Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Bincang-Bincang

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj MA:Jangan Ada Hajatan, Baru Bekerjasama!

Posted : 02 Mei 2011
Said Aqil Siraj.jpg
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj MA, Ketua Umum PBNU

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj MA, Ketua Umum PBNU

Bagaimana strategi untuk mencapai kerukunan umat beragama di Indonesia, khususnya antara Islam dan Kristen?
Bangsa ini secara keseluruhan sedang sakit semuanya. Itulah yang menimbulkan perasaan sa-ling tidak percaya, saling curiga, padahal kita sudah berusaha membangun persatuan lintas agama dan lintas etnis. Itu dimulai dengan kesenjangan ekonomi, kesenjangan sosial, kesenjangan intelektual, kesenjangan peradab-an. Kesenjangan itulah yang menimbulkan rasa iri, rasa ada diskriminasi dan mulai mengusik toleransi dan mulai menimbulkan sikap intoleransi. Itu terjadi dalam kedua belah pihak, baik Islam terhadap Kristen maupun Kristen terhadap Islam. Padahal dua agama itu adalah agama universal, agama yang membawa misi kemanusiaan. Kristiani mem-bawa misi kasih sayang, Islam membawa misi rahmatan lil alamin. Sebenarnya, seharusnya dan sewajarnya keduanya saling menyempurnakan, saling bahu dalam memperjuangkan visinya itu.

Mengapa keduanya terjadi konflik?
Pertama arus globalisasi yang mempengaruhi kita sehingga digilas jati diri kita. Arus kehi-dupan pragmatis materialistis hedonistis, masing-masing ingin mewah masing-masing menurut kelompoknya atau golongannya, ingin hidup lebih, ingin lebih berkecukupan. Itu antara lain, di samping hard pollitic yang tidak  jelas. Hukum yang belum ditegakkan  sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Itulah yang menyebabkan apa yang didapat  dalam gereja atau dalam masjid, nasihat kiai, pendeta atau pastor, tidak mampu mewarnai kehidupan masyarakat sehari-hari.
Ajaran agama yang diajarkan oleh pendeta atau pastor di gereja itu atau ulama di masjid belum mampu mewarnai kehidupan ber-masyarakat sehari-hari. Sebatas doktrin di gereja dan di masjid, belum mampu menjadi dan mewarnai kehi-dupan kita sehari-hari. Kitab Suci  hanya sebagai hapalan, hanya literal. Hurufnya yang bolak-balik dibaca, berulangkali dibaca tapi belum mampu diamalkan secara aplikaktif.
Ada erosi nilai-nilai. Kita lihat ikatan kekeluargaan yang memudar, ikatan per-saudaraan yang memudar, juga ikatan bangsa juga sudah sangat tipis sekali. Yang paling  mendasar ada-lah belum tegaknya hukum secara adil, belum tegaknya dan belum me-ratanya kesejahteraan, se-hingga guidence itu seperti tidak ada artinya. Nasihat atau wejangan atau tausiyah dalam bahasa Islam dari kiai itu belum ada bekasnya. Karena beda dalam masjid, beda juga kenyataan dalam kehidupan di luar.

Ada erosi nilai-nilai kebang-saan?
Arah bangsa ini makin tidak jelas. Di mana kebetulan juga masuk era globalisasi, era yang sangat mengancam jati diri kita. Yang seharusnya kita mempertahankan jati diri kita, bila perlu kita mewarnai era globalisiasi ini, ternyata malah kita  tergilas olehnya. Sudah tidak lagi mempunyai jati diri lagi. Saya lihat orang Cina itu, meskipun sudah intelek, sudah menjadi orang besar, dengan barong sai masih fanatik.  Orang kita tidak. Kalau sudah di Jakarta sudah intelek, sudah menjadi besar, tidak mau seni pendesaan atau seni rakyatnya. Sudah malu dengan ketoprak, atau topeng atau tari, karena sudah intelek.

