Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Suara Pinggiran

Lamsere Sinambela, Penambal Ban

Posted : 07 Juni 2011
Lamsere-Sinambela,-Penambal-Ban.jpg
Lamsere Sinambela, Penambal Ban
Reformata.com - BELUM lama ini kita memperingati hari Kartini. Perjuangan Kartini me-mang tidak sia-sia. Sekarang kaum wanita tidak harus berada di rumah, namun sudah punya kesempatan yang sama dengan pria dalam banyak hal. Banyak perempuan yang berjuang demi negara. Dalam skala yang lebih sempit perjuangan perempuan juga dimaksudkan bagi perjuangan mereka untuk dirinya sendiri atau bagi orang-orang yang dicintainya.
Perempuan yang satu ini misalnya, ia adalah ibu dari lima anak yang hari-harinya dihabiskan di pinggir jalan. Setiap hari sejak pukul satu siang dia sudah ada di pinggir jalan depan kampus UKI, Cawang, Jakarta Timur guna melakukan aktivitas rutinnya. Bersama suaminya dia membuka usaha tambal ban di tempat tersebut.
Selama ini pekerjaan seperti itu biasa dilakukan kaum pria. Namun bagi wanita bernama  Lamsere Sinambela ini, pekerjaan itu sudah biasa. Dia tidak tidak canggung saat seseorang menghampirinya sambil me-nuntun sepeda motor yang bannya kempes karena bocor. Dengan sigap ia membuka bagian luar dari ban tersebut serta memeriksa bagian ban dalam yang bocor. Penampilannya sebagai perempuan paruh baya seolah tersingkirkan dengan tangan yang kokoh saat menggengam linggis kecil membongkar ban dan mengeluarkan ban da-lam yang bocor. Ia pun tidak mengeluh sedikit pun saat melakukan pekerjaannya. Justru ia terlihat santai dengan sesekali berbicara pada pemilik kendaraan bermotor yang ia tambal.

Membantu suami
Menakjubkan jika melihat pemilik postur tubuh sekecil itu bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan kaum pria. Awalnya ia enggan bercerita banyak, ia hanya menjawab dengan singkat bahwa ia berusaha mencari tambahan masukan uang untuk membantu perekonomian keluarganya. Hal ini ia lakukan demi membantu suaminya yang mencari nafkah dengan menjadi tukang ojek motor.
Ibu lima anak ini pertama kali melakukan pekerjaan ini kira-kira sepuluh tahun lalu. Saat itu suaminyalah yang melakukan pekerjaan tersebut. Lamsere hanya berdagang. Namun sering berjalannya waktu pesaing yang memberikan pelayanan jasa yang sama pun semakin menjamur. Hal ini menyebabkan semakin berkurangnya omset mereka. Situasi tersebut memaksa ia bersama suaminya, Thamrin Sihombing untuk mencari cara menambah pemasukan bagi keluarganya. Mengingat sulitnya keadaan ekonomi saat itu. Untuk itu suaminya mengajarkan ia bagaimana melakukan pekerjaan berat tersebut. Selama dua tahun ia terus giat mempelajari dan mencoba apa yang diajarkan suaminya. Awalnya ia membuka ban motor sendiri, dengan susah payah ia terus melakukannya dengan rutin.
Begitu sulit baginya untuk bisa melakukan pekerjaan tersebut. Ia bahkan sempat  merasa rasa sakit yang teramat sangat di tangannya dan mebuat ia seperti tidak dapat menggerakkan tangannya. Dengan dipijat seadanya ia mencoba memulihkan kondisinya tersebut. Setelah pulih, ia tidak jera berlatih, justru ia mencoba lagi usahanya untuk bisa mengerti bagaimana menambal ban dengan baik dan benar. Percobaannya pun harus dilakukan berkali-kali dan sering kali ia gagal menyelesaikan latihannya tersebut. Namun ia tetap gigih dan terus berusaha. Yang ada dalam pikirannya saat itu adalah anak-anak yang harus ia hidupi dan sekolahkan. Terlebih anak-anaknya saat itu masih kecil-kecil dan memang perlu perjuangan besar untuk menghidupi mereka.
Lewat perjuangan yang pan-jang, ia kini dapat melakukan pekerjaan tersebut dengan mudah. Baginya kini hal tersebut adalah pekerjaan yang dapat diselesaikan tanpa bantuan siapa pun. Menarik, ia dapat melakukan sebuah pekerjaan yang bahkan mungkin belum tentu dapat dilakukan kaum pria. Bahkan saat diwawancarai, tidak sedikit pun perempuan kelahiran Doloksanggul, Sumatra Utara ini terlihat mengeluh.

Terus berjuang
Perjuangannya memerlukan tenaga dan mental ekstra. Be-berapa kali ia pernah kehilangan barang-barang penunjang usaha itu karena ada penertiban. Namun ia tidak menyerah dan terus mencoba  meski peker-jaannya tersebut tetap berisiko. Pekerjaan berat dengan pema-sukan pas-pasan harus ia jalani setiap hari. Ia begitu menyadari bahwa keadaan yang sulit tidak hanya ia saja yang menjalani, namun banyak juga orang yang berjuang dengan susah payah demi orang-orang yang ia cintai. Kerasnya kehidupan tidak membuatnya lemah dan menyerah, walau terkadang memang sulit dan menyakitkan.
Bahkan kondisi ekonomi yang berat tersebut sempat membuat ia harus kehilangan salah satu anak tercintanya yang masih kecil. Beberapa tahun lalu, anaknya harus beberapa kali keluar masuk rumah sakit karena anaknya mengidap sebuah penyakit di bagian sumsumnya. Penyakit tersebut membuat anak tersebut harus berulang kali mendapat transfusi darah. Keterbatasan ekonomi dan kurangnya pemahaman yang diberikan dokter kepadanya membuat ia membawa pulang anaknya dari rumah sakit. Tidak lama kemudian anak tercintanya tersebut meninggal. Hal tersebut menimbulkan luka yang dalam baginya dan keluarga. Namun ia tidak mengeluh dan menyalahkan dokter yang menangani anaknya itu. Ia tetap berjuang untuk kehidupan putra-putrinya yang lain dengan berbagai cara.
Ia mengaku bahwa pekerjaan ini begitu berat dan menguras tenaga. Terlebih ia harus mela-kukan pekerjaan tersebut seorang diri mengingat suami-nya pun harus melakukan pekerjaan lain untuk menambah pemasukan bagi keluarganya. Anak sulungnya, seorang wanita, saat ini sudah SMA. Dan baginya tidak mungkin meminta sang anak membantunya bekerja. Satu hal yang patut menjadi teladan bagi siapa pun, adalah  ia tetap bersyukur bahwa Tu-han memberikan tenaga dan kesehatan kepadanya untuk da-pat melakukan pekerjaan ini. Ia hanya berharap,  dapat memenuhi impian putri sulungnya itu yang ingin melanjutkan pendidikan ke universitas.
Jenda Munthe

60
133 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :2011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4201 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net