Reformata.com - PADA 12 September 2002 silam, seorang bayi perempuan dilahirkan seorang perempuan yang menderita keterbelakangan mental. Sebelumnya, perempuan itu berusaha menggugurkan bayi dalam kandungannya itu dengan cara mengomsumsi berbagai macam obat. Akibatnya, bayi lahir dengan mengalami kelainan jantung yang cukup parah. Karena kondisi ekonomi si ibu yang kurang mendukung, bayi yang tidak diketahui siapa ayahnya ini ditiipkan ke Yayasan Abas. Dia diberi nama Flora. Sayang, bayi yang diharapan akan tumbuh bagai bunga indah itu harus layu dan kembali ke pangkuan Sang Pencipta, pada 7 Januari 2004. Dia meninggal sehari setelah menjalani operasi jantung yang kedua. Itu salah satu kisah sedih yang mewarnai Wisma Harapan Yayasan ABAS.
Bagaimana Yayasan Abas berdiri? Tujuh belas tahun lalu, tepatnya pada 11 Maret 1994, seorang perempuan berkewarganegaraan Belanda, Sr. Rina Ruigrok, bersama beberapa teman mendirikan yayasan. Mereka menamakannya Yayasan Awam Bina Amal Sejati. Sebuah yayasan yang mewadahi kaum awam untuk mengasihi, melayani dan membantu mereka yang miskin, tersisih dan telantar.
September 2000, Sr. Rina dipanggil Tuhan dalam usia lanjut. Namun visinya tidak mandeg. Karyanya itu dilanjutkan penerusnya, Maria Rosa Tirtahadi, wanita sederhana yang membaktikan seluruh hidupnya untuk orang yang kurang beruntung, kendati dia dilahirkan dari keluarga yang secara ekonomi cukup terpandang.
Yayasan ABAS memulai karyanya dengan meminjam dua rumah di Parung Bogor, milik orangtua Rosa untuk menampung para wanita yang sakit dan lanjut usia. Seperti tujuan awal dibangunnya panti ini khusus bagi orang-orang lanjut usia, atau orang-orang yang sakit parah, mempersiapkan mereka menghadap Sang Pencipta. Namun demikian, menurut Rosa, pemimpin sekaligus pengelola panti milik Yayasan Abas, seiring berjalannya waktu pelayanan yayasan Abas kian melebar. “Yang datang bukan hanya orang-orang lanjut usia, tapi ibu-ibu sehat, yang tidak punya suami dengan membawa anak-anak mereka,” terang Rosa.
Maka tak heran jika kini jumlah anak di Yayasan Abas mendominasi, yakni sekitar 39 anak-anak, ditambah 12 oma-oma, dan 16 tunawisma yang dua di antaranya mengalami cacat mental, dan satu benar-benar tidak bisa melihat.
Mengurus sekian banyak anak dan orang tua tentu tidak mudah, apalagi tidak hanya kebutuhan fisik atau materi saja yang harus dipenuhi, tapi juga kebutuhan psikologis dan spiritual. Karena itulah siapa pun yang ingin melayani di Yayasan Abas harus siap mental. Bagi Rosa, wanita kelahiran Jakarta 11 Maret 1962 ini,memenuhi kebutuhan fisik atau materi tidaklah terlalu sulit, tapi yang lebih sulit adalah memenuhi kebutuhan psikologis dan spiritual anak dan orang tua.
“Tapi untung kami dibantu psikolog dan psikiater yang merupakan teman-teman saya. Yang terpenting adalah, bagaimana menghadirkan Tuhan dalam karya ini. Manusia tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Tuhan. Biarlah Tuhan yang bekerja,” jelas Rosa.
Jangan menghakimi
Dengan prinsip “menghadirkan Tuhan dalam karya” inilah Rosa mengajak seluruh penghuni Yayasan Abas, agar tidak mudah menuding, apalagi menghakimi orang. Sebab tidak jarang orang yang datang ke Yayasan Abas adalah ibu tanpa suami yang kemudian menyerahkan anak mereka. Ironisnya, bukan hanya satu kali, ada pula yang tiga tahun kemudian datang kembali dengan membawa momongan. Kendati demikian kepada penghuni Yayasan Abas, termasuk karyawan, Rosa menekankan betul agar janganlah sekali-kali menghakimi. “Kita semua orang berdosa. Tapi di lain pihak, ya jangan mencontoh, terutama untuk anak-anak saya yang remaja,” urai Rosa.
Rosa juga menambahkan bahwa segala sesuatu pasti ada maksud baik dari Allah. “Saya percaya kalau anak itu lahir, diserahkan kepada saya, tanpa saya mencari-cari, pasti Tuhan mempunyai tujuan yang positif, baik untuk diri saya, untuk orang yang tinggal di sini, maupun anak itu sendiri. Ada satu berkat indah yang tersembunyi,” tandas Rosa.
Aktivitas yayasan
Penghuni yayasan ini memulai aktivitas mulai pukul 05.00 pagi, diawali doa pagi bersama-sama usai merapikan tempat tidur masing-masing. Setelah itu anak-anak berangkat ke sekolah. Sementara oma-oma, yang memang tidak ada aktivitas di luar, berkumpul bersama untuk kembali bersekutu dalam doa pagi khusus oma. Ini adalah bagian dari pemenuhan dahaga spiritual binaan Yayasan Abas.
Tak hanya itu, Yayasan Abas juga membekali serta mengasah potensi anak-anak sejak usia dini dengan berbagai macam les mulai dari les balet, renang, organ dan gitar. “Kebetulan yang punya sekolah balet adalah bendahara Yayasan Abas, jadi gratis,” tambah Rosa. Sedangkan kepada orang tua, Rosa lebih mengarahkan kepada pendampingan. Mengajak mereka bersyukur walaupun mereka tidak punya keluarga, mendekatkan diri kepada Tuhan.
Untuk memastikan seluruh aktivitas di Wisma Harapan berjalan rapi, Rosa tak segan-segan turun sendiri mengatur, kendati ada 20 karyawan dan pengasuh, termasuk orang kepercayaannya yang siap membantu. Rosa juga menerapkan aturan-aturan yang harus dipatuhi bersama, dan menurut Rosa semua aturan tersebut harus ditulis. “Ada aturan asrama, misal tidak boleh ke kamar lain, sampai pemakaian mesin cuci pun harus ditulis.
Saat ini Yayasan Abas telah memiliki tiga wisma, yakni wisma Harapan Kasih, Wisma Sr. Rina Ruigrok dan Wisma Geovani, yang semuanya diperuntukkan bagi pelayanan orang miskin, seperti yang sudah berjalan selama ini. Ke depan, kepada seluruh anak asuhnya, Rosa berharap, walaupun mereka merasa sebagai orang-orang terbuang, tapi mereka dapat merasakan cinta kasih di Wisma Harapan Kasih Yayasan Abas. “Saya berharap, suatu saat mereka pun dapat membagikan kasih mereka, jangan sampai trauma masa lalu di keluarga mereka menjadi hambatan untuk membagikan kasih ke sesama, terutama keluarga mereka kelak,” tutur Rosa.Slawi