PEREMPUAN ini bisa dikatakan sudah sangat mengenal asam garam bisnis penjualan pakaian atau tekstil. Ia sudah mulai mengenal bisnis penjualan pakaian sejak usianya masih sangat muda. Tepatnya sejak tahun 70-an ia sudah mengikuti aktivitas ibunya berdagang pakaian di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Saat itu memang ia belum secara penuh menggeluti bisnis ini. Perempuan bernama lengkap Demak Sirait br Manik ini saat itu berprofesi sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan asing yang cukup mempunyai nama. Namun ia merasa perlu menambah penghasilannya dari bisnis lain. Karena itu ia mencari cara bagaimana dapat memenuhi keinginannya tersebut.
Awalnya perempuan kelahiran Kotacane, Aceh Tenggara ini memang tidak begitu saja dengan serta-mertanya meninggalkan profesinya sebagai karyawan swasta. Ia mulai memperhatikan orang-orang di sekitarnya yang menjalani bisnis dagang. Tidak jauh-jauh ia melihat bahwa ibunya memiliki usaha berdagang pakaian. Ia pun memutuskan untuk mengikuti ibunya saat sedang menjalankan usahanya tersebut. Demi mendapat pengetahuan seputar bisnis berdagang pakaian tersebut, ia rela membantu ibunya mengangkat barang dari gudang ke toko. Ia menyebutnya sebagai profesi “kuli”. Menurutnya demi mendapat pengetahuan seputar bisnis itu memang harus memulai dan mengetahui seluk bisnis tersebut mulai dari bawah. Jadi ia tidak mempersoalkan bahwa apa yang ia lakukan tersebut cukup terpandang atau tidak.
Ia melihat bahwa ibunya memiliki keuntungan tersendiri dalam menjalankan bisnisnya tersebut. Tidak seperti dirinya yang berprofesi sebagai karyawan swasta yang hanya memiliki uang saat awal-awal gajian saja, ibunya dapat menerima hasil dari keuntungannya berjualan setiap hari. Terlebih ia merasa bahwa bekerja di perusahaan sangat monoton dan tidak memberikan tantangan. Hal ini membuatnya semakin bersemangat memperdalam pengalaman berbisnis, dan menggelutinya.
Setelah merasa mantap berbisnis, pada tahun delapan puluhan ia pun memutuskan untuk menjalankan bisnis ini dengan modalnya sendiri. Ia mulai dengan jumlah kecil menjual pakaian dengan cara kredit ke beberapa relasinya. Menurut pengakuannya ia pun sempat sempat menjalin relasi dari beberapa langganan ibunya, dan hubungan ini terus dipertahankan sampai ia memiliki bisnis yang cukup besar. Dari pengalamannya bekerja untuk ibunya ia juga belajar dari mana mendapatkan bahan dagangannya yang dapat dibeli dengan harga grosir. Dari situ, dengan modal sendiri ia memulai usahanya dengan berbelanja kepada importir dengan memanfaatkan perkenalan semasa ia membantu ibunya. Ia pun memiliki importirnya sendiri. Namun ia belum memiliki kios untuk memasarkannya barang dagangannya. Ia pun menjalankan bisnis tersebut dengan menawarkan barang dagangannya kepada orang-orang yang ia kenal.
Pada tahun 90-an, ia membuka sebuah kios di Pasar Senen. Walaupun masih sederhana, ia yakin bahwa bisnisnya tersebut nantinya akan memberikan hasil yang cukup memuaskan. Kios tersebut awalnya hanya menyediakan pakaian khusus wanita saja. Itu pun ia serahkan kepada rekannya untuk mengelola kios tersebut sementara ia masih terus sibuk mencari jenis barang lain yang menurutnya bisa dipasarkan.
Perlahan usahanya semakin berkembang pesat dan semakin banyak yang mengenalnya. Berkat kerajinannya untuk terus bergerak mencari pelanggan dari satu tempat ke tempat yang lainnya, ia pun memiliki banyak pelanggan. Langganannya bahkan tidak sedikit yang berasal dari luar kota. Sebut saja Palembang, Tasikmalaya, Garut, bahkan Medan adalah kota-kota yang sering ia kirimi barang dagangannya.
Kiosnya pun bertambah, bahkan ia berhasil mengembangkan usahanya dengan mengisi kios yang telah berubah menjadi toko tersebut dengan berbagai produk tekstil lain seperti sarung, kebaya, songket dan ulos. Ia pun mengembangkan usahanya sampai ke luar kota. Rasa percaya dirinya terhadap bisnis yang ia telah geluti puluhan tahun ini pun terus meningkat. Ia membuka toko yang menawarkan berbagai produk tekstil di kota Medan. Peningkatan usaha ini pun bukan tanpa tantangan. Ia pernah tertipu oleh karyawannya sendiri yang menyebabkan ia rugi besar. Ia sempat depresi, mengingat harus mengganti barang-barang yang telah ia ambil dari importir. Hal tersebut memang sempat menghentikan langkahnya, namun tak ia biarkan hal tersebut berlangsung lama. Ia berserah penuh pada Tuhan dan percaya pasti ada jalan keluar dari setiap masalah.
Beruntung, para importir yang mengenalnya cukup lama, memberi kepercayaan kepadanya untuk mengganti kerugian secara bertahap. Kini karena kepercayaan drinya tersebut ia berhasil bangkit dan membuka beberapa toko di Senen. Bahkan ia sempat menjadi produsen untuk beberapa jenis pakaian yang ia ciptakan sendiri dengan bantuan beberapa karyawannya. Kini ia berencana mengembangkan usahanya pada bidang konveksi tas. Menurutnya yang terpenting dalam menjalankan usaha adalah bagaimana memberikan harga semurah mungkin namun tidak melewati batas minimal modal. Memperbanyak variasi dagangan juga merupakan nilai lebih bagi setiap pedagang, dan untuk itu setiap pedagang perlu memiliki keberanian lebih ketika memutuskan untuk memulai usaha seperti ini. Jenda Munthe