Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Kredo

Kaum Awam Pun Wajib Temukan Jiwa Yang Hilang

Posted : 02 Mei 2011
penginjilan.jpg

Pdt. Yusuf Dharmawan

FIRMAN Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi pelayan Tuhan. “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu”. ( 1 Korintus 6: 20). Panggilan ini berlaku untuk semua orang percaya. Oleh karena itu pelayanan tidak terbatas hanya pada rohaniwan saja.  Bahkan kaum awam dapat melayani lebih efektif sebab mereka merupakan gereja yang tersebar, larut dalam dunia, merembes jauh ke dalam masyarakat sekuler lebih daripada para rohaniwan.

Orang yang hilang
Disebut “hilang” bukanlah hilang secara fisik, ekonomi atau posisi geografisnya di bumi, melainkan merujuk pada hubungan spiritualnya dengan Tuhan. Kata “hilang” diambil dari Lukas 19:10 “… Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”.  Mereka adalah orang orang yang belum mengakui Yesus itu Tuhan dan belum menjadi anggota sebuah gereja. Agar orang hilang ini dapat menjadi anggota gereja, George Hunter III mengusulkan agar mereka diajak mengikuti ibadah secara rutin dan dilibatkan dalam kelompok kecil yang dikelola gereja tsb. Menurut penulis, hubungan dapat dijalin di mana saja, seperti di tempat kerja, di rumah atau di mana pun mereka dapat ditemui, tidak harus di dalam gereja.
Gereja dalam usahanya menjaring orang sering menggunakan cara cara yang tidak sistematis atau terarah, sehingga banyak orang yang belum percaya menjadi ragu untuk datang beribadah. Keharusan bertepuk tangan, melambai-lambaikan tangan dalam iba-dah atau memakai pakaian dengan model tertentu, dapat menyebabkan pengunjung baru merasa tidak nyaman. Mereka berpikir gereja akan mengubah kebiasaan mereka.

