa diri sendiri ke dalam pencobaan, maka hancurlah kita. Tetapi berbeda dengan Roh Kudus yang mencobai kita melebihi batas kemampuan kita. Sementara pencobaan yang kita ciptakan, pasti melewati batas kemampuan kita. Tetapi pencobaan yang datang oleh ijin Tuhan tidak ada yang melebihi batas kemampuan, sebab pencobaan itu sebagai proses pengujian menuju pada pertumbuhan iman yang sejati.

Bagi saudara yang mengalami kesulitan, kepahitan, kegetiran dan kesendirian, demi Tuhan yang hidup, belajarlah keluar dari permasalahan dengan berteriak kepada Tuhan, meminta kekuatan. Percayalah pasti dengan kuasa-Nya, Dia akan memenuhi seluruh warna hidup kita. Dan kita pun akan hidup memuji dan memuliakan DIA, Allah yang ajaib itu.ć

(Diringkas dari kaset Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)

0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201420132012201120102009200820072005
  • vita-pudding.jpg
Mata Hati
ilustrasi pendeta.jpg
Menapak tilas pelayanan Mikha bin Yimla, sang nabi yang sendirian karena mengatakan kebenaran, sangatlah menarik. Dalam rencana penyerbuan raja Aram untuk ..
Konsultasi Teologi
Hikmat Allah dan Hikmat Manusia.jpg
Pdt. Bigman SiraitFollow Twitter bigmansiraitBapak Pengasuh, Saya ingin bertanya perihal hikmat Allah dan hikmat manusia.1. Apa maksudnya hikmat Allah dan ..
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2014 Tabloid Reformata. All rights reserved .
Online Support :
X