Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Garam Bisnis

Menaklukkan Target

Posted : 07 Juni 2011
Menaklukkan Target.jpg

Hendrik Lim, MBA*
getex@cbn.net.id

Reformata.com - SEBUAH target menjadi jauh lebih mudah Anda capai, kalau bisa berdiri dan melihat sejajar dari sudut pandang perspektif yang le-bih tinggi. Sebagai contoh:  Kalau Anda menuntun saya mengemudi meloloskan diri dari kemacetan, ma-ka Anda akan lebih mudah melihat dengan jelas dari gedung tinggi, se-perti Gedung BNI 46 di Jakarta.
Bagi Anda yang melihat dari ke-tinggian, semuanya terlihat jelas, keadaan dan tantangan lalu lintas terbentang di hadapan Anda. Se-dangkan saya, dalam ilustrasi ini, yang terjebak dalam kemacetan hanya bisa melihat dari dalam ken-daraan dan tidak punya perspektif setinggi Anda. Ketimpangan ini  akan membuat  frustrasi karena tidak  bisa melihat seperti yang Anda lihat. Akibatnya? Kita bisa terlibat argumen tentang mana jalan yang lebih lengang di ujung sana. Lazimnya orang akan bereaksi alamiah seperti ini: Alih-alih saya mencoba melihat dari sudut pandang seperti Anda yang ada di atas gedung. Yang sering orang malah menentang sang pemberi navigasi dan meminta yang bersangkutan “turun” ke perspektif yang lebih rendah
Perhatikan kalau seorang direktur memberikan target pada manajemen, dan direk-tur tersebut punya kapasistas melihat dari tempat yang lebih tinggi, sedangkan ma-najemennya berkutat dalam kesibukan operasional rutinitas sehari–hari, dan hanya punya kesanggupan melihat dari tem-pat terbatas.  Reaksi standar biasanya:  Management ope-rational–functional  akan bersikap skeptis terhadap kemungkinan tantangan  pencapaian organisasi, atau malah  menjadi masa bodoh dan tidak termotivasi, bahkan melakukan perlawanan diam–diam untuk membuktikan bahwa target yang lebih tinggi tersebut memang tidak masuk akal.
Ketika kepada kita diberi sebuah target yang  ukuran pencapaiannya tidak seperti biasanya,  dalam arti lebih tinggi dari performance rata-rata,  ada dua respons pendekatan yang lazimnya muncul dalam pikiran kita.
Yang pertama: Targetnya diturunkan. Dan inilah yang dilakukan hampir semua orang. Misalanya kalau ukuran pinggang saya hari ini, 36 inch dan celana baru saya berukuran 33 inch, maka cara termudah adalah  menggantinya dengan celana ukuran 36 daripada menurunkan ukuran pinggang saya.
Atau misalnya dalam kehidupan sehari hari, kalau tuntutan uang belanja minimum  rumah tangga seorang manajer adalah  Rp 40 juta, sedangkan  penghasilannya Rp 30 juta, maka 98 dari 100 orang akan meminta istrinya untuk menurunkan ting-kat belanja menjadi  30 juta, bukan malah me-naikkan pendapatan menjadi Rp 40 juta. Itu karena yang pertama akan lebih gampang: Menurunkan tar-get, ketimbang menaikkan kapasitas kemampuan diri, dan akhirnya mencari kompromi.
Menjadi sia–sia menan-tang orang lain untuk menggapai target dengan imbalan muluk sekalipun, apabila kapasitas tangki pemikiran alias mindset-nya tidak diperbesar lebih dahulu. Dalam arti diajak untuk melihat dalam perspektif yang lebih tinggi. Membawanya naik ke atas, sehingga ia bisa punya wawasan melihat dan membayangkan hasil seperti yang diinginkan oleh pemberi target. Kalau “panci pemikiran”nya sudah diperbesar, ia bisa menampung lebih banyak ikan. 
 Memasukkan lebih banyak ikan atau menawarkan ikan–ikan yang lebih besar, tanpa memperbesar pan-cinya terlebih dahulu, akan membuat Anda frustasi dan bergumam: mau diajak maju, kok tidak mau dan akhirnya menyerah.

Bagaimana way out-nya? 
Ubah perspektif dan kapasitas  mindset penerima target, perbesar ukuran panci pemikirannya, dan ia akan siap dan lapar untuk melahap tawaran Anda untuk terbang lebih tinggi. Kita hanya bisa menampung apa pun yang dicurahkan kepada kita sebesar takaran buli-buli yang ada di dalam kepercayaan penerimaan kita sendiri. Yang terakhir ini disebut  capacity development.
Ada sebuah kalimat bijak yang relavan untuk capacity development, bunyinya:  Pray for lighter burdens, pray for stronger backs. Dan ketika mindset sepert itu terjadi, target apa pun yang Anda canangkan, ia akan terwujud dengan sendirinya.v 

46
62 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201120102009
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4112 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net