Strategi
Ketika seorang awam menginjili, tanggung jawabnya tidak berhenti di situ saja. Ia harus memperlengkapi orang baru itu, agar dapat menjadi bagian dalam proses pertum-buhan gereja. Jika gereja hanya menjadikan seseorang sebagai anggotanya, berarti hanya menambah jumlah jemaatnya. Seharusnya gereja menjadikannya seorang ‘murid’, yang  nantinya sang murid ‘memuridkan’ yang lain. Roland Griswold, berpendapat bahwa  penginjilan yang benar, yaitu gereja harus berfokus pada ‘pemuridan’ untuk memenuhi “Amanat Agung” Tuhan. Kerajaan Sorga berkembang melalui pemuridan yang terus-menerus,  mencari orang hilang de-ngan penginjilan, pembinaan dalam gereja, dan  mengirim para murid ke ladang penginjilan. Siklus ini harus terus bergulir sampai kesudahan jaman. Dengan demikian jika seorang awam menyadari perannya dalam bersaksi, mereka perlu juga belajar bagaimana memuridkan.
Strategi mencari orang hilang dapat dilakukan sebagai berikut: Pertama, kaum awam  harus membuka mata rohani mereka, dan melihat betapa  pentingnya dan tanggung jawab mereka menjadi saksi. Orang orang yang Tuhan pertemukan dalam kehidupan seseorang seperti: kaum kerabat, teman, dan teman sekerja adalah orang orang perlu dikenal lebih dekat. Pendekatan dapat dengan cara, minum kopi bersama atau makan siang bersama. Topik pembicaraan dengan kaum kerabat bisa saja tentang keluarga, dengan teman peristiwa peristiwa yang terjadi akhir akhir ini, dan dengan teman sekerja pekerjaan yang sedang dilaksanakan perusahaan.
Kedua, kaum awam harus menya-dari bahwa tidak ada ‘penginjilan instan’ – langsung
ada hasilnya, karena penginjilan adalah suatu proses. Perlu langkah demi langkah menjadikan seorang murid Kristus.  Konsekuensinya, kaum awam harus memperlengkapi diri dengan materi yang memadai. Usahakanlah sering bertemu dengan mereka dan menikmati kebersamaan itu. Jelas ada perbedaan waktu yang diberikan untuk mereka, mengingat posisi/jabatan mereka dan kemam-puan mereka.  Pertemuan diisi dengan doa bersama yang  mengekspresikan kepedulian satu dengan yang lain. Isi doa harus sesuai dengan kebutuhan mereka yang unik, dan situasi yang dihadapi.
Ketiga, kaum awam berlatih cara-cara menjangkau jiwa. Pelatihan ini bertujuan agar kaum awam punya kemampuan mereproduksi murid ( 2 Timotius 2: 1-3 ). Kedua belas murid yang dipilih Yesus dan pengutusan tujuh puluh murid, menunjukkan mereka yang telah mene-rima Yesus sebagai Tu-han bertumbuh dalam pelayanan mereka.  Prinsip yang Yesus ajarkan adalah prinsip pemuridan yang bereproduksi. Perlu kepekaan saat mengomunikasikan In-jil, mungkin saatnya tepat atau tidak, atau  caranya tepat atau tidak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan: a) Dengarkan lawan bicara dengan penuh perhatian. Berkonsentrasi pada apa yang  mereka bicarakan. Perhatikan ‘gerak tubuh’, tatap mata, anggukan, dan senyuman penuh pengertian dlsb; b) Hubungkan dengan kebutuhannya. Hubungan yang dekat dan bermakna termasuk  cara membagikan pengalaman, kesedihan, sukacita, kesuksesan, kegagalan, kepahitan dan kekecewaannya; c) Mempergunakan bahasa yang dapat dipahami. Membagikan pengalaman akan menolong kerabat atau teman yang belum percaya. Mereka akan ikut merasakan indahnya hubungan dengan Tuhan yang mempengaruhi dalam tindakan dan cara berpikir.
Keempat, perlu pelayanan yang relevan dengan kebudayaan.  Kebu-dayaan mengubah metode penginjilan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Masa depan akan berbeda dengan masa sekarang ini. Penulis mengusulkan penginjilan pribadi dalam pendekatan bagi orang hilang, karena kaum awam akan menghadapi orang orang yang berbeda dari jaman ke jaman. Ketika kaum awam melakukan penginjilan pribadi ke  teman, tetangga dan orang orang yang ditemuinya dalam kehidupan mereka, gereja akan bertumbuh. Penginjilan pribadi dapat menjadai pola yang sangat penting agar gereja bertumbuh. Dengan mengetahui umur, status perkawinan, dan pekerjaan merupakan bagian dari pemuridan. Semakin mengerti interesnya, kepe-duliannya pada sesuatu hal, dan kebutuhannya, semakin dalam dan semakin bernilai hubungan itu. Perlu juga diketahui, mengapa mereka belum mau percaya kepada Yesus?  Apa yang mereka ketahui tentang kekristenan? Atau mereka salah mengerti tentang kehidupan Kristen?
   
Halangan
Beberapa halangan yang mungkin terjadi dalam penginjilan kaum awam: Pertama, kaum awam sering berpikir bahwa penginjilan adalah tugas rohaniwan. Selain itu mereka berpendapat bahwa rohaniwan adalah orang yang dipekerjakan gereja untuk menyelesaikan tugas-tugas gereja. Hal ini mengakibatkan mereka pasif saja. Kedua, mereka merasa bahwa gereja hanya memberi perhatian sedikit dalam peginjilan di tempat kerja (market place). Ketiga, kurang pengetahuan dan pengalaman dalam hal memobilisasi kaum awam. 
Akhirnya, kita dapat menyimpulkan, bahwa fungsi utama gereja dalam hal ini para pemimpin gereja, ada-lah memperlengkapi jemaat untuk pelayanan ( Efesus 4:11-12), se-perti rencana, goal-goal yang akan dicapai, sasaran-sasaran dan tindakan-tindakan (action plan). Jadi, merupakan tanggung jawab setiap orang percaya melayani sesama. Tugas para pemimpin adalah mendorong jemaat memenuhi panggilan Tuhan itu dan menolong jemaat melangkah mencapai goal yang telah ditentukan. Kaum awam akan menghasilkan buah, dan hidup dalam kedewasaan iman kepada Tuhan.v

60
130 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.3782 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net