Reformata.com - MALAM itu, sebuah jalan di kawasan Jakarta Timur sepi. Namun pada bahu jalan tampak sekumpulan anak muda bergerombol dengan sepeda motor masing-masing. Mereka berbaris pada sisi jalan sambil bercengkerama satu dengan lainnya. Tidak lama kemudian dari arah mereka tampak dua sepeda motor seperti mengambil ancang-ancang untuk melakukan perlombaan. Tidak lama kemudian, kedua motor dengan suara mesin yang keras tersebut meluncur dengan kencang menuju ujung jalan raya ini yang memang tidak memiliki tikungan.
Tidak lama kemudian kedua motor tersebut kembali pada kerumunan dan kemudian dua motor lainnya melakukan aksi yang sama dengan dua motor sebelumnya.
Aktivitas semacam ini sering terjadi di beberapa wilayah Ibu Kota pada malam-malam menjelang akhir pekan. Aksi balap yang tidak dilakukan di arena balap ini pun sudah sangat sering dirazia aparat terkait karena dianggap mengganggu ketertiban umum serta membahayakan bagi si pengendara maupun pengguna jalan lain. Namun sering kali semangat dan rasa penasaran anak muda seolah tidak terbendung dangan razia semacam itu. Terbukti bahwa kegiatan semacam ini masih saja ada hingga saat ini.
Tidak jarang dari kegiatan yang mereka lakukan ini berawal dari rasa iseng atau persaingan untuk memperoleh sesuatu hal, mengadu kecepatan motor yang dimilikinya, bertaruh uang yang sebagai tujuan dari kegiatan lomba liar ini. Kegiatan yang juga dikenal dengan istilah trek-trekan ini seolah menjadi tradisi yang terus dilakukan secara berkesinambungan. Tidak jarang orang-orang yang sebenarnya tidak ingin ikut balapan, sengaja duduk di pinggiran jalan hanya untuk sekadar menonton.
Jika dicermati dari dekat, sebagian besar dari pengendara sepeda motor tersebut masih sangat teramat muda, bahkan ada yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kami pun mencoba mencari tahu kenapa remaja semuda itu bisa berada di jalan yang penuh bahaya. Istilah yang paling sering digunakan bagi pengendara sepeda motor di sini adalah joki. Hal ini dikarenakan biasanya pemilik sepeda motor dengan pengendaranya adalah dua orang yang berbeda. Salah seorang joki yang enggan disebut namanya menyebutkan bahwa ia memang senang dengan ajang seperti ini. Ia merasa bebas dan lepas melakukan tantangan yang baginya menyenangkan. Terlebih bahwa biasanya jika motor yang ia kendarai menang, ia memperoleh hasil dari taruhan balap oleh si pemilik motor.
Penggunaan joki muda dalam ajang ini biasanya dilakukan untuk mempercepat laju kendaraan motor saat adu kecepatan di jalan raya. Semakin kecil bobot sang joki, maka semakin ringanlah beban motor tersebut, maka akan dengan sendirinya mempercepat laju motor. Sayangnya banyak dari para pemilik kendaraan maupun si joki seolah tidak memperhatikan keselamatan dirinya sendiri. Bukan tidak mungkin kecelakaan menimpa si pengendara maupun orang-orang yang berada di sekitar jalan raya yang disulap menjadi arena balap liar tersebut. Si pemilik kendaraan biasanya hanya memikirkan motornya menang, agar mendapat hasil taruhan atau nama dan motornya dikenal di kalangan pecinta balap liar ini. Begitu juga si joki, semakin sering menang, semakin banyak orang yang mengenalnya sebagai joki yang hebat.
Razia yang acap kali dilakukan polisi seolah hanya teguran sesaat yang tidak ada artinya. Setelah razia, para pembalap jalanan ini kembali beraksi. Beberapa kali polisi harus berjaga hingga pagi agar anak-anak muda itu tidak kembali.
Lebih parahnya lagi adalah bahwa kecelakaan dalam arena ini pun beberapa kali terjadi. Bagaimanapun sepinya jalan raya, tetap saja ada pengguna jalan yang melintas. Hal ini tentu menjadi sangat berbahaya jika si pengguna jalan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di jalan tersebut. Tabrakan dengan kecepatan tinggi tentu dapat berakibat fatal, bahkan bukan tidak mungkin kematian menimpa korban.
Semua yang terlibat dalam ajang ini telah risiko, namun hal tersebut seolah angin lalu yang memang tidak menakutkan bagi mereka. Di sini peran aparat terkait sangat dibutuhkan. Di beberapa wilayah di Jakarta, polisi bekerja sama dengan warga sekitar jalan yang biasa dipakai balap untuk melakukan penertiban bagi para pembalap jalanan ini. ?Jenda Munthe