Reformata.com - BAGI Ari (23 tahun), fotografi adalah hobi yang tidak pernah berhenti memberi ilmu sampai kapan pun. Semakin sering memotret, semakin banyak pengalaman. Selain itu juga kesempatan bertemu dengan banyak orang dan bertukar ilmu tentu menjadi salah satu sarana bergaul yang ringan namun mendidik. Alasan itu juga yang menjadi alasan kuat mengapa ia berminat bergabung bersama komunitas foto tertentu. Menurutnya di dalam sebuah komunitas tentu banyak orang dari latar belakang yang berbeda memiliki pengalaman yang berbeda pula. Setiap perbedaan latar belakang dan pengalaman tersebut tentu dapat memperkaya pengetahuannya soal foto.
Ketertarikan Ari terhadap fotografi dan komunitasnya tersebut cukup memberi gambaran mengapa banyak anak muda menggemari dunia potret-memotret. Tidak terlalu sulit untuk menemui para penggemar kegiatan ini. Banyak universitas bahkan mungkin sekolah memiliki komunitas fotografi. Pada hari libur, anggota komunitas atau pun orang-orang yang gemar mengabadikan gambar dapat ditemui di beberapa lokasi yang memang menjadi langganan para fotografer, seperti: museum, Kota Tua, Pelabuhan Sunda Kelapa, taman, laut, sungai, bahkan pasar dan pemukiman kumuh.
Mengunjungi suatu lokasi untuk mengambil gambar biasa disebut hunting. Ini bisa dilakukan sendiri maupun bersama komunitas. Jika melakukan seorang diri, biasanya seorang fotografer memang ingin mendapat konsentrasi penuh saat mengambil sebuah gambar. Tidak sedikit yang senang melakukan hunting bersama-sama, hal ini dikarenakan setiap fotografer dapat bertukar ide pengambilan gambar mulai dari pencahayaan sampai sudut pengambilan objek foto.
Dalam dunia fotografi dikenal beberapa istilah. Misalnya ISO/ASA (ISO Speed). ISO adalah singkatan dari International Standard Organization akan tetapi ada juga yang menyebutnya ASA (American Standard Association). Fungsi ISO pada kamera adalah sebagai standar yang digunakan untuk mengindikasikan besar kepekaan film terhadap cahaya. Semakin kecil ISO, semakin rendah kepekaannya terhadap cahaya. Kepekaan cahaya ini sangat menjadi prioritas dalam sebuah pengambilan gambar. Bila memotret pada cahaya yang terang maka, gunakan ISO 100 atau film dengan kecepatan rendah.
Istilah kedua adalah Rana/Kecepatan. Rana adalah sebuah elemen yang bergerak turun naik di dalam kamera. Rana berfungsi untuk mengatur berapa lama film hendak disinari. Kecepatan tidak boleh mengesampingkan diafragma/bukaan. Diafragma adalah lubang dalam lensa kamera tempat cahaya masuk saat melakukan pemotretan. Tentu setiap orang akrab dengan istilah yang satu ini, di mana pun dan jenis kamera apa pun, bahkan handphone sekalipun memiliki fitur yang satu ini. Fitur tersebut adalah flash, berfungsi sebagai alat bantu pencahayaan apabila intensitas cahaya di sekitar kurang, akan tetapi setiap lampu flash punya kemampuan yang berbeda-beda. Untuk jenis kamera saku jarak jangkauan lampu flash hanya berkisar antara 2 sampai 5 meter.
Sejarah singkat fotografi Indonesia
Banyak versi tentang masuknya fotografi ke Indonesia. Namun yang paling banyak menyebut bahwa kamera pertama kali masuk Indonesia sekitar tahun 1800-an, oleh orang Belanda. Kamera pertama itu jelas beda dengan masa kini. Kamera yang ada pada jaman tersebut berupa benda besar dan berat yang tidak mudah dipindahkan dengan cepat. Lama-kelamaan kamera berkembang menjadi lebih praktis dan mudah. Namun fitur yang ada juga belum selengkap sekarang. Awal perkembangannya kamera masih dikenal dengan penggunaan film, kamera jenis ini dikenal dengan kamera analog. Walaupun masih ada beberapa juru foto yang menggunakan kamera jenis ini, namun penggunanya tidak sebanyak pengguna kamera digital. Jenis kamera digital paling umum digunakan fotografer saat ini. Kamera jenis ini tidak lagi menggunakan film, melainkan memory card yang berfungsi menyimpan file-file foto.
Masing-masing orang memiliki ketertarikan terhadap brand foto kamera tertentu. Bahkan beberapa fotografer sering menyebut bahwa perbedaan brand kamera tertentu berarti “berbeda agama”. Istilah perbedaan agama ini biasanya hanya dipahami sesama kalangan fotografer saja. Namun di balik perbedaan ketertarikan terhadap brand kamera tertentu tersebut, setiap kamera dari brand yang berbeda tentu memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Jenda Munthe