Reformata.com - PERNAHKAH Anda berpikir bahwa apa yang Anda lakukan saat ini adalah sebuah pekerjaan yang semestinya dapat menghasilkan uang. Sebuah kegiatan yang Anda lakukan karena menyukainya saja, dan bukan demi orientasi materi semata. Terkadang Anda melakukan pekerjaan tersebut karena sekadar iseng, hobi, atau karena ketertarikan lain yang bukan tertuju pada materi. Atau Anda tidak menyadari bahwa apa yang Anda lakukan tersebut dapat memberikan profit tersendiri. Mungkin Anda bisa menyimak pengalaman kecil dari perempuan ini.
Ia seorang ibu dari lima anak yang sejak awal memang gemar memasak dan membuat kue. Kebiasaannya tersebut sudah cukup lama ia jalani. Bahkan karena kegemarannya tersebut ia sempat membantu kerabatnya yang berbisnis di bidang katering makanan khusus kue. Karena ia belum menganggap kebiasaannya tersebut sebagai sebuah aset yang dapat dijadikan profit, ia tidak pernah berpikir untuk membuka usaha sendiri. Ia hanya melakukan hal tersebut karena gemar membuat beraneka makanan, khususnya kue.
Karena kegemarannya tersebut, ibu bernama Rospita Harahap ini semakin dikenal kerabatnya sebagai orang yang dapat membuat ber-aneka kue dan masakan. Banyaknya orang yang mengenal keahliannya dalam membuat berbagai kue menjadi nilai lebih baginya. Sejak itu semakin banyak orang yang langsung memesan kue kepadanya. Setiap hari raya Lebaran dan Natal, selalu ada orang yang datang memesan kue kepadanya. Dari sinilah ia mulai menemukan bahwa kegemarannya tersebut dapat dijadikan sebuah pekerjaan yang menguntungkan. Dua tahun lalu ia memutuskan untuk memulai sendiri usahanya di bidang aneka kue. Walaupun ia bisa me-masak dan membuat beraneka kue, namun karena permintaan kue kering lebih banyak, ia pun mengkhususkan jasanya pada pelayanan pemesanan kue kering.
Dengan modal Rp 5 juta, ia memberanikan diri untuk memulai bisnis ini. Awalnya ia membuat 150 toples. Dibantu dua orang anak buahnya ia kini menyelesaikan berbagai pesanan yang datang padanya. Lama kelamaan bisnisnya ini berkembang. Awalnya hanya orang-orang yang mengenalnya saja yang memesan aneka kue kepadanya, perlahan orang yang memesan kue kepada perempuan kelahiran Sipirok, Tapanuli Selatan ini semakin banyak. Orang yang sebelumnya pernah memesan kue kepadanya menjadi agen pemasaran yang dengan sendirinya membantunya menjalan-kan bisnis ini. Semakin hari semakin banyak yang mengenalnya dan makin banyak pula orang yang memesan kue kepadanya.
Mulai dari kastengel, putri salju, nastar, kelok dan berbagai aneka kue kering lainnya menjadi sajian utama yang ia tawarkan. Satu orang pemesan bisa memesan sampai enam toples dalam sekali pesan. Untuk momen-momen hari raya seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru ia bisa mendapat pesanan dari hampir dua ratus orang. Ini bahkan tidak termasuk pemesan umum di luar jadwal hari raya. Untuk pemesan-pemesan di luar hari raya biasanya ia menggunakan strategi pemasaran lewat anggota keluarga yang bekerja di kantor-kantor swasta maupun negeri. Jadi tidak jarang ia mendapat pesanan dari kantor dimana anaknya ataupun anggota keluarga lainnya bekerja.
Dengan modal kecil Rospita mendapat untung yang cukup cukup lumayan jika hari raya tiba. Untuk Lebaran lalu saja ia memperoleh keuntungan bersih sampai Rp 2 juta. Karena itu saat ini ia berusaha untuk meningkatkan modalnya untuk menyambut Natal dan Tahun Baru yang akan segera tiba. Segala persiapan pun tampaknya dipersiapkan ibu yang biasa beribadah di GKKI Harvest ini.
Selain berbagai persiapan dalam modal dan peralatan yang dibutuhkan untuk membuat kue Rospita menggunakan strategi dagangnya sendiri. Hal ini harus ia lakukan mengingat pebisnis kue kering di Jakarta tidak sedikit. Bahkan beberapa di antaranya pun banyak yang menggunakan strategi pemasaran yang menggunakan kedekatan kekerabatan seperti yang dilakukan-nya. Strategi dagang yang ia pakai adalah dengan terus berusaha meningkatkan kualitas kue buatan tangannya. Salah satu yang paling penting diperhatikan adalah kualitas rasa dan aroma yang tidak berubah dalam jangka waktu yang cukup lama. Untuk itu diperlukan pemilihan bahan masakan yang berkualitas juga. Selain itu Rospita biasanya mengolah tepung sebelum dibuat kue. “Tepung saya sangrai dulu, biar kuenya nanti ga bulukan”, ujarnya.
Selain itu bahan-bahan kimia dan bahan pengawet tidak boleh ada dalam kue yang dibuatnya. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan. Karena bagaimanapun pemesan yang datang padanya sebagian besar adalah karena pemberitahuan dari pemesan sebelumnya yang menyampaikan kepada pihak lain yang belum memesan. Baginya ini tentu menjadi jaringan pelanggan yang akan terus berkembang jikamampu mendapat-kan hati pelanggan. Karena itu perlu senantiasa mempertahankan citra rasa kue yang dibuatnya juga kualitas dari kue itu sendiri. ?Jenda Munthe