Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Garam Bisnis

Saatnya Menjadi Kepala

Posted : 30 Maret 2011
Saatnya Menjadi Kepala.jpg

Hendrik Lim, MBA*
getex@cbn.net.id

KITA semua singgah di planet ini untuk sebuah maksud. Tidak mungkin hanya numpang lewat menghabiskan waktu. Di balik keberadaaan kita pastilah ada sebuah design: What are we here for.  Dan ketika orang bisa  menemukan alasan keberadaannya,  maka hidupnya mulai terbuka lebar. Semua yang selama ini tidak terlihat dan terbatas mulai tersingkap.   Langkahnya mantap karena mendapat full back up dari bisikan dalam dirinya. Ia tidak lagi hanya akan berkutat menghabiskan waktu dalam ranah survival,  hanya urusan kelangsungan hidup semata.  Apa pun profesi yang dilakoninya,  tidak menjadi masalah: Apakah ia pengacara,  penyanyi,  bisnismen, wartawan,  kaum cendikiawan,  industrialis,  rohaniawan, atau apa pun itu,  ia pasti melesat menembus batas yang selama ini memenjarakan  bakat bawaannya. 
Secara intrinsic,   jawaban atas pernyataan  “kita ada di sini pasti ada alasannya” tidaklah sama bagi Anda dan saya. Setiap orang punya jawaban unik,  tidak ada satu orang pun yang sama. Yang mirip mungkin,  tapi tidak idem dito.  Kita bukan produk cloning. Pertanyaannya adalah: Apakah semua orang menemukan jawaban tersebut?  Mayoritas tidak!  Mereka yang tidak menemukannya umumnya karena terlalu sibuk atas nama rutinitas,  masih bertempur dalam ranah kelangsungan hidup.
Apakah setiap orang pada akhirnya memikirkan pertanyaan tersebut? Ya!   Namun mayoritas memikirkannya pada saat saat akhir hidup,  dalam fase yang sudah sangat terlambat,  dan tidak banyak yang bisa dibuat lagi pada momen seperti itu,  kecuali menyesal!     
Ada yang menemukannya pada umur 30 dan kemudian merancang tangga untuk mencapainya.  Sebagian lagi pada usia 40,  dan kebanyakan orang pada usaia 40-50.   Ini disebut fase golden ages.  Tetapi jauh lebih banyak orang yang menemukannya pada akhir hidup,  pada ujung lorong persinggahannya di bumi,  sehingga tidak sempat lagi membuat tangga,  fisiknya sudah tidak sanggup lagi mendukung,  dan kemudian menyesal,  merasa hidupnya kosong alias tidak meaningful!   Situasi yang paling tragis adalah orang melantunkan pengharapan klise: “Seandainya  saya  boleh melintas satu kali lagi,  hal-hal ini yang akan saya lakukan...”
   
Turning point
Momen turning point bisa  terjadi,  kalau Anda mulai dengan diam,  be still.  Di dalam diam,  ada nilai balas yang amat besar,  dan mulai bertanya pada diri sendiri terus- menerus pertanyaan di atas,  sampai Anda menemukan jawaban di dalam kebeningan. Di dalam diam  dan duduk tenang itu sendiri, ada kekuatan yang amat besar. Kemudian menyalurkannya ke dalam profesi. Bagaimana kita bisa tahu,  kalau yang kita kerjakan itu,  sesuai yang sesuai dengan misi bawaan kita masing masing? Cek dengan dengan diri sendiri: Anda  akan sangat suka dan menggebu-gebu saat mengerjakannya. You will love it.   Kemudian membangun kompetensi di atasnya,  sehingga punya dasar yang kuat dan memiliki daya saing yang unggul—competitiveness yang tinggi. Dunia tidak membayar harga premium untuk apa pun yang tidak punya keunggulan.
Apakah kita bisa menerapkan hal tersebut,   kalau dalam kenyataannya sehari-hari,  kita bekerja pada sebuah organisasi atau korporasi?  Yes! Sama saja.  Setelah Anda menemukan personal mission tersebut dan membangun kompetensi di atasnya, cari tahu dasar eksistensi atau alasan berdirinya organisasi.  Tanya pendiri orgasasi: mengapa organisasi tersebut didirikan. Anda akan menemukan gregetnya,  sesuatu yang mendorong mereka mendirikan organisasi tersebut. Roh atau spirit di balik alasan hadirnya organisasi tersebut.    Dan kemudian cari di mana overlapped,  antara your individual mission dan organizational mission.   Lalu kerahkan tenaga dan pikiran Anda habis-habisan di sana. Anda akan amat senang dan organisasi pun demikian. Dan ketika itu terjadi,  Anda akan bergetar dalam resonansi yang sama dengan pendiri, pemilik organisasi
Mereka  yang berhasil menemukan overlap tersebut,  akan menggunakan organisasi sebagai medium—sebuah intermediary—untuk menjawab pertanyaan misi individu: “kita ada di sini pasti ada maksudnya,  sesuatu yang menjadi dasar kehidupan,  the reason for existence ”. 
Mereka merasa berada di atas kapal yang berlayar ke arah yang sama,  akan mati-matian menjaga kapal tersebut,  dan merasa kapal tersebut miliknya. Bukan  lagi sekadar penumpang,  apalagi melakukan sabotase dalam kapal.
Jim Collin Seorang peneliti besar dari Amerika,  meneliti 1.435 perseroan dalam 15 tahun,  dan menemukan organisasi yang sanggup bertahan, dan sanggup berkembang dari good to great,  adalah organisasi yang sanggup membuat anak buah kapal (ABK)-nya merasa kapal tersebut milik mereka sendiri. Mereka menjalankan organisasi seperti miliknya sendiri. Run it like you own it. Itulah mentalitas entrepreneurship. v
 

59
148 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201120102009
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.3885 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net