Reformata.com - UNTUK menyukseskan suatu pekerjaan, selain komitmen, ketekunan, dan kecerdasan pribadi, juga dibutuhkan kerja sama yang saling mendukung. Hanya dengan itu, niscaya sebuah kesuksesan atau prestasi dapat direngkuh.
Itulah yang terjadi pada ketiga bocah imut, Joshua Christo Randiny (11 tahun), Jeremy Tobias, (10 tahun), dan Michael (11 tahun). Ketiganya sama-sama memiliki kecerdasan dalam merakit robot. Meski demikian, terkait dengan potensi yang mereka miliki itu, ketiganya tidak menonjolkan diri sendiri. Tapi, mereka bahkan sama-sama menunjukkan kearifan bersama, yakni mengedepankan suatu kerja sama yang baik dan saling mendukung. Sehingga, dalam aksi meraih prestasi, ketiganya bergerak di atas prinsip “Teamwork and Do the Best”. Bagaimana hasilnya?
Sangat tak diragukan. Ketiga siswa kelas 6 SDK 2 Penabur ini begitu populer di dunia kompetisi perakitan robot tingkat dunia. J2M, demikian nama kelompok mereka, dalam ajang International Robot Olympiad, yang diselenggarakan di Tallebudgera Brisbane, Australia, pada 13-17 Desember 2010. Ketiganya meraih Gold Medal. Nama robot yang mereka buat adalah CLEWAMORSEE ROBOT (Cleaning Water Using Moringa Oliefera Seed)
Tentu sebuah kesuksesan amat gemilang. Selain sebagai eksplisitasi dari sebuah kecerdasan berpikir dari mereka bertiga, tapi juga mengharumkan nama bangsa di mata dunia. Bahwa ternyata anak negeri ini, yang masih usia bocah pun, menyimpan kecerdasan luar biasa.
Sebelum berlaga ke tingkat dunia, J2M sudah pernah mengikuti kompetisi dalam negeri. Pada 5-6 November 2010, bertempat di Mal Central Park Jakarta, J2M mengikuti kompetisi Indo Robotic Master Cup 2011. Saat itu, mereka meraih Juara Favorit.
Dukungan
Tim J2M mengaku, prestasi yang mereka raih, selain didukung oleh kekompakan ketiganya, juga tidak terlepas dari adanya dukungan dari pihak sekolah dan orang tua. Dukungan dari pihak sekolah misalnya, sekolah senantiasa melengkapi keperluan sarana pembuatan robot yang diinginkan. Selain itu, sekolah juga selalu memberikan pelatihan dan pembimbingan dalam merakit robot.
Sementara dukungan dari orang tua tampak pada support mereka membiarkan buah hati mereka mengikuti latihan pembuatan robot dan melaku-kan kreativitas lainnya yang terkait dengan pengembangan prestasi. Tak hanya itu, orang tua mereka juga bahkan ikut mengadakan bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan robot. “Kami senang karena orang tua kami mendukung kami mengembangkan kreativitas ini,” ujar mereka serempak kepada REFORMATA, Selasa, 25 Januari 2011.
Kecekatan
Dalam mengembangkan prestasi merakit robot ini tampaknya memang membutuhkan kecerdasan dan kecekatan. Setelah mereka merancang konsep, kemudian mereka mencari bahan-bahan yang sesuai. Setelah itu, mereka mulai merancang robot. Pengerjaan perakitan robot tak sekali jadi. Mereka mesti melakukan perbaikan robot yang mereka selesai kerjakan. Setelahnya, mereka lakukan uji coba baik secara manual maupun menggunakan robot. Latihan dan uji coba ini mereka lakukan berulang-ulang.
Tak ada strategi dan metode spesial yang mereka lakukan dalam pembuatan robot ini. Paling yang mereka laukan hanya terus berlatih. Pelatihan, selain dilakukan di sekolah yang berarti terjadi di bawah bimbingan sekolah, juga dilakukan di rumah. Kerapkali mereka bertiga bertemu untuk melakukan latihan robotic ini.
Usia mereka masih belia. Namun, mereka sudah melukiskan nama mereka di dunia internasional dengan meraih prestasi pembuatan robotic. Dengan demikian, perjalanan untuk terus meraup banyak prestasi tentu masih banyak, tentunya masih dalam bidang pembuatan robotic. Apalagi, ketiganya didukung oleh cita-cita ingin mengembangkan bidang tersebut hingga bisa dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat dunia dalam hidup sehari-hari.
Stevie Agas