Esther Silalahi, Ibu Anak Cedera Otak,
Reformata.com - ESTHER Patricia Silalahi, yang lahir di Bandung, 27 Juli 1969 ini dikenal sebagai seorang perempaun yang penuh semangat, berkemauan keras, tegas, dan memiliki senyum yang ramah. Apa yang menarik di balik kisah hidupnya sebagai ibu untuk kedua buah hatinya: Oswin dan Osbert?
Pasangan Esther dan Bonar Manahan Siahaan sangat bersyukur dan berbahagia ketika pada 17 Oktober 2003 lahir putra pertama mereka dan diberi nama Oswin. “Oswin sehat dan sempurna, tak ada kelainan atau pun cacat yang ditemukan melalui catatan rumah sakit,”ungkap Ester mengingat masa kelahiran itu.
Oswin bertumbuh menjadi anak manis yang memberi kebahagian untuk keluarga besar Silalahi dan Siahaan. Di usia 6 bulan Oswin belum bisa duduk. Usia 7 bulan baru bisa tengkurap. Usia 9 bulan belum bisa duduk dan berdiri. Kondisi ini mendorong Esther untuk memeriksakan anaknya ke rumah sakit. “Ini terlambat perkembangan, Oswin harus diterapi,”ungkap dokter yang memeriksa Oswin saat itu.
Proses 3 bulan terapi, Oswin mulai duduk bersandar dan mulai merangkak. Di usia 13 bulan, terdengar Oswin menjerit dari kamarnya. “Kaki dan tangan Oswin bergerak tiada henti. Selama 1½ jam tidak dapat pertolongan. Waktu itu saya sedang hamil 5 bulan,” kisah Ester mengenang masa itu. Esther memeluk Oswin. “Tenang ya Nak, kita hadapi ini sama-sama. Banyak yang sayang kamu,” Ester mencoba menenangkan Oswin sejenak dan terus berupaya bersama sang suami untuk melakukan pemeriksaan berikutnya, baik melalui EEG, MRI, pemeriksaan darah, namun semua normal.
Beberapa bulan kemudian, dalam masa pergumulan untuk kesembuhan Oswin, lahir lagi seorang putra dan dinamai Osbert, pada 19 Februari 2005. Senyum bahagia kembali hadir, namun saat bersamaan Oswin masih membutuhkan perhatian ekstra. Tangan Oswin selalu bergetar, dan dokter tidak menemukan penyebab serta apa penyakit Oswin.
Osbert ternyata tidak jauh berbeda dengan kakaknya Oswin. Kelahirannya dinyatakan sempurna, namun dalam usia 6 bulan juga tidak bisa tengkurap. Setelah beberapa kali pemeriksaan, akhirnya ditemukan bahwa EEG Oswin dan Osbert berantakan luar biasa. Benar-benar penuh dengan perjuangan untuk dapat membesarkan kedua buah hatinya ini. Segala upaya dilakukan Ester dan Bonar demi kesembuhan mereka.
“Saya sedih namun tidak kecewa, mengenal jalan-Nya itu yang harus dicari. Ada beberapa perasaan yang dominan, yaitu keraguan dengan imanku sendiri,” ungkap Ester menahan haru mengingat tahun-tahun yang berat itu.
Iman
“Tuhan, lihatlah anak-anakku. Tidak usah mendengarkan doa saya, tapi dengarkanlah doa anak-anak saya, dan mereka yang berdoa untuk anak-anak saya. Jika imanku tidak cukup, lihat saja mereka yang cukup imannya yang bisa membantu kesembuhan anak-anakku,” doa Esther penuh derai air mata.
“Kalau Kau tahu aku beriman pada-Mu, aku menggantungan kehidupan anak-anakku hanya kepada-Mu. Sampai kapan semua ini akan berlangsung? Hal yang paling kutakutkan suatu hari aku tak dapat memiliki mereka. Hal ini cukup menekan, dan kadang melilitku,” kata Ester pilu.
Tuhan tetap menghadirkan pelangi dalam hidup Esther dan keluarga. “Pertolongan itu datang dengan membaca Alkitab, kiriman email sahabat-sahabat yang menguatkan. Para konselor yang memberi hati dan telinga mereka, serta kemajuan Oswin dan Osbert. Aku semakin yakin kepada Tuhan,” ungkap Esther dalam pergumulan panjang bersama kedua buah hatinya.
