Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Opini

Obama Peringatkan Indonesia

Posted : 06 Januari 2011
Barack Obama.jpg

Obama tak hanya bernostalgia, tapi juga memperingatkan Indonesia akan jati dirinya dan potensinya bagi perkembangan dunia.

SETELAH dua kali menunda,  akhirnya Presiden Amerika  Serikat Barack Obama berkunjung ke Indonesia juga. Kunjungannya terbilang singkat, hanya 18 jam, jauh lebih singkat dari rencana semula karena khawatir akan abu gunung Merpati yang dapat menghalangi pener-bangannya ke Korea Selatan.
“Pulang kampung nih,” kata Obama setelah mengucapkan khas Indonesia yang disambut dengan tepuk tangan riuh dari lebih dari 6000 orang yang memenuhi Balairung utama Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Dalam kuliah umumnya yang disampaikan sejak pukul 09.30, Rabu (10/11) silam, Kepala Negara Negeri Paman Sam ini banyak bernostalgia tentang masa kecilnya di Indonesia. Tak hanya tentang kerinduan akan makanan khas Indonesia seperti emping, nasi goreng, tapi juga tentang ke-Indonesiaan yang juga menjadi nilai-nilai penopang dirinya seperti toleransi, penghormatan akan keberbedaan, kenyamanan hidup dalam keberagaman.


Sebagai orang yang telah mendapatkan manfaat dari nilai-nilai ke-Indonesiaan, Obama meminta seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih mengaktualisasikan kekayaan nilai Indonesia yaitu toleransi, pluralisme dan bhineka tunggal ika itu. “Semangat toleransi yang ditulis ke dalam Konstitusi; dilambangkan di masjid-masjid dan gereja dan kuil-kuil yang berdiri berdampingan satu sama lain; yang semangatnya terkan-dung pada Anda semua; Bhinneka Tunggal Ika - kesatuan dalam keragaman. Ini adalah dasar dari contoh Indonesia untuk dunia, dan ini mengapa Indonesia akan memainkan peranan penting dalam abad ke-21,” katanya diselingi tepuk tangan riuh hadirin. Tampak di barisan agak ke depan antara lain mantan Presiden Republik Indonesia BJ. Habibie.

Tiga hal besar
Sekurangnya ada tiga hal besar yang dikatakan Obama dalam kuliah umum itu. Pertama, Indonesia dinilai sebagai kekuatan ekonomi dunia baru. Itu terbukti dengan duduknya Indonesia di kelompok negara G-20. Kedua, Indonesia dinilai sukses menerapkan sistem demokrasi. Lain sisi, ia juga menuntut Indonesia untuk memainkan perannya untuk mendorong demokrasi di Asia Tenggara. Yang ketiga, ia memuji kerukunan beragama di Indonesia.
Oleh sebagian pengamat, Dewi Fortuna Anwar misalnya, pujian terakhir itu merupakan juga desakan bagi pemerintah Indonesia untuk sungguh-sunguh merealisasikannya. “Saat ini 'kan kita lihat ada begitu banyak gesekan antara umat beragama,” kata wanita yang baru dilantik sebagai Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Politik ini.
Dalam pidatonya, Obama juga menawarkan kemitraan secara menyeluruh. Ada sejumlah bidang yang kerja samanya bakal ditingkatkan, yaitu antara lain demokrasi, pendidikan, keamanan, perdagangan, investasi serta iklim. “Sekarang tinggal pandai-pandai kita memanfaatkannya,” ujar Dewi.

Semangat inklusif
Sebelum ke Universitas Indonesia, Depok, peraih hadiah nobel tahun 2009 ini menyempatkan diri berkunjung ke Masjid Istiqlal, Jakarta. Masjid ini, menurut Obama, menjadi simbol kebersamaan dan kesatuan masyarakat Indonesia. “Sebelum saya datang ke sini, saya mengunjungi Masjid Istiqlal - tempat ibadah yang masih dalam pembangunan ketika saya tinggal di Jakarta. Dan saya mengagumi menara yang membumbung tinggi dan kubah yang mengesankan dan ruang ramah. Tapi nama dan sejarah juga berbicara dengan apa yang membuat Indonesia hebat. Istiqlal berarti kemerdekaan, dan konstruksi yang berada di bagian bukti perjuangan bangsa untuk kebebasan. Selain itu, rumah ibadah bagi ribuan Muslim dirancang oleh arsitek Kristen,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.
Dia menyebutkan masjid ini sebagai roh Indonesia. “Tempat tersebut adalah pesan filsafat inklusif Indonesia, Pancasila. Di negara kepulauan yang berisi beberapa ciptaan Allah yang paling indah, pulau di atas samudra bernama perdamaian, orang memilih untuk menyembah Allah sesuka mereka. Islam berkem-bang, tetapi begitu juga agama lain. Pembangunan diperkuat oleh demokrasi. Tradisi kuno bertahan, bahkan meningkat.”

