Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Garam Bisnis

New Ages Dan Kekristenan

Posted : 01 Juli 2011
yoga woman.jpg

Hendrik Lim, MBA*
getex@cbn.net.id

Majikan yang dipekerjakan  sebagai pekerja.
TENDENSI dan kaidah manajemen populer masa kini, untuk mencapai apa yang kita inginkan selalu ditulis dalam langgam seperti ini:  (ii) Apa yang saya inginkan, mau jadi apa? Apa yang ingin saya  miliki, kemudian (ii)  mencari dan menempatkan semua elemen apa pun atau siapa pun untuk berdiri di belakang impian tersebut untuk mewujudkannya.   Dalam adagium di atas,  kata “saya“ menjadi pusat dari semua pemikiran dan perhatian: energi, keringat, kepuasan, kegundahan maupun kebermaknaan (ful filment).   
Dalam adagium seperti ini, sangatlah jamak, kita menemukan orang menjadi “amat rohani” kelihatannya: mereka menaruh dan menempatkan Pengusaha Alam, sebagai tenaga pendukung. Dengan kata lain mempekerjakan Tuhan (employing the God).  Kalau apa yang diinginkannya berhasil dan sesuai rencana, besarlah pujian dan upacara syukuran yang digelar. Kalau apa yang ia inginkan tidak terjadi,   mengumpat dalam hati, dan kepahitan terhadap sebuah keyakinan menjadi menu gosipan dalam diri, kemudian hilang dari peredaran “orbit rohani”.
Alih-alih dipekerjakan oleh Tuhan, orang secara tidak sadar 'mempekerjakan Tuhan’ untuk mencapai apa yang ia mau.   Sebagian berhasil, sebagian tidak.  Godaan self centeredness,  menjadikan diri sebagai penentu masa depan dan nasib sendiri, bukanlah barang baru.  Ia sudah amat kuno. Sekuno sejak manusia pernah hadir di bumi. Jerat ini tetap saja memikat dan memukau, dan masih efektif. 

Penawaran New Ages
Aliran-aliran New Ages, menawarkan olah mental yang menggiurkan, ia bisa menanamkan ketenangan impuls pemikiran, membuat orang lebih percaya diri dan dalam tahap tertentu membuat orang lebih tenang untuk melangkah. Ini terjadi karena pendekatan  new ages, sangatlah intelektual, rasional, dapat diterima akal sehat.  Kalau sampai batas itu, tentulah baik. Yang menjadi titik kritis adalah, pemikiran seperti itu, bila dibiarkan berkembang tanpa batas, akan menempatkan diri kita sendiri sebagai subjek pencipta, bukan lagi sebagai bayangan pencipta ( the creator not the images).   Implikasinya orang akan menempatkan Tuhan Pencipta sebagai supermarket, atau mail order delviery, yang kita bisa pesan apa yang kita mau, terus diajarkan”  asal mintanya dengan penuh iman, maka kita akan mendapatkan apa yang kita mau”.  Firman pun bahkan bisa dipakai dan dipekerjakan untuk mewujudkan apa yang kita mau.  Dengan  kata lain subjek diri menjadi employer, bukan lagi employee.  Ada batas yang sangat halus antara iman dan manipulator di sini.
Perintah Agung dari awal jaman batu tetap sama,  sebuah pelanggaran yang menyebabkan keruntuhan mantan malaikat dan Adam.   Namun jerat usang itu tetap saja berkuasa. Orang ingin menjadi pencipta dalam berbagai  manifestasinya. Ada yang masuk dengan lembut, soft power, pendekatan psikologis, intelektual.   Namun ujung-ujunganya sama: menjadikan kehendaknya sendiri yang terjadi, boro-boro kehendak-Nya.

Tantangan intelektual kekristenan masa kini
Manusia sesuai kodratnya memang submissive.  Ia punya kerinduan untuk tunduk pada sesuatu, pada seseorang.  Ia secara intrinsik punya jiwa penyembah dan takluk kepadanya. Kalau subjek tersebut tidak hadir, orang merasa kosong.   Ada yang tunduk pada rasa takut dan ragu –ragu, setiap mau melakukan sesuatu yang berisiko, maka rasa takut dan rasa ragu muncul menjadi “tuan”nya.  Ada juga yang tunduk pada kasih, dan menjadikannya sebagai tuannya.  Namun jumlah penganut ini amat sedikit.    Bahkan  “kasih”  adalah sebuah kata yang telah sering terkontaminasi dan dikorupsi. 
Kalau manusia tidak menemukan sesuatu yang dirinya bisa tunduk terhadapnya,  maka ia menjadikan dirinya menjadi pusat pemujuaan. Ia mendaki tinggi untuk mendapatkan pencerahan. Berpusat dari diri, menuju ke atas.    Ia ingin menjadi majikan kehidupan, padahal takdirnya adalah pekerja. 
New ages sepertinya bergerak dalam relung itu.
Tantangan kehidupan kekristenan masa kini, yang menempatkan Tuhan sebagai Titik Awal dan Titik Akhir dari perjalanan adalah, menawarkan kepada dunia, bahwa  doktrin tersebut bisa lebih berimpak daripada new ages, sanggup mendemosntrasikan hasil yang lebih memukau. Karena akhirnya dari buahnyalah orang akan mengenal pohon.v



 
 
 

58
133 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :201120102009
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.9858 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net