Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Peluang

Ivan Saragih Sumbayak, Menjadikan Kelemahan Bisnis Sebagai Kekuatan

Posted : 01 Desember 2010
Ivan-Saragih-Sumbayak,-Menjadikan-Kelemahan-Bisnis-Sebagai-Kekuatan.jpg
Ivan Saragih Sumbayak

Reformata Tabloid - PERNAHKAH Anda berpikir bahwa sebesar apa pun gaji tidak memberikan kepuasan. Secara finansial kebutuhan Anda dapat terpenuhi namun belum puas dan selalu merasa tidak cukup.

Akhirnya Anda menemukan bahwa diri Anda tidak begitu nyaman dengan peker-jaan Anda. Situasi itu membuat  Anda memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan, lalu mencoba menggeluti pekerjaan baru di perusahaan yang berbeda dengan suasana yang berbeda, bahkan mungkin dengan gaji yang lebih besar dari gaji anda sebelumnya.
Mungkin situasi semacam itu pernah dialami oleh pria muda Ivan Saragih Sumbayak ini. Begitu lulus kuliah, Ivan langsung mendapat pekerjaan di perusahaan swasta. Tidak lama kemudian ia menerima tawaran pekerjaan baru yang dianggapnya lebih menjanjikan. Ia menerima pekerjaan tersebut tentunya selain karena tawaran gaji yang lebih besar juga adalah suasana kerja baru yang dianggap dapat mengusir kejenuhan. Hal ini berlangsung berulang-ulang dan membuat ia beberapa kali pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain.

Sampai pada suatu ketika ia menemukan bahwa tidak ada yang salah dengan jenis pekerjaannya. Ia menilai justru kejenuhan tersebut terjadi  karena sebagian besar perusahaan memiliki sistem kerja yang tidak jauh berbeda. Jam kerja yang sama, cara kerja yang hampir serupa, dan aturan kerja yang juga tidak terlalu berbeda antara satu dengan lainnya. Ia merasa bahwa di usia muda ia masih memiliki banyak kreativitas. Menurutnya berwiraswasta adalah sebuah cara di mana seseorang dapat mengembang-kan ide-ide sendiri. Hingga 2009 ia memutuskan untuk menjalankan usaha. Dia sebagai pemimpin dan tentunya ia juga menentukan sistem kerja dan cara kerja sesuai dengan kreativitasnya ini.

Ia berpikir bahwa dia harus menjalankan sebuah usaha yang tidak pernah berhenti dibutuhkan  masyara-kat: usaha bengkel motor. Menurutnya bengkel motor adalah sebuah penyediaan jasa, dan bisnis penyedia jasa adalah sebuah usaha yang tidak akan pernah berhenti dibutuhkan oleh masyarakat. Ia memilih bengkel motor, bukan mobil, itu pun bukan tanpa alasan. Ia sangat mempertimbangkan betul, apakah jenis usahanya nanti memiliki market atau tidak. Lewat pertimbangan tersebut, ia sadar betul bahwa daya beli sebagian besar masyarakat belum begitu besar. Jadi sebagian besar masyrakat hanya memiliki motor.

Dalam perjalanan usahanya ia merasakan perbedaan antara menjadi karyawan swasta dengan  wira-swasta. Saat menjadi karyawan, ia harus mengikuti aturan dan ia memperoleh gaji dari apa yang ia kerjakan, selain itu sebagai karyawan tentunya tidak bisa menentukan berapa banyak income yang ingin diperoleh. Sedangkan sebagai wiraswasta dia bisa mengatur cara kerjanya sendiri, dengan kreativitas sendiri dan tentunya bisa membuat cara untuk membuat sebuah pekerjaan tidak  monoton.
 Secara finansial pekerjaannya saat ini jelas berbeda dengan pekerjaannya sebagai karyawan swasta. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa hal ini haruslah didukung dengan bagaimana cara memanage usaha tersebut. Jika manage yang dilakukan tidak baik, maka hasil yang dihadapkan pun tentunya tidaklah maksimal. Salah satu cara mengatur usaha ini menurutnya adalah memiliki strategi tersendiri untuk dapat terus menjalankan kegiatan usahanya.

Strategi pertama yang ia lakukan adalah dengan menjadikan kelemahan sebagai sebuah kekuatan. Kelemahan yang ia maksud adalah bahwa jenis usaha semacam ini sudah sangat banyak, bahkan mungkin pada lokasi yang berdekatan, jenis usaha serupa bisa dikatakan menjamur. Kekuatannya adalah ia membuat sedikit perbedaan dengan penyedia jasa serupa. Perbe-daan tersebut ia lakukan dengan me-nekan keuntungan sebesar mungkin namun tidak merugi serta membuat bagaimana pelanggan memiliki rasa nyaman dan percaya terhadap beng-kelnya. Dengan menekan keuntung-an itu  ia menyediakan jasa servis dan harga suku cadang semurah mungkin namun tetap memperoleh untung tentunya. Memberikan rasa nyaman dan percaya terhadap pelanggan ia lakukan dengan menekankan pelayan-an yang maksimal kepada pelanggan. Selain itu ia melengkapi bengkelnya dengan berbagai alat pendukung yang mempermudah pekerjaan di bengkelnya. Terpenting dari semua itu adalah mempekerjakan mekanik-mekanik yang berpengalaman di bidangnya.

Pria yang bergelar sarjana ekonomi ini pun tidak segan-segan melakukan pekerjaan seorang mekanik. Sejak awal menekuni pekerjaan ini ia berusaha untuk belajar dan melakukan pekerjaan yang menurutnya bisa dilakukannya. Hal ini dilakukannya agar suatu waktu ia dapat mengetahui sejauh mana sebuah pekerjaan dilakukan oleh anak buahnya. Itu pun tentunya cukup membantu kalau-kalau suatu hari banyak pelanggan yang datang untuk dilayani. Ia pun mengaku bahwa setiap mekanik yang bekerja di bengkelnya diijinkan untuk mengembangkan kreativitas mereka. Artinya siapa pun dapat melakukan modifikasi cara kerjanya masing-masing, selama itu baik untuk mesin yang dikerjakannya dan tidak berisiko.

 Saat ini dengan lima orang karyawan yang terdiri dari mekanik dan administrasi, Iwan  memperoleh penghasilan Rp 500 ribu setiap hari. Khusus Sabtu dan Minggu penghasilan bisa mencapai Rp 1 juta. Ia mengungkap bahwa untuk memperoleh seuah hasil kerja yang maksimal, suasana kerja harus dibuat senyaman mungkin. Untuk itu ia berusaha memberikan rasa nyaman kepada setiap pekerjanya dengan melakukan pendekatan secara kekeluargaan.  Jenda Munthe

41
36 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 2.5734 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net