Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Gereja & Masyarakat

Rumah Singgah Socious, Tempat Berbagi Kasih

Posted : 02 Maret 2011
Rumah-Singgah-Socious,-Tempat-Berbagi-Kasih.jpg
DELAPAN orang perwakilan  Wanita Katolik (WK) ranting Santa Bernadeth, Wilayah Lippo Karawaci, Gereja Paroki Santa Helena, Tangerang, melakukan kegiatan bakti sosial (baksos) di Cilincing, Jakarta Utara, Sabtu, 11 Desember 2010. Sebelum menuju lokasi baksos, kedelapan anggota perutusan ini melihat stand anak-anak Socius. Setelah itu, mereka mengikuti misa kudus di Kapela. Suasana damai sungguh dirasakan oleh mereka di kapela ini.

Dalam mengikuti misa, mereka memadahkan syukur pada Tuhan karena di penghujung tahun  2010 ini, WK ranting Santa Bernadeth berke-sempatan untuk berbagi kasih kepada sesamanya yang sangat membutuhkan bantuan. Usai misa, anggota WK ini kemudian berangkat ke Rumah Singgah Lumba-lumba yang letaknya hanya beberapa meter dari pinggir laut lepas, Jakarta Utara.
Di sana, mereka disambut Ibu Muaral (singkatan dari Budayakan Muatan Moral). Beliau adalah Ketua Yayasan Rumah Singgah Lumba-lumba. Ia sempat terkejut dengan kehadiran para WK ini karena sebelumnya tak diinformasikan mengenai kehadiran mereka.

Rumah Singgah Lumba-lumba adalah sebuah yayasan yang menaungi anak-anak nelayan di sekitar Cilincing. Saat ini, jumlah anak-anak ter-sebut sekitar 120 orang anak usia Taman Kanak-kanak (TK) dan 40 orang yang sudah lanjut usia (Lansia). Para WK ini masuk ke ruang kelas, menjumpai anak-anak sedang belajar. Ruang kelas begitu sederhana, namun  anak-anak tampak ceria. Para WK membagi bingkisan berupa sem-bako untuk para lansia, juga alat-alat tulis, buku, tas, susu, dan biskuit untuk anak sekolah.
Lili Hanafi, seorang anggota WK mengatakan, dari dana yang terkumpul WK ranting Santa Bernadeth, sebagiannya diperuntukkan sebagai modal kerja bagi Rumah Singgah Socius dibawa asuhan Pastor Jost Kokoh Prihatanto, Pr., yang saat itu diwakili Pak Bambang (Bersama Allah makin ber-kembang). Bambang adalah ketua eks nara pidana (napi) Rumah Singgah Socius. Rumah ini juga adalah rumah untuk mantan para napi. Di tempat ini, mantan napi dibina dan diajarkan untuk berkreativitas sebagai modal hidup. Mereka diajarkan membuat benda-benda rohani, seperti patung, salib, tempat lilin, dan lain-lain.

Sahabat bagi sesama
Moderator Rumah Singgah Socius, Pastor Jost Kokoh Prihatanto, Pr., mengatakan munculnya Rumah Singgah Socius adalah wujud dari ke-pedulian terhadap sesama yang mengalami keprihatinan dalam hidupnya. Mengutip Injil Yohanes 15:14-15, dia mengatakan bahwa sesungguhnya manusia adalah sahabat bagi sesamanya. Lebih lanjut, Pastor Jost menjelaskan bahwa, kasih dan persahabatan adalah dua hal yang tak terpisahkan.
Dalam kaitan itulah, pertengahan tahun 2008, Pastor Jost bersama beberapa mantan napi berinisiatif membentuk sebuah rumah singgah bernama SOCIUS. Socius dalam bahasa Latin berarti “sahabat” (mungkin dari sini juga berasal pemahaman dasar bahwa manusia adalah makluk sosial (bersifat “bersahabat”).
Mengutip perkataan populer Alvin Toffler, yaitu perubahan tidak hanya berguna bagi hidup, tapi perubahan adalah hidup itu sendiri, Pator Jost  melihat para anggota Socius ini juga ingin berubah, berbenah, berbuah; berdaya guna, berdaya makna, dan sekaligus berdaya tahan sebagai manusia baru. Mereka sendiri berasal dari pelbagai latar belakang penjara: Nusa-kambangan, Tangerang, Salemba, Cipinang, dan Cirebon.

Satu dalam suka
Rumah Singgah Socius, yang bersemangatkan nothing to loose ini terbentuk ketika pada awalnya (tahun 2007), Pastor Jost mengunjungi pelbagai penjara di daerah Tangerang, dan kadang ia ditemani oleh seorang awam bernama Wagiman.  Wagiman ini kerap mudah tersenyum dan tidak putus memberi harapan bagi para narapidana, entah di penjara remaja, dewasa, anak-anak, juga penjara wanita. Oleh sebab itulah, Pastor Jost memaknai Wagiman bisa berarti “Wajah Giat Beriman.”
Selama dua tahun terakhir ini, para anggota Rumah Singgah Socius dengan pelbagai latar belakang agama, berusaha giat beriman tanpa melupakan “gereja” dan “musholla”nya. Mereka mencukupi kebutuhan hariannya dengan membuat pelbagai benda rohani tadi. Mereka menjual hasil karyanya demi membeli nasi, indomie, alat-alat mandi, dan keperluan harian lainnya. Dari sinilah, mereka belajar bersama teman-temannya untuk mencoba belajar satu dalam suka.
Dalam Rumah Singgah Socius, yang terdiri dari 12 mantan napi, sebuah kisah nyata terjadi pada seorang anggotanya, mantan napi dari LP Tangerang yang anak bayinya sakit keras dan bingung mencari bantuan. Ternyata setiap anggota Socius rela memberikan hasil penjualan benda-benda rohani untuk membeli obat untuk si bayi. “Jadi, ternyata di balik keterbatasan mereka, malahan ada seorang mantan napi yang rela menjadi ayah angkat dari seorang anak tak berayah. Di balik pengalaman “malam gelap”, mereka berjuang untuk hadir dalam duka serta berbagi dari apa yang mereka punya,” kata  Pastor Jost.

Berjabat dalam doa
Dengan menambil refleksi dari Santo Thomas Aquinas, Pastor Jost mengatakan persahabatan berarti menghayati hidup bersama (living together), tapi tidak melulu berarti satu atap, cor unum et anima una, tetap sehati sejiwa, walaupun berbeda tempat. Disinilah, lanjut dia, kita perlu mengingat bahwa Yesus saja berdoa kepada BapaNya di taman Getsemani juga di Gunung Kalvari. “Bagaimana dengan kita?”   Stevie Agas
58
106 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.5995 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net