Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suluh

Judy Ann Gaskin, Kemajuan Gereja Dan Bangsa Dimulai Dari Anak

Posted : 01 Desember 2010

Reformata Tabloid - JUDY Ann Gaskin, wanita kelahiran Alabama-USA, 30 November 1946, terpanggil melayani di Indonesia sejak April 1972.

Membangun pelayanan anak adalah awal kecintaan yang membentuk Judy mencintai Indonesia, lebih dari tanah kelahirannya. Apa yang melatari Judy untuk tetap setia melayani di Indonesia? Bagaimana Judy melewati setiap proses pelayanan? Apa yang menjadi konsen utama Judy, untuk panggilan pelayanan di Indonesia?

Latar belakang
Judy dibesarkan dari keluarga miskin di Amerika. Di usia 13 tahun, Judy harus kehilangan ibu yang dicintainya. Kesulitan hidup yang menekan, membuat Judy harus bekerja keras demi mengurusi ke-3 adiknya. Judy berperan sebagai pengganti ibu dan tetap bersekolah. Di tengah ketegaran dan kegigihannya, rasa kecewa pun berderet panjang, melihat ayahnya yang menjadi pecandu alkohol. Kehidupan yang menekan, membuat Judy dan keluarga sangat jauh dari pertemuan rohani atau gereja.
“Sebelumnya saya percaya Tuhan menciptakan saya, tapi saya tidak lagi tertarik pada-NYA, sejak Dia mengambil ibu saya. Hidup saya menjadi sangat sulit, saya marah pada-NYA,” ungkap Judy mengenang masa-masa sulit waktu itu.
Titik balik
Di usia 15 Tahun, Judy dan keluarga pindah ke Florida Selatan. Di sanalah Judy menemukan sebuah gereja yang penuh perhatian, menyadarkan Judy akan Tuhan. The Christian and Missionary Alliance adalah gereja yang telah menolong pertumbuhan rohani Judy. Titik balik yang menggetarkan Judy untuk mencintai Tuhan dan firman-NYA.
“Saya ingin menjadi misionaris, tapi apakah Tuhan mau pakai saya? Latar belakang hidup saya yang miskin, ayah pemabuk,” kisah Judy tentang impiannya waktu itu, kala ada seorang misionari Afrika yang memberi kesaksian pelayanan.

Tuhan mengubah kehidupan Judy dan impian itu semakin nyata dirangkulnya. Judy selalu merindukan pertemuan-pertemuan di gereja, dan persekutuan-persekutuan lainnya. Alkitab selalu dibawa ke sekolah, untuk dibaca  saat-saat khusus. Perubahan-perubahan yang mengejutkan terus mengikuti Judy. Judy akhirnya dapat menyelesaikan SMA, dan melanjutkan ke universtas teologi.
Saat-saat kuliah, Judy melakukan pelayanan mingguan dan memilih melayani di lembaga pelayanan anak. Mengajar anak sambil tetap kuliah, adalah hal berikutnya yang dilakukan Judy. Ternyata, semua ini membentuk kecintaan yang mendalam untuk Judy dapat melayani anak.
Mulai dari anak       Kehadiran Judy di Indonesia merupakan utusan dari The Christian and Missionary Alliance. Awal yang tidak terpikirkan, karena seharusnya ke Vietnam. Kondisi perang di tahun 1960-an membuat banyak misionari yang mati terbunuh, akhirnya Judy diutus ke Indonesia.
Panggilan untuk melayani akhirnya menghantar Judy, untuk datang ke Indonesia. Saat itu, sosok wanita berusia 26 tahun ini, mem-bangun fokus keha-dirannya melalui pelayanan anak.
“Pelayanan anak ternyata bukan hal yang menarik dan bukan menjadi perhatian utama gereja saat itu,” kenang Judy. Hal ini berpengaruh dalam respon team untuk kehadirannya di Indonesia, “Tuhan yang memanggil saya. Dia, pembelaku,” tambah Judy yakin, walau sesungguhnya merupakan kesedihan awal karena dirasakan tidak dibutuhkan di Indonesia.
Awal yang menggoncangkan, namun pimpinan Tuhan tidak pernah salah. Judy dapat menemukan panggilan terdalam untuk Indonesia. “Ada jutaan anak di Indonesia yang  belum mengenal Yesus. Kalau kita mau mempengaruhi Indonesia ke depan, kita harus mulai dari anak. Kalau dia sudah kuliah, sudah terlambat, karena yang kita didik sekarang kemudian hari akan menjadi seorang bupati, camat, pendeta, guru sekolah Minggu atau pemimpin lainnya. Harus ada regenerasi terus-menerus. Mereka adalah tiang gereja, masa depan gereja dan bangsa.” tandas Judy optimis.
Kecintaan akan anak menjadi kekuatan yang mengobarkan Judy untuk terus melayani. “Gereja yang memperhatikan pelayanan anak maka pasti gerejanya berkembang,” pesan Judy penuh makna.

Kiprah pelayanan
Melewati perkampungan, dari satu daerah ke daerah lain, dilakukan Judy untuk memperkenalkan pelayanan anak. Mempersiapkan pelayan anak/guru sekolah Minggu yang kompeten untuk melayani Anak, dilakukan mantan dosen Jaffray Theological Seminary ini, penuh semangat.
“Saya percaya kita diselamatkan untuk melayani. Bagaimana kita bisa meperlengkapi anak-anak Tuhan untuk melayani, bukan berdasarkan pendidikan, bakat, karunia. Di mana ada kemauan di situ ada jalan,” lagi-lagi pengurus Good News Camp grounds ini, tak hentinya memberi semangat agar banyak orang dapat melayani anak.
Tuhan melengkapi Judy untuk membuka klub-klub pelayanan anak di berbagai tempat bersama tim. Menemui mereka yang jauh dari kota, dengan pendidikan yang terbatas, namun penuh antusias melayani. Di sinilah Direktur nasional Awana ini, hadir memberi inspirasi.
Judy mengasihi anak-anak dan berusaha memakai semua kemampuan yang ada, karena kehendak Allah yang mengutusnya. “Ada peserta yang jalan kaki beberapa hari untuk pelatihan di Papua. Pengorbanan mereka yang mendorong saya. Tidak pernah ada orang yang hadir, yang menolak pelayanan anak. Semangat mereka setelah belajar, mata mereka mulai terbuka untuk melayani. Itu yang membuat saya semangat melayani,” kisah pengurus Sunday School Leadership Training ini. Lidya
    


54
63 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.3995 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net