Hendrik Lim, MBA*
getex@cbn.net.id
ORANG lebih senang membicarakan kesuksesan. Tidak banyak orang yang tertarik mendengar kisah tentang kegagalan. Kisah gagal dianggap sama dengan tragedi seorang pria yang berjalan di lorong sunyi dan kesepian saat usaha atau karirnya di simpang jalan. Ketika situasi faktual menekan orang hingga di pokok dinding dan tidak melihat jalan keluar. Keadaan yang amat menyesakkan dada yang membawa konskuensi pelik pada rumah tangga, pendidikan anak-anak dan harga diri yang terinjak. Selain itu ia merasa berjuang dalam kesendirian. Bingung dan terlilit tanpa tahu harus ke mana untuk mencari pertolongan. Fase ini bisa berlaku baik pada tataran pribadi, organisasi maupun korporasi
Namun yang sering terjadi dan tidak disadari khalayak, hampir tidak ada orang besar, yang sekarang mencapai puncak prestasi dalam hidupnya, dalam bidang apa pun itu, yang tidak mengalami kegagalan dan titik nadir dalam perjalanan hidup mereka. Mengharapkan seseorang bisa terus melaju dan menanjak, tanpa pernah benjol dan bonyok sepanjang jalan, adalah sebuah kenaifan “teori motivator sukses”
Mutiara di balik badai
Fase-fase ini begitu penting, saat orang atau organisasi terhuyung, tunduk, terjerembab, dan berlutut, mereka menjadi receptive. Keadaan seperti itu memungkinkan orang sering mendapatkan begitu banyak hal, baik pencerahan ide yang selama ini tidak terpikirkan, terobosan strategi yang tidak pernah dibayangkan, maupun penyingkapan jurus-jurus akan hal-hal yang selama ini tidak terlihat.
Meskipun demikian, tidak semua orang yang saat down menemui turning point seperti ini. Mereka yang gagal mengalaminya, akan mengalami down kemudian out. Sebagian lain tidak mengalami terobosan dan hanya berkutat dalam fase up lalu down, dan kemudian up and down terus-menerus, dan akhirnya ambruk kecapaian. Merasa kosong, lelah dan apatis, melewatkan waktu bergulir.
Mereka yang menemui turning point, akan bergerak dari down, kemudian raise up menuju kejayaan. Fenomena ini seperti hendak mengatakan: untuk memperoleh kebangkitan atau kebangunan dan kejayaan, orang atau organisasi harus “mati” lebih dahulu. Seperti sebuah benih yang harus gugur dari buah, dan kemudian jatuh ke tanah tumbuh menjadi pohon.
Fase genting saat di persimpangan jalan, baik dalam usaha, karir maupun organisasi lainnya, adalah sebuah titik kritis. Namun di balik itu, ia juga merupakan sebuah benih yang dapat berkembang dan beranak-pinak menjadi produktif dan spektakuler. Hal ini bisa terjadi bila pada masa genting tersebut mereka mendapatkan bantuan “emergency clinic”, sebuah medium recovery baik bagi perseroan yang sakit, organisasi yang kehilangan gairah, atau pribadi di simpang jalan yang sedang dililit begitu banyak masalah.
Anda tidak sendiri
Bila Anda, organisasi Anda maupun usaha Anda sedang berada dalam fase seperti itu dan ingin mendapatkan kesempatan recovery services seperti itu, Anda dapat menulis kepada kami. Pelayanan ini bersifat non-profit, dan tidak dikenakan tarif. Pembaca dapat meng-email kami, di Pelampung911@gmail.com. Sementara servis ini tersedia melalui email, namun nanti akan segera dibentuk service point di berbagai kota di Tanah Air, yang terdiri atas volunteer-volunteer yang kompeten, berintegritas dan ingin melihat Indonesia punya saluran exit kuldesak bagi usahawan, pekerja karir dan profesional.
Pendekatannya adalah dengan meningkatkan daya competitiveness agar bisa menang dalam perubahan yang amat cepat ini, melalui upgrade kompetensi, pengembangan mentalitas, penciptaan values creation, dan perubahan persepsi melalui paradagim shift, agar seseorang atau organisasi atau sebuah perseroan bisa mendapatkan terobosan, melakukan turn around dan makin kokoh setelah pergeseran berlalu. Jasa emergency clinic for “sick company” dan pribadi dalam persimpangan ini tidak mengenal batas primordial. Tujuannya hanya satu: Agar Anda menang. Organisasi Anda menang. Dan orang bisa tetap bekerja.v
Hendrik Lim, MBA: Dosen Pascasarjana STT INTI Surabaya