Peringatkan Indonesia
Artis papan atas Indonesia Agnes Monica menyambut pidato Obama sebagai peringatan buat Indonesia. “Dia bicara masalah kesatuan, tentang toleransi beragama, tentang bhineka tunggal ika. Itu luar biasa sekali. Itu merupakan reminder atau peringatan bagi bangsa Indonesia. Hal-hal itu bukan lagi menjadi sebuah isu, tapi harusnya menjadi sebuah kekuatan bagi kita,” katanya.
J. Kristiadi lebih menyoroti sosok Obama yang menurutnya adalah seorang pemimpin yang sangat berkarakter. “Dia selalu berani. Dia mengatakan bahwa dia lebih baik hanya sekali dipilih, daripada jadi mediocre (hanya pas-pasan). Dia mau agar kepemimpinannya itu sungguh-sungguh berarti dan signifikan.  Dia sadar, bahwa kalau dia terlalu berambisi untuk menjadi presiden untuk dua periode, maka setiap tahun dia harus berkam-panye untuk melakukan penci-traan terus menerus. Dan karena itu berpotensi mengorbankan kepentingan masyarakat,” urai pakar politik CSIS ini.
Pengamat politik Eep Saefullah Fatah, lebih tegas lagi meng-gariskan bahwa Obama sebe-narnya sedang mengingatkan kita akan apa yang seharusnya kita katakan. “Yang dia katakan itu bukan hal yang baru, tapi merupakan milik Indonesia sejak lama, sejak Indonesia lahir. Bahkan itu merupakan salah satu kharakter yang sangat pokok dari Indonesia. Tetapi mungkin kadang-kadang Indonesia perlu diingatkan dengan cara seperti ini,” kata tokoh muda Indonesia ini.


Ia mengatakan persetujuannya akan pernyataan Obama mengenai pembelaannya atas pembangunan Islamic Centre di Ner York. Dalam pidatonya Obama mengatakan bahwa sebagai Presiden Amerika Serikat, tugasnya adalah menjaga konstitusi dan konstitusi mengha-ruskannya bersikap seperti itu. “Menurut saya, ini pelajaran luar biasa penting bagi Indonesia. Karena di Indonesia, ujian konstitusi sedang terus berlangsung. Apakah pemim-pin mementingkan konstituen dan popularitas atau konstitusi?” ujar Eep.
Ditambahkan Eep, Obama juga menegaskan bagaimana bhineka tunggal ika harus mengikat Indonesia, bukan saja sebagai negara besar, tapi sebagai pembelajaran bagi dunia. Dan kalau kita tidak bisa menjadi negara besar dengan basis bhineka tunggal ika, tentu kita tidak punya kesempatan untuk memberikan pembelajaran bagi dunia.


“Jadi ketika kelompok minoritas agama di Indonesia misalnya merasa dilecehkan, merasa hak-haknya dilucuti, padahal mereka punya hak yang sangat tegas dijamin konstitusi, dan pemimpin tidak membela mereka secara tegas, melakukan berbagai pembiaran, maka pada saat itu, Indonesia menghilangkan karakter pokok-nya sebagai 'bhineka tunggal ika'. Kalau kemudian kita terus bersikap seperti itu, bagaimana mungkin kita bisa memberikan pelajaran yang besar bagi dunia. Obama seperti mengingatkan kita soal itu,” tegas Eep.
Menurut Eep, bangsa Indonesia kini merindukan pemimpin yang punya keberanian mengambil resiko. Ia mencontohkan, kalau ada sekelompok Islam kecil yang melakukan pengrusakan, tin-dakan melawan hukum, seorang pemimpin harus mengambil resiko meskipun simbol Islam dibawa dalam tindakan itu. “Nah, presiden yang tidak berani mengambil resiko tidak akan mengatakan apapun bila terjadi sesuatu yang penting. Kebe-ranian mengambil resiko itu seringkali tidak kita lihat di kalangan pemimpin kita,” katanya. Paul Makugoru.

68
103 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4326 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net