Hendrik Lim, MBA*
getex@cbn.net.id
RASA takut menjungkirbalikkan kemampuan logika. Ada implikasi dan harga yang mesti Anda tanggung kalau tidak mengalahkannya. Saat orang dilanda dan dicengkeram rasa takut, keraguan atau kebimbangan, ia seperti sebuah perahu kecil di tengah lautan yang terombang-ambing tanpa sebuah pijakan jangkar dan patokan. Saat seseorang dilanda rasa takut, maka dirinya dan kelangsungan hidupnya otomatis menjadi pusat perhatian dari sistem. Dan dalam keadaan seperti itu, tidak ada pertumbuhan dan perkembangan kemampuan berpikir sehat. Yang ada hanya survival. Tidak lebih tidak kurang. Anda tidak bisa mengharapkan ada pertumbuhan dan perkembangan mental dalam khazanah seperti itu. Kalau Anda selama ini merasa tidak berkembang, maka hal utama yang harus dibasmi adalah rasa takut dan semua manifestasinya.
The fear factor
Perasaan fear ini membuat kita tidak berani bahkan untuk mencoba melakukan sesuatu karena kita takut gagal padahal belum tentu gagal. Ia melumpuhkan jiwa. Misalnya orang takut malu, atau takut ditertawakan orang lain bila gagal dan lain sebagainya. Rasa takut itu sesuatu yang belum tentu nyata tetapi sudah menunjukkan ‘kuasanya’, sebenarnya amat sering perasaan takut itu hanya ada dalam pikiran kita saja, kenyataannya tidak terjadi apa-apa.
Dan salah satu cara teknis untuk melawannya, bisa mengikuti semboyan sepatu Nike: “Just do it” anyway. Lakukan saja. Lompat saja ke dalam permainan itu. Keberanian berarti bersedia untuk terus melangkah di tengah ketidakpastian. Cara seperti itu bisa memastikan agar sebuah ketakutan tidak ‘merampok ‘Anda habis-habisan terhadap kesempatan-kesempatan yang begitu indah yang ditawarkan kehidupan.
Rasa takut itu tidak akan pernah hilang total dalam kehidupan. Selama kita masih hidup, ia akan tetap ada. Jadi kalau mau menunggu sampai rasa takut itu hilang sama sekali, Anda akan menunggu dalam waktu yang amaaaat.... lama. Namun kebe-ranian adalah sebuah pilihan bahwa ada hal-hal yang lebih penting dari rasa takut itu sendiri, dan Anda memutuskan untuk tetap melang-kah di tengah ketidakpastian dan berani memberi diri Anda sebuah kesempatan untuk mengambil risiko.
Ingatkan kembali diri Anda bahwa: adalah rasa takut yang tidak ditaklukkan—bukan kekurangan ide, atau bukan juga kurang modal atau apa pun—yang membuat orang tetap berdiri di pinggir garis lapangan. Orang yang berani adalah orang yang dapat mengatasi ketakutannya, bukan lari atau takluk padanya.
Gagal atau tidak berhasil bukanlah sebuah terminologi yang asing bagi seorang yang ingin membangun mentalitas intraprenureal leadership. Namun para bisnismen memandang sebuah kegagalan dengan cara yang sama sekali berbeda. Kegagalan sering mereka pandang sebagai kehilangan kesempatan atau sebuah isyarat perbaikan kreativitas, bukan sebuah terminal—perhentian akhir—bagai korban rongsokan.
Pada sisi yang lain, rasa takut, ancaman atau tantangan juga menawarkan kesempatan. Di mana Anda menemui rasa takut muncul, di balik itu, kesempatan juga muncul bersamaan. Semakin besar skala rasa takut itu, makin besar pula kesem-patan yang hadir bersamanya. Disebut tantangan, karena tidak banyak orang atau pesaing yang akan Anda hadapi kecuali diri Anda sendiri. Oleh karena itu meng-identifikasi apa kesempatan tersebut dan langung loncat ke dalamnya akan menciptakan perbedaan yang besar. Benar bahwa penentuan strategi dan goals akan amat memainkan peranan. Betul. Mereka memiliki peran ter-sendiri, umumnya peran manajemen. Namun bisnis didikte oleh keputusan untuk melompat ke dalam (jump-in) begitu kesempatan muncul. Dan amat sering kesempatan hadir sebagai sebuah kejutan tanpa pemberitahuan.
Amat sering dalam bisnis, juga hal lain, ada begitu banyak kesempatan yang belum dieksploiter ke permukaan, bukan disebabkan tidak ada teknologi atau alat untuk itu, tetapi lebih banyak hanya karena tidak ada orang yang punya keberanian untuk maju terlebih dahulu. Semua dalam antrian menunggu. Begitu ada seorang pionir yang masuk, maka yang lain akan berduyun-duyun antri di belakangnya. Pada saat itu kapling-kapling bisnis sudah terbentuk untuk para frontiers: para pioners itu. Ingat: rasa takut dan bisnis tidak bisa hidup bersamaan. Yang satu meniadakan yang lain.
Rasa takut juga tidak bisa hidup bersamaan dengan iman, yang satu melumpuhkan, memadamkan pengharapan, merampok kemerdekaan kita, yang lainnya membebaskan kita dari jerat dan perbudakan si jahat, dan menawarkan rasa aman dan perlindungan.v
Hendrik Lim, MBA: Dosen Pascasarjana STT INTI Surabaya