NADA-nada itu terdengar merdu. “Tuhan Setia,” demikian judul lagu yang diciptakan Adon Saptowo, vokalis band Base Jam, bersama Tommy Widodo. Lagu itu dinyanyikannya khusus bersama 30-an anak, dalam konferensi nasional “Anak Bersinar Bangsa Gemilang” (ABBG), beberapa waktu lalu.
Adon mencurahkan pengalaman hidupnya melalui lagu ini. Walau berasal dari keluarga tidak mampu, namun kini dapat meraih mimpi karena Tuhan yang setia.
Berjuang
Di masa kecilnya, Adon bertumbuh dari keluarga yang minim secara ekonomi. Ayah Adon adalah seorang pekerja buruh pabrik, yang belakangan menjadi Kristen, karena terkesan melihat sosok pimpinannya, seorang pengikut Kristus, yang sangat baik, murah hati, dan suka menolong.
Saat Adon berusia 3 tahun, mereka sekeluarga pindah ke Jakarta. Di Ibu Kota, keluarga ini tinggal di rumah kontrakan yang kecil. Itu pun sering berpindah dari tempat kontrakan yang saru ke tampat yang lain. Kenyataan yang tidak nyaman ini tidak memudarkan impian Adon untuk suatu saat nanti menjadi penyanyi terkenal.
Untuk itulah dia selalu giat berlatih bernyanyi sendiri. “Kamar mandi adalah studio kecilku, di sanalah aku terus-terusan berlatih secara alami,” kisah pria kelahiran Jepara, Jawa Tengah 17 Maret 1973 ini. Di samping serius latihan nyanyi, dia juga belajar keras untuk bisa meraih prestasi di sekolah. Harus menjadi ranking 1. Itulah syarat dari orang tua supaya Adon diberi ijin bernyanyi dan ngeband bersama teman-temannya.
Meraih impian
Akhirnya, Adon bergabung dengan Base Jam, dan mulai meraih mimpi. Nama mereka semakin dikenal anak-anak di Indonesia melalui pentas musik Indonesia. “Pujangga”, album yang membuat nama mereka makin melejit di kalangan anak remaja.
Melalui Base Jam, Adon tetap mengasah talenta. Dia datang ke sekolah-sekolah, berbicara dalam bahasa yang universal tanpa batasan agama, bernyanyi dan menghibur, merangkul anak muda, agar mereka selalu ingat untuk mencintai bangsa ini.
“Hidup tidak sia-sia, tidak melihat fasilitas, kondisi ekonomi, kepahitan, sebagai penghalang. Sebaliknya tetap berdiri dan bayar harga, meraih mimpi karena rencana Tuhan selalu indah,” itulah seruan suami Joyce Pelupessy ini, khususnya bagi anak-anak muda.
Menyelamatkan generasi
Tahun 1991, Adon dan sang istri, Joyce, terlibat dalam pelayanan sekolah minggu. Kerinduan untuk serius melayani anak remaja semakin membara dirasakan Adon, selesai mengikuti konferensi ABBG. “Ternyata ada banyak orang lain di negeri ini yang digerakkan oleh misi yang sama, untuk menyelamatkan Indonesia,” ucap Adon. Dan itu membuatnya makin teguh dan bersemangat dalam keterlibatannya memikirkan generasi muda. “Kita akan kehilangan mereka kalau tidak melayani mereka,” cetus warga GPIB Sawangan ini antusias.
Di balik semangatnya yang terus berkobar, Adon mengingatkan anak muda akan kenyataan yang telah dilewatinya: “Tidak ada yang bisa membatasi rencana Tuhan bisa terwujud. Walau ekonomi terbatas, tersisihkan, diremehkan, walaupun orang tua harus berhutang, dianggap remeh oleh orang lain, tersisihkan, dipandang sebelah mata, namun kasih setia Tuhan tidak pernah berkurang dan berubah,” tandas Adon.
Untuk itulah Adon mengingatkan anak muda masa sekarang agar jangan berhenti berharap dan bermimpi, sebab Tuhan rindu mewujudkan mimpi kita. Tuhan mau kita bekerjasama dengan-Nya.
?Lidya