Pdt. Poltak YP Sibarani, D.Th
(email: poltakypsibarani@yahoo.com)
Reformata.com - DALAM kekristenan banyak hal yang dianggap sangat rumit sekaligus sulit dimengerti, bahkan ganjil, sehingga membutuhkan penjelasan dan pembuktian yang lebih rinci. Saya, misalnya, sebagai seorang rohaniwan, acap kali mendengar orang-orang mempertanyaan hal-hal yang sepertinya sederhana tetapi sebenarnya rumit, anta-ra lain: (1) keberadaan Tuhan; (2) ketritunggalan Allah; (3) keberadaan sorga dan neraka; (4) keberadaan dosa; (5) pengampunan Tuhan; (6) ke-selamatan dari Tuhan; (7) larangan Alkitab terhadap perceraian; (8) keberadaan iblis; dan (9) mengenai pandangan bahwa umur bumi sudah jutaan tahun.
Oleh sebab itu dibutuhkan suatu ilmu yang dapat membantu setiap warga gereja atau seorang