Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Ungkapan Hati

Zainal Abidin, Mengubah Dukacita Menjadi Sukacita

Posted : 30 Maret 2011
Zainal-Abidin,-Dosen-UPH.jpg
Reformata.com - PENYAKIT kanker masih menakutkan karena belum ditemukan obatnya hingga kini. Penyakit ini  cepat menjalar ke seluruh tubuh dan mengancam kehidupan. Dan hal ini juga yang dialami Zainal Abidin Partao Napitupulu, dosen ilmu komunikasi di Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, Banten. Awalnya Zainal menderita penyakit sariawan yang berkepanjangan sejak 2006 hingga tahun 2010 didiagnosa sebagai kanker lidah, pada stadium tiga!
Bagaimana perasaan Zainal Abidin menghadapi penyakit kanker lidah yang sudah sangat mengkhawatirkan itu? Bagaimana dia bertahan dan melewati rasa sakit yang tak tertahankan itu? Apa saja yang telah dia lakukan untuk sembuh?

Vonis dokter
Tahun 2010 merupakan saat yang sangat berat dirasakan Zainal dan keluarga. Bulan Februari, dengan kondisi mulut yang sedang sariawan, dia merasa susah untuk makan dan minum. Akhirnya Zainal ke dokter ahli bedah mulut. Setelah diperiksa, dokter mengungkapkan, “Gigi Bapak hancur, karena tidak diobati, mengakibatkan iritasi pada lidah. Bapak, positif kena kanker lidah stadium 3. Selain itu, di dada ada daging yang tumbuh,” ucap dokter.  
Kenyataan ini diterima Zainal, dengan menjalani seluruh saran dokter. Magnetic Resonance Imaging (MRI), CT-Scan, Ultra-sonografi (USG), Rontgen, semua diikuti Zainal demi memperoleh  kesembuhan. Zainal menjalani kemoterapi selama tiga kali se-minggu. Namun kanker malah membesar.
Kondisi tubuh Zainal semakin hari semakin melemah, untuk berjalan harus dibopong Siti Napisa, istrinya. Bahkan makan pun harus disuapi. Bahkan ayah dari dua anak ini harus berhenti dari pekerjaan sejak Maret 2010, karena harus kontrol ke rumah sakit setiap waktu. Kondisi ini mengakibatkan, Zainal dan keluarga benar-benar mengalami kondisi keuangan yang sangat  sulit.
“Sejak sakit, kami makan dari berhutang. Kesedihan saya ketika istri bertanya: kita akan makan apa? dan bagaimana uang sekolah anak-anak,” urai Zainal mengenang masa sulit itu. Kondisi pelik itu, tetap harus ditelannya dengan terus mempersiapkan istri dan kedua anaknya. Mereka harus dapat menerima risiko ter-buruk sekalipun, jika Zainal tidak tertolong.
Dengan sikap pasrah dan percaya penuh tim medis, Zai-nal menjalani operasi guna mengangkat lidah dan daging yang ada di dadanya. Dokter me-mutuskan operasi dilakukan 12 Mei 2010. Walau kemungkinan berhasil sangat tipis, namun Zainal tetap berharap: “Jika mati, saya bertemu Tuhan. Itu hanya tidur panjang. Saya sudah membayangkan akan segera ke sorga,” kenang Zainal pasrah. Tiga hari sebelum hari operasi, saudara kandung Zainal datang bersama tim doa, menyarankan Zainal agar tidak melakukan operasi, melainkan berdoa dan memercayakan sakitnya hanya kepada Tuhan.

Secercah harapan
Zainal selalu punya pengha-rapan akan bisa sembuh, dan selalu berusaha melakukan apa pun untuk itu. Dia pun tidak keberatan untuk menuruti niat baik saudara kandungnya dan tim doa yang datang untuk mendoakan dirinya.
Setiap pertanyaan dari saudara, dan tim doa dijawab Zainal dengan baik. Ajakan untuk membuka Alkitab, berdoa, dan bernyanyi memuji Tuhan pun diikuti Zainal, layaknya seorang anak sekolah yang sedang belajar. Setelah pelayanan itu, Zainal berani memutuskan untuk tidak dioperasi dan bertekad  membaca Alkitab dan berdoa.
Sejak pelayanan itu, Zainal melepaskan seluruh obat dokter dan menggantikan dengan mem-baca Alkitab pagi, siang, dan malam. Sejak saat itu, Zainal dapat menikmati makanan dan dapat berdiri. “Secara rohani saya sudah sembuh. Lidah masih ada sariawan, namun kini bisa makan bahkan main tenis. Begitu merasa dekat dengan Tuhan, spirit/stamina/semangat itu bertambah. Kalau bingung dan ragu, badan seperti habis dikemo,” tutur Zainal dengan wajah berbinar.

Perubahan
Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah 1 Maret 1961 ini kini terlihat lebih sehat. Profesi sebagai dosen di UPH kembali dia jalani. Dia juga memberi ceramah, bahkan senang menyemangati orang sakit.
Warga GPIB Syaloom Depok ini, semakin menyadari hidupnya sebagai anugerah Tuhan. Tak heran, jika semangat ini mendorongnya untuk menawarkan diri sebagai pembicara tanpa memikirkan bayaran. Zainal meyakini ke-mampuannya dalam bidang komunikasi, sehingga tepat untuk dapat memberikan semi-nar seperti: “Komunikasi dalam Bisnis” dan “Komunikasi da-lam Keluarga”, minimal di ge-rejanya sendiri.
Perubahan lain juga yang terjadi, semangat untuk selalu menyampaikan Firman Tuhan di awal seluruh pelajaran dan obrolan dengan siapa pun. Aktivitas rohani menjadi kesukaannya sebab dilakukan dengan sepenuh hati. Semua perubahan ini pun terjadi pada istri dan kedua anaknya. “Tuhan benar-benar menghidupkan mereka dalam kehidupan baru yang berkemenangan,” kata Zainal.
Dukacita mendatangkan suka-cita, itulah makna di balik sakit yang dialami dosen yang suka membaca ini. Zai-nal memberi tips sederhana untuk mereka yang sakit: Pertama, jika ada gejala kelainan dalam tu-buh, segera menghadap pada Tuhan.  Kedua, ikuti medis, tapi harus bergan-tung pada Tuhan terus, karena Tuhan yang bisa me-lakukan. Terus berdoa. Ketiga, Markus 11: 24 jadi pegangan, kalau ada dosa minta diampuni. Marah dendam dimaafkan.
“Tuhan itu ada. Jangan hanya meminta, namun lakukan juga kewajiban kita,” cetus Zainal  menyikapi kehidupannya. Dia meyakinkan, bahwa dalam ke-sulitan, Tuhan pasti menolong. Tuhan punya cara yang ajaib untuk menolong setiap orang yang percaya pada-Nya. Sakit, sehat, kaya, miskin, susah, senang, semua adalah dinamika kehidupan untuk tetap mengingat Tuhan ada dan berkarya.
Lidya

43
72 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net