Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Peluang

Ferry Sitio, Layani Pelanggan Sampai Subuh

Posted : 30 Maret 2011
Ferry-Sitio,-Layani-Pelanggan-Sampai-Subuh.jpg
Reformata.com - KETIKA Anda hendak menjalankan sebuah usaha, tentunya harus memperhatikan berbagai aspek pendukung usaha tersebut. Harus diperhatikan dengan matang bagaimana usaha yang dijalankan nanti  akan memberikan keuntungan yang berkesinambungan. Beberapa contoh kecil yang mungkin Anda pernah pikirkan ketika mau menjalankan usaha misalkan saja untung rugi, modal, perijinan, atau mungkin berapa lama usaha dapat bertahan.

Lantas bagaimana rasanya jika semua pertimbangan mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar ternyata tidak berbuah banyak, bahkan bisa dikatakan bahwa usaha yang Anda bangun tersebut gagal. Anda merasa telah matang dalam setiap aspek usaha yang Anda bangun, namun ternyata Anda tetap gagal karena hal yang tidak pernah diduga. Beberapa orang dalam situasi semacam ini mungkin akan frustrasi dan tidak tahu lagi harus berbuat apa-apa.

Situasi tersebut tidak membuat pria yang satu ini patah arang. Ia mengalami kegagalan usaha beberapa waktu lalu. Ketika itu bisnis warung telepon (wartel) yang ia geluti harus terpinggirkan dan mati total seiring dengan berkembangnya handphone. Ia semakin merasa terpojok dan kesulitan mengingat saat itu bisnis sampingannya juga sedang tidak berjalan. Ia sempat berhenti sejenak dan berpikir untuk mencari jenis usaha lain untuk mengganti sumber pemasukannya yang tersendat akibat berhentinya bisnis wartelnya.
Tak lama berdiam diri, pria bernama lengkap Ferry Sitio ini pun memutuskan untuk bangkit dan mencoba bisnis lain. Namun beberapa kali ia mencoba, situasi yang tidak menguntungkan terus saja menghampiri bisnisnya. Ia mencoba banyak jenis usaha, mulai dari pengangkutan puing, penjualan pulsa, pengangkutan barang. Namun beraneka macam jenis usaha itu sepertinya hanya berjalan di tempat. Sampai suatu waktu ia memberanikan diri untuk membuka bisnis yang membutuhkan modal sedikit lebih besar.
Suami dari Lisbet Sinaga ini meminjam uang dari temannya. Dengan modal duit pinjaman itu ia  membuka  warung internet (warnet), di bekas wartelnya, dengan melakukan perombakan ruangan, sehingga bisa menampung beberapa meja dan komputer.  Memang sebuah langkah yang cukup berani mengingat beberapa kegagalan usaha sebelumnya acap kali terjadi. Terlebih usahanya kali ini dengan modal pinjaman yang bisa dibilang tidak sedikit. Tentu diperlukan biaya untuk pengadaan unit komputer, alat penunjang, serta penginstalasian. Hal inilah yang membuat bisnis yang ia pilih ini saat itu cukup beresiko dan bisa dibilang berani.

Memang bagi pria kelahiran Jakarta 44 tahun silam ini segala sesuatu tidak perlu dibuat sulit. Ia menyenangi pola hidup yang mengalir terus ke depan. Tampak baginya bahwa apa yang terjadi dalam perjalanan bisnis sebelumnya tidak menjadi beban besar yang menghambat langkah dan keberaniannya. Keberanian tersebut tampaknya membuahkan hasil. Belum ada satu tahun ia berhasil mengembalikan pinjaman dari temannya yang ia pakai untuk modal. Tampaknya keberanian dan rasa percaya dirinya bukanlah satu-satunya modal baginya dalam menjalankan usaha. Beberapa kali kegagalan dalam bisnis membuatnya belajar bagaimana memilih jenis usaha yang tepat.

Strategi bisnis yang ia pakai dalam jenis usaha jasa adalah memberikan kenyamanan bagi para pelanggannya. Selain itu ayah dari Bevi dan Felix ini juga berusaha untuk mengakrabkan diri dengan pelanggannya lewat obrolan dan canda ringan dalam beberapa kesempatan. Menurutnya pengakuannya, saat pertama kali membangun usaha ini ia masih warnet satu-satunya di kawasan tempatnya berbisnis. Terlebih lokasi yang tepat di pinggir jalan membuat warnet miliknya mudah ditemukan siapa saja.

Strategi lain yang ia pakai dalam menjalankan bisnis ini adalah dengan mengikuti apa yang diinginkan oleh pelanggannya. Menurut pengakuannya jika ada pelanggan yang masih ingin tetap menggunakan pelayanannya sampai subuh, ia tetap melayani dengan senang hati. Selain itu tentu perlu dilakukan pemeliharaan terhadap alat yang ia gunakan, mengingat hal ini berhubungan dengan kenyamanan pelanggan. Menurutnya untuk memberikan rasa nyaman kepada pelanggan selai adanya fasilitas pendukung, si pelaku usaha juga harus terlihat santai dalam menjalankan usahanya. Maksud jemaat Gereja Katolik St. Markus Cililitan ini bukan tidak serius dalam bekerja, melainkan melakukan pekerjaan tanpa berkeluh kesah.  ?Jenda Munthe

67
74 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4287 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net