Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Kawula Muda

Grafity, Seni Atau Sampah?

Posted : 06 Januari 2011
55-grafity.jpg
Grafity
Reformata.com - KITA tentu sering melewati tembok di pinggir jalan yang  dipenuhi coretan atau lukisan berwarna-warni. Tidak banyak yang tahu arti dan makna coretan tersebut, terlebih jika tidak memiliki pengetahuan seputar tulisan tersebut. Jenis tulisan tersebut biasa disebut “grafity”. Coretan tersebut biasanya berbentuk gam-bar, nama kelom-pok, atau kata-kata yang isinya merupakan pesan dari si pembuat tulisan itu. Bagi beberapa seniman, coretan itu mengandung seni. Tapi bukan sedikit yang menilai coretan-coretan tersebut merusak dan mengotori lingkungan. Untuk itu sebaiknya kita kenali dulu grafity itu sendiri lebih dekat.

Aktivitas membuat coretan ini dikenal dengan istilah ngebom. Sedangkan pembuatnya iasa disebut bomber. Secara lazim istilah grafity dapat diartikan sebagai kegiatan seni rupa yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan kalimat tertentu di atas dinding dan media seni lainnya.  Sementara alat yang digunakan biasanya cat semprot kaleng atau pylox
Beberapa waktu yang lalu kelompok pemuda Jalan Mulia Kelurahan Bidaracina, Jakarta Timur bekerja sama dengan puluhan bomber dari berbagai wilayah di Indonesia untuk mengadakan acara penggalangan dana sekaligus ajang memperindah lingkungan. Acara yang dinamai Bomberist Fiesta 2010, Pray For Indonesia ini merupakan ajang untuk menyatukan para bomber dari seluruh Indonesia sekaligus wujud kepedulian warga serta para bomber terhadap para korban bencana. Acara ini  meng-gunakan tembok yang memanjang sepanjang jalan menuju Jalan Mulia dari pinggir Jalan Otista. Tembok sepanjang jalan inilah yang dijadikan wadah tempat para bomber menuangkan karya seninya.

Menurut Redon, salah satu tokoh pemuda di tempat ini, ia tak merasa keberatan dengan aktivitas para bomber yang mem-berikan nuansa warna pada tembok jalan di wilayah mereka. Ia mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan para bomber justru merupakan sebuah karya seni yang patut diberikan perhatian. Hal senada diungkapkan Rizal selaku koordinator penyelenggara kegiatan ini. Rizal mengaku bahwa ia bukan bomber, namun ia menyukai seni. Bagi Rizal ini adalah seni yang merupakan penyaluran kreativitas orang-orang muda. Jadi tetap ada unsur keindahan dari setiap coretan  para bomber.
Apa yang diungkapkan Redon dan Rizal di atas mungkin adalah pendapat sebagian orang yang memang telah mengenal grafity itu. Jadi tidak ada salahnya kita coba mengenali lagi lebih lanjut apa itu grafity. Menurut salah satu bomber, Wiwid, banyak orang yang menyebut grafity itu  art crime. Sebagian besar grafity memang dibuat tanpa ijin, karena itu grafity sering disebut mengotori. Ia pun tak mengelak saat dikatakan bahwa pro kontra mengenai nilai positif maupun negatif dari grafity itu terus berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Sepengetahuan Wiwid, grafity awalnya dipakai untuk menamai sebuah wilayah, kemudian berkem-bang menjadi gaya hidup beberapa anak muda. Istilah bomb sendiri pun ternyata ada maksudnya, istilah ini didapatkan dari sejarah awal terbentuknya komunitas ini. Menurut Wiwid, dulunya para pe-laku grafity meng-hancurkan tembok terlebih dahulu se-belum mencorat-coretnya. Proses penghancuran ini di-perlukan untuk mem-peroleh efek yang lebih baik dalam menghasilkan karya yang diharapkan dari si pelaku grafity itu sendiri. Karena itulah ada istilah bomb, dan karena hal tersebut pula istilah bomber diberikan kepada pelaku grafity tersebut.

Istilah tersebut terus dipakai hingga saat ini walau pun istilah baru seperti writer sudah mulai dikenal sebagai pengganti bomber. Pada era kini bomber yang ada sekarang tidak lagi menghancurkan tembok dalam membuat karyanya. Karya seni dan keindahan dapat diperleh dengan coretan yang memang dengan sendirinya telah memiliki makna.
Istilah-istilah yang dipakai dalam dunia grafity pun cukup beragam. Beberapa di antaranya adalah piece, character. Piece adalah bentuk dari tulisan-tulisan yang berisikan nama atau pun pesan, sedangkan character adalah coretan yang berbentuk gambar. Namun tetap saja inti dari grafity adalah piece atau tulisannya, bukan pada gambar. Gambar yang ada pada grafity digunakan sebagai pemanis dari coretan yang dibuat oleh seorang bomber.

Para bomber biasanya memiliki nama samaran yang dipakai sebagai nama pribadi atau pun nama kelompok. Terkadang nama dari kelompok-kelompok ini yang sering diartikan sebagai adanya identitas dari gank tertentu. Ini juga terkadang yang menjadikan citra dari grafity tersebut terkadang buruk.
Reputasi grafity di banyak pemerintah di dunia cenderung buruk, karena graffiti dituduh sebagai media yang paling frontal untuk menghujat atau pun mengkritik keras pemerintah. Walau pun kini banyak grafiti yang telah meninggalkan cara seperti itu, namun tetap saja pemerintah masih banyak yang tidak setuju dengan hal yang satu ini.  

Membicarakan graffiti dan politik maka tidak akan lepas dengan seorang tokoh yang bernama Alexander Brener. Ialah yang pertama kali membawa politik ke seni, dan ia jugalah yang pertama kali menyuarakan politik lewat media yang satu ini. Di Indonesia seni grafity masih dianggap sesuatu yang melanggar tata aturan, terkadang dianggap kriminal karena beberapa bomber tidak melihat keadaan setempat, waktu,dan situasi, sehingga melakukan coret-coretan pada sembarang tempat. Jenda Munthe

52
68 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4805 sec | TOP
Tags : Grafity
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net