Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Ungkapan Hati

Rela Terpuruk Demi Melayani Tuhan

Posted : 01 Juli 2011
regi--penyanyi-.jpg

Regi,  Penyanyi dan Pencipta Lagu

Reformata.com - BERPULANGNYA ibunda ke Sang Pencipta pada 2008 lalu, membuat Regi merasa sangat kehilangan. Betapa tidak, bagi Regi, sang ibu adalah idola. “Ibu yang memperkenalkan Tuhan, mengajarkan saya bagaimana berdoa yang benar,” kisah Regi yang beribadah di Gereja Katolik. Empat tahun sebelumnya (2004) ayahnya sudah lebih dahulu dipanggil Tuhan. “Kini saya yatim piatu,” kata Regi yang punya seorang kakak perempuan yang tinggal bersama suaminya di Jakarta.
Tahun 2004, setahun sebelum ayah berpulang, Regi dan ibunya sedang menggarap album rohani. Lagu-lagu itu ciptaan Regi sendiri, yang dia nyanyikan berkolaborasi dengan tiga orang alumni Indonesian Idol. Proyek itu berlangsung hingga tahun 2008. Saat master lagu sudah selesai, sang ibu yang mengidap penyakit jantung menyusul sang ayah.
Kehilangan orang-orang yang sangat dikasihinya, membuat Regi sempat kehilangan sukacita. Sempat terbersit keinginan untuk meninggalkan apa yang sudah dirintis bersama sang bunda, dan pergi ke Amerika. Regi ingin menggeluti dunia saja. Apalagi selama ini dia sudah biasa bepergian ke luar negeri, bahkan pernah tinggal di Austria untuk belajar piano. Tapi, pesan ibu agar proyek itu diteruskan sampai selesai, membuat Regi kembali bersemangat untuk melanjutkan album rohani tersebut. Apalagi, sebenarnya pada 2006 album itu sudah sempat dirilis, namun menemui banyak kendala.
Meski keluarga tidak berlatar belakang musik, namun Regi punya talenta di bidang musik. Pemuda berdarah Tionghoa yang lahir di Surabaya ini menguasai piano, biola, dan bisa menulis lagu. Dia mengajar piano dan biola high standard. Waktu tinggal di Singapura, dia sudah bikin lagu sekuler dan dijual ke produser setempat. Suatu ketika ibunya menyarankan dia bikin lagu untuk Tuhan. Tapi Regi bertanya, “Dari mana dasarnya saya bikin lagu untuk Tuhan?” Ibunya menjawab,  “Buka Mazmur. Seperti Daud memuji Tuhan pakai kecapi dan menuangkan kata-kata”. Lalu tema utama album “Betapa Hebat Kuasa-Mu”  terambil dari Mazmur 17: 2. 
Menurut pria kelahiran 1978 ini, lagu-lagunya itu seperti lukisan peristiwa hidupnya yang mengalami gelombang dan melalui badai yang luar biasa. “Tetapi hanya Tuhan satu-satunya yang menolong dan menguatkan saya. Dan kuasa Tuhan begitu hebat,” ungkap Regi yang mengaku tidak kecewa sekalipun dengan memilih jalur ini dirinya sebenarnya mengalami gelundungan.
Regi menyadari, jalan hidup yang dipilihnya saat ini memang terbalik. Dulu dia hidup dalam zona nyaman dan aman, tetapi sekarang malah cari susah dengan bikin album rohani ini. Dengan adanya lagu rohani ini, dia harus pelayanan ke daerah-daerah, seperti ke Medan, Semarang, Solo, dll. Dulu, bila ada waktu luang dia pergi ke luar negeri. Sekarang untuk album ini dia pelayanan ke desa-desa, menemui orang-orang susah, pemulung, karena di situ dia merasa  membawa nama Tuhan. “Saya melayani di panti asuhan, sementara saya saat ini yatim piatu,” kata Regi yang saat ini masih berstatus  single.

Semangat berbagi
Regi dilahirkan dalam keluarga yang berkecukupan. Kedua orang tuanya sama-sama meniti karir di bidang hukum. Jika sang ayah berprofesi sebagai hakim, ibunya bergelut di sebagai  lawyer. Orang tua ini menginginkan anak-anaknya pintar, educated. Setelah lulus dari SMA di Surabaya, Regi kuliah di Universitas Airlangga Surabaya, fakultas ekonomi, dan lulus pada 1998. Dia meraih gelar MBA di San Fransisco, USA. Regi sempat bekerja di sebuah bank asing di Surabaya, sebelum berangkat ke Singapura. Dua tahun di Singapura (2002-2004), dia kembali ke Jakarta karena ayahnya meninggal.
Baginya, membuat album rohani ini sebenarnya suatu “kebodohan” mengingat latar belakangnya yang cukup glamour. “Tidak ada orang lain yang berani berbuat seperti saya,” katanya. Apalagi dia sudah biasa hidup di lingkungan bergengsi, high class, makan di restoran mewah. “Tetapi saya rela pergi ke daerah, makan di tempat biasa, melayani orang-orang sederhana,” katanya. Meski demikian, dia sadar bahwa suatu saat dia  memang harus kembali ke dunia “normal”. Sebelum ibunda berpulang, sebenarnya mereka sudah merencanakan usaha bisnis. “Di mana-mana orang selalu mencari uang demi kenyamanan hidupnya,” tutur Regi yang mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak sekolah minggu.
Dia pelayanan ke desa-desa, menemui orang-orang  susah, pemulung, karena dia sadar dia membawa nama Tuhan di situ. “Saya melayani di panti asuhan, sementara saya yatim piatu,” tutur Regi yang berdomisili di Tangerang, Banten. Alasan melayani, pertama karena punya album dan melalui album ini bisa share kepada banyak orang. Menurut Regi, dirinya pernah juga bertanya-tanya mengapa harus menjalani ini semua. “Tetapi Tuhan mengharuskan saya mengalami itu,” kata Regi yang telah menciptakan puluhan lagu. Beberapa lagu dibuat di luar negeri. Atas saran ibu dia bikin lagu rohani sejak 2004.
Dalam album yang berkolaborasi dengan 3 alumni Idol ini, Regi berduet dengan mereka, bahkan  ada lagu yang dinyanyikan berempat. Ada lagu yang dinyanyikan dalam 3 bahasa: Indonesia, Inggris, Mandarin. Dengan lagu-lagunya, Regi ingin berguna bagi Tuhan dan sesama. Maka di daerah-daerah dia menyelenggarakan konser atau kompetisi nyanyi. Dia ingin mengangkat potensi anak-anak muda di daerah. Dia ingin berbuat suatu karya yang luar biasa. Bahkan dia ingin suatu saat nanti cucu-cucunya tahu bahwa opa mereka pernah bikin karya yang bagus. “Saat ini saya sudah mulai merintis kerja sama dengan label,” katanya seraya menyarankan untuk menonton videonya di Youtube dengan mengetik “R3gi christian song”. ? Hans P. Tan
 

59
160 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4838 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net