Agama sendiri tidak menga-jarkan intoleransi?
Ya jelas. Kristen punya misi kasih sayang atau cinta kasih. Islam punya rahmatan lil alamin. Seperti sudah saya katakan tadi, keduanya sebenarnya saling melengkapi. Saling menyempurnakan dan mem-bangun bangsa yang beradab. Target semua agama adalah  pe-radaban. Bukan hanya doktrin teo-logi.  Percuma doktrin teologi dihafal kalau tidak membawa keadaban.  Makanya Islam, Nabi Muhamaad membangun kota Yatrib menjadi Madinah, artinya masyarakat yang beradab. Di dalamnya ada lintas agama, ada muslim pendatang, ada muslim pribumi, ada muslim yang Yahudi, ada Kristen. Kemudian menjadi kota Madinah. Madinah itu artinya yang beradab. 

Fungsi dialog antara agama masih perlu?
Oh sangat dan harus  terus digalakkan. Di Qur’an sangat menghendaki-nya. Memang ada kele-mahan di masyarakat kita sekarang ini. Ketika mau ada hajatan besar, baru kita buat dialog. Di Kristen misalnya, ketika mau bangun ge-reja baru mendatangi masyarakat Islam untuk mendapatkan persetuju-an dan sebagainya. Orang Islam pun begitu. Ketika mau buat acara, baru ajak umat non-muslim untuk bersama-sama. Itu salah. Sebab kalau kelompok Kristen mau membangun tem-pat ibadah, seharusnya se-belumnya sudah saling kenal, sudah ada kebersamaan, kerjasama atau koperasi,  kebersamaan bisnis, keber-samaan di bidang sosial. Kalau sudah begitu, membangun gereja tidak ada masalah.
Tapi banyak gereja yang eksklusif. Ketika  mau bangun gereja baru cari tanda tangan dari masyarakat sekitar.  Sebenarnya membangun kebersamaan atau membangun persaudaraan itu bukan karena membangun gereja, bukan karena ada kebutuhan mendesak. Coba kalau kita sudah biasa membaur, biasa kumpul-kumpul bersama entah aktivitias sosial, kesehatan, atau pameran, sudah sering bersama, maka semuanya akan lebih mudah. Jangan tunggu ada hajat besar baru melakukan kerjasama.
 
Kenapa agama gampang sekali dijadikan alat provokasi?
Karena agama itu menyangkut emosi. Agama itu iman, kepercayaan dan menyentuh emosi. Beda dengan filsafat. Kalau filsafat itu melalui logika dan rasional. Orang kalau bicara filsafat tidak akan sampai berantam, walaupun berbeda. Saya dengan Anda misalnya aliran filsafatnya berbeda jauh, tidak akan saya pukul. Atau bahkan terjadi perkelahian. Kalau agama, menurut saya, agama saya paling benar, agama Anda salah. Kalau  bilang begitu, ya kita adu fisik. Filsafat tidak, karena filsafat itu capaian akal, capaian rasional, capaian logis. Kalau agama tidak. Percaya dulu, baru kemudian diperkuat dengan yang rasional atau argumentasi rasional.  Kalau filsafat, akal dulu dari premis. Kalau  agama tidak, percaya dulu, baru mencari kebenaran, menjadi argumentasi untuk membenarkan kepercayaan saya. Oleh karena itu mudah sekali tersinggung kalau ada yang menyerang.

Untuk meredam konflik di Islam maupun di Kristen bagaimana caranya?
Ya mari kita membangun persaudaraan dari level bawah. Tidak cukup hanya pertemuan pimpinan atau kelompok elitnya. Kalau di level atas tidak ada persoalan. Misalnya saya dengan Pak Luhut Panjaitan, atau dengan Romo Magnis atau Romo Benny. Semua saya kenal semua. Tapi level bawah itu kan tidak. Pertama, tidak ada rasa kebutuhan, belum terpanggil, belum merasa ada kebutuhan untuk membangun kebersamaan itu. Belum saling membutuhkan. Sehingga mudah sekali terpicu.

Para pemimpin agama masih memiliki posisi strategis dalam proses dialog itu?
Seharusnya ketika kita memberikan khotbah atau nasihat,  kita harus sosialisasikan juga paham kebangsaan. Tapi ada pengkhotbah dari partai tertentu, belum pernah mengatakan, mari kita pertahankan Pancasila, semuanya tentang agamanya. Itu memang harus. Penguatan agama, penguatan Islam itu harus. Tapi perlu disinggung juga dasar kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. 
Paul Makugoru.
 

48
86 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4006 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net