Hendrik Lim, MBA*
getex@cbn.net.id
RODA gila arus turbulensi perubahan bergerak begitu cepat dan dinamis. Semua hal yang terkondisi bergerak menurut waktu dan tuntutan jaman. As-pirasi berubah, selera dan gaya hidup konsumen meningkat. Kebutuhan dan keinginan tidak pernah statis. Selalu bergerak. Mengharapkannya tetap bergerak di tempat adalah sebuah autisme
Arus perubahan yang begitu cepat ini dan konsekuensi yang menyertainya, tidak saja mene-robos dinding individu, tetapi juga organisasi dan korporasi. Dan kalau akibat yang terjadi menggejala hampir pada semua korporasi, maka itu dapat diartikan melanda sebuah industri. Sebuah gambaran mini terhadap kompetensi sebuah negara. Bahkan negara ortodok dan konservatif di Timur Tengah dan jazirah Afrika Utara pun yang dibungkus pagar kuat-kuat dalam doktrin agama pun satu per satu mulai digasak arus globalisasi.
Oleh karena itu kita bisa melihat negara–negara yang dahulu, dua puluh tahun yang lalu dianggap maju pada jamannya, seperti Filipina dan Argentina, namun kini seolah jalan di tempat, atau makin mundur dari track perlombaan, lalu terpinggirkan. Teraleniasi se-cara perlahan dari radar dunia. Dan pada saat yang bersamaan ki-ta melihat negeri seperti Malaysia yang on the fast tract bergerak makin cepat dalam derap perlombaan ini.
Itu berarti ada yang menang dan ada yang kalah. Lazimnya seperti sebuah pasar bebas, ia menuntut bahwa hanya yang bisa bertahan dan menang dalam sengitnya perlombaan saja, yang boleh terus hidup. Ia bak mengusung hukum evolusi: maaf hanya yang bisa adaptif terhadap cepatnya sebuah perubahan saja yang bisa tetap berlaga dan menjaga keles-tariannya. Dan untuk bisa bertahan dan menang dalam roda gelinding evolusi yang amat cepat ini, orang memerlukan sumberdaya dan perlengkapan perang yang tepat. Dan tanpa itu hanya sebuah rintihan penyesalan yang akan lebih sering terdengar. Apa yang membuat kita bisa berkata demikian?
Cepatnya deru perubahan saat ini, dalam balutan inovasi teknologi yang terjadi setiap hari—apalagi kalau dibandingkan dengan laju kecepatan evolusi tempo doeloe—itu hampir sama saja dengan sebuah revolusi yang terjadi secara tiap hari tanpa kita sadari. Perubahan yang begitu cepat itu membuat sebagian besar orang kehilangan daya saing kompetitifnya, karena sebuah keahlian yang dahulu dengan susah payah diperolehnya dan digenggamnya erat–erat, ternyata kini tidak diperlukan lagi oleh pasar, alias dianggap usang. Dan itu membuat orang secara tidak sadar ‘tidak begitu suka‘dengan derap perubahan ini, karena getah pahit sebagai efek samping dari badai perubahan itu.
Pihak yang kalah, secara perlahan akan makin menderita. Pendapatan makin kecil secara riel, sementara ongkos kehidupan makin bertambah, sehingga kualitas hi-dup individu makin menurun. Keadaan ini seperti seorang pensiunan yang pu-nya penghasilan tetap, tetapi ongkos kesehatan yang makin membengkak karena organ tubuh yang mulai rusak. Orang menyebut kondisi ini sebagai old sick man. Secara alamiah tu-buh manusia akan makin rentan dan makin memerlukan ongkos, perhatian dan perawatan yang ma-kin mahal saat makin usang. Selain expenses yang bertambah besar, juga output produktivitas akan makin kecil.
Ini artinya orang atau korporasi akan semakin tidak produktif dan efisien kalau ia hanya mengerjakan sesuatu “yang tetap” sementara waktu “terus berjalan”. Itulah fakta sebuah realitas fisik badan manusia, ia persis seperti kondisi mesin mobil, makin tua ditelan waktu, makin mahal biaya perawatan sebuah mobil dengan mesin tua. Ia haus ditelan umur. Dan kini gelombang perubahan itu tidak hanya menaklukkan organisasi korporasi dan industri yang tidak siap. Rezim yang punya senjata dan takhta pun sekarang harus berlutut di hadapannya.
Sosok dan watak personalitas seperti apa yang harus Anda miliki agar bisa menjawab tantangan besar dalam evolusi yang berlangsung makin hari makin cepat ini? Mereka yang mempersiapkan diri dalam menjawabnya, akan menjadi the winner of changes, pemenang atas perubahan-perubahan.v