Reformata Tabloid - WALAU siang itu matahari begitu terik, namun senyuman tidak pernah lekang dari wajah Agus Suparno. Rambut pria ini mulai memutih dihiasi goresan keletihan di wajahnya. Semen-tara sang istri, Tumiani, yang menggendong buah hatinya, tetap bersikap ramah, walau kecemasan tak dapat disem-bunyikan dari wajahnya.
Pasangan suami-istri ini, harus dapat menghadapi kenyataan kalau anak ketiga mereka, Michael Denis Antonio harus dioperasi, karena dinding jantungnya mengalami kebocor-an. Biaya ratusan juta rupiah yang harus disiapkan, bahkan jaminan keselamatan Michael yang riskan, menjadi pergumulan yang tak henti bagi pasangan ini.
Kehadiran Michael tidak pernah direncanakan apalagi diimpikan. “Saya baru tahu kalau saya sudah hamil 3 bulan. Jarak 20 tahun antara Michael dengan Dewi Diansari, sang kakak, menjadi renggang waktu yang tidak pernah terpikirkan oleh kami. Tapi kami harus menerima, karena ini pemberian dan kepercayaan Tuhan untuk kami,” ungkap ibu 3 anak ini pasrah. Ketiga anak itu adalah Oky Aditya, Dewi Diansari—keduanya mahasiswa—dan kini Michael.
Pemberian Tuhan
Tepatnya 27 Mei 2010, pukul 00.03, melalui operasi sesar, lahirlah Michael Denis Antonio. Dengan berat badan hanya 1,7 ons. Ada kelainan pada jantungnya dan harus di-echo. Selama 17 hari, Michael harus dirawat di inkubator, sementara Ani, sang ibu, harus dirawat selama 7 hari di rumah sakit.
Tibalah saatnya mereka diperbolehkan pulang ke rumah. Namun setelah di rumah terjadi hal yang sangat mengagetkan, karena tubuh Michael mulai membiru, bahkan tidak ada nafas lagi. Ketakutan menyelimuti Ani saat itu. Michael segera dilarikan ke rumah sakit kembali. Kejadian ini terjadi berulang 2 kali. “Tuhan masih memberikan kehidupan untuk Michael,” ungkap Ani berbinar. Dokter yang merawat mengatakan bahwa kebocoran dinding jantung Michael akan terus bertambah, sejalan dengan usianya. Sang dokter mengatakan bahwa Michael harus dioperasi.
Pergumulan itu terasa menyesak. Michael kecil yang lemah, namun harus mengalami penyakit yang berat. “Sekolah ada ujian, maka kami juga harus diuji. Michael sebagai ujian, untuk kami sekeluarga. Saya lebih sabar dibanding istri. Ini anugrah Tuhan,” urai pelayan GKI Kedoya ini memaknai pergumulan yang terjadi.
Hal senada dipersaksikan Ani: “Kami harus lebih banyak berdoa, melalui sakitnya Michael. Saya juga merasa, suami saya benar-benar mengalami banyak perubahan. Dia menjadi lebih sabar, jauh dari temperamen sebelumnya, yang suka meledak-ledak. Michael, malaikat keluarga kami,” tambah Ani dengan senyum.
Kebutuhan pengobatan dan perawatan Michael, membutuh-kan banyak dana. Agus Suparno hanyalah pegawai di GKI Kedoya, yang bertugas melakukan pekerjaan umum. Sebaliknya Ani, membantu di klinik gigi gereja juga. Pendapatan mereka yang tidak seberapa, tidak mungkin cukup untuk kebutuh-an dana Michael yang berkisar ratusan juta. Namun, Tuhan mencukupkan hal mustahil ini melalui aksi kasih GKI Kedoya. Dana itu disiapkan, dengan menggelar konser amal Dana Charitas dari jemaat untuk jemaat.
Suparno telah melayani selama 25 tahun di GKI Kedoya. Kehidupannya bersama keluarga, sangat diperhatikan oleh gereja, dan itu bukti pemeliharaan Tuhan. Mulai dari tinggal di gereja, kemudian mengontrak, dan kini bisa memiliki rumah sederhana milik sendiri. Semua itu didapat dari hasil kerja di gereja.
Pendidikan kedua anaknya, sejak dari taman kanak-kanak (TK) hingga universitas juga di-support gereja. Kini Oky Aditya, anak pertama kuliah semester 7 di Universitas Kristen Krida-wacana (UKRIDA). Anak kedua, Dewi Diansari duduk di semester 3, Budiluhur. Hidup mereka berlimpah dengan pemeliharaan Tuhan yang nyata. Tuhan terus menopang kehidupan Parno dengan kecukupan yang ajaib.
Rahasia hidup
Di usia yang ke-51 tahun, Parno menikmati jejak kasih Tuhan yang terus menyertainya. “Jaminan Tuhan Yesus ya dan pasti, ini yang membuat saya terus kuat,” urai Parno.
Parno dan keluarga pun dapat mengingat masa-masa sulitnya. Ketika tidak ada makanan, hanya segenggam beras yang dapat dijadikan bubur untuk makanan anak. Ketika sang istri belum percaya kepada Kristus. Itu dulu pergumulan panjang yang telah terlewati. Semuanya membekas dengan kenyataan, Tuhan selalu menolong dan memberi keajaiban melalui setiap peristiwa.
“Awal saya menjadi Kristen, karena tertarik dengan kehidupan kaum ibu di gereja kami. Mereka kaya, namun menganggap semua orang sama. Mereka baik dan penuh perhatian. Ketika saya percaya Kristus, hidup saya lebih ada kedamaian,” kisah wanita berusia 41 tahun ini, dengan pancaran mata kebahagiaan.
Tak terlupakan proses berarti yang menumbuhkan kekuatan berumah tangga. Menghadapi karakter suami yang temperamental, Ani sempat putus asah dan tak berdaya. Sahabat-sahabat gereja terus memberi perhatian, doa, dan dukungan, yang benar-benar menguatkan Ani. Jawaban doa itu diberikan Tuhan, kini, melalui kehadiran Michael serta perubahan Parno.
“Kami percaya kepada Tuhan Yesus, Apa pun yang terjadi kami harus bersyukur menghadapinya. Pertolongan Tuhan luar biasa. Persoalan yang tersulit, Tuhan pasti beri jalan keluar,” pesan Parno dan Ani.
Kisah keluarga Parno penuh dengan kemurahan Tuhan. Dalam kekurangan dan pergumulan mereka, semua terlewati dengan sukacita. Gereja menjadi perpanjangan kasih Tuhan yang nyata. Hidup memang sulit, namun janji Tuhan selalu ditepati. Dia menyertai anak-anak-Nya yang tetap berharap dan hidup di dalam Dia.Lidya