Esther dan keluarga dituntun untuk mengalami proses naik-turun bagaimana bersyukur. “Aku kecapekan,” ungkap Ester jujur. Namun sejalan dengan itu, kehidupan Esther dan Bonar semakin saling memahami dan terus bertumbuh dalam pengenalan sebagai suami-istri, maupun bersama Tuhan.
Harapan
Demi Oswin dan Osbert, Esther meninggalkan pekerjaan sebagai staf World Vision Indonesia. Dia ingin di rumah membentuk pelayanan baru untuk dirinya dan anak-anak. Mengatur jadwal seharian untuk latihan dan kegiatan buah hatinya. Mengatur menu makanan, mengarahkan pengasuh anak untuk dapat menolong Esther menjalankan latihan. Membuat laporan kegiatan dan evaluasi untuk perkembangan kedua putra yang sangat dicintainya.
“Harapanku, Oswin dan Osbert bisa menikmati hidupnya. Aku rindu bisa berkomunikasi dengan mereka. Mengetahui apa yang mereka inginkan, sukai, dan rasakan. Semoga mereka juga memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan,” kata Esther.
Pengalaman tak terlupakan tentang hubungan manis dengan Tuhan, saat Oswin masuk rumah sakit karena demam dan panas 41 derajat celsius. Denyut jantung, tekanan darah tidak jelas. Oswin harus masuk ICU, Kupeluk infus dan mulai bersuara: “Oswin lihat Mama, dengarin Mama kita doa bersama. Oswin masuk ruang ICU sendiri. Oswin sekarang berdoa sama Tuhan, kalau Oswin mau sembuh, Tuhan Yesus sembuhkan Oswin, tapi kalau cape sama Tuhan Yesus saja,”
Oswin lagi menggigil kesakitan, kemudian menjadi tenang dan menatap Esther tajam. Esther tak tahan dengan tangisnya dan mengantar putra sulungnya ini memasuki ruang ICU. Tanpa sadar panas itu turun menjadi 36 derajat celsius. “Aku menyimpulkan Oswin punya hubungan manis dengan Tuhan,” urai Esther bahagia menyimpulkan kejadian tersebut.
Bagaimana mereka bisa menikmati hidup. Kalaupun Tuhan menentukan anak-anakku harus tetap memakai selang untuk makan. Mereka tetap tidak dapat berjalan, selama mereka bisa mengerti itu, aku bisa bercerita kepada mereka. Aku ingin tahu tanggapan mereka, kalau mereka pahit, aku bisa membantu. Kalau sedih, senang, aku tahu. Naik-turun dapat berkomunikas dengan mereka, mengerti dinamika mereka, kerinduan Ester mendalam memaknai semua yang terjadi.
Di sisi lain, Osbert tetap menangis kalau mau tidur, ternyata karena dijanjikan membaca Alkitab tidak dilakukan oleh ayahnya. “Osbert mau baca Alkitab?,” pertanyaan itu menenangkan Osbert sekaligus membangunkan kebahagiaan Bonar untuk memperhatikan setiap janjinya kepada anak-anaknya.
Kala Osbert kejang, Ester mendekatinya dan mulai berkomunikasi: “Berth, ibu tahu ini tidak enak, ini sakit. Satu-satunya yang harus kamu lakukan, adalah bernyanyi dan berdoa. Jangan mengeluh. Dia masih gemetar tapi dia berhenti mengeluh sama Tuhan,” kisah Ester memberi keharuan tersendiri. Demikian juga ketika ada anak-anak Sekolah Minggu GPIB Markus datang untuk menyanyikan lagu natal, kehadiran mereka membuat Osbert menjadi tenang.
Oswin dan Osbert memberi banyak arti dalam kehidupan Ester. Kekuatan cinta mempengaruhi Ester untuk terus mengasihi dan mendampingi mereka, walau mereka cacat dan tak berdaya. “Mereka pemberian Tuhan untuk kami. Belum pernah ada org yang meliht oswin dan osbert, mencela Tuhan. Sebaliknya mereka mengakui: Tuhan itu baik. Tuhan merangkai hidup mereka untuk memuliakan namaNya,” ungkap Ester memaknai kisah panjang bersama kedua buah hatinya.
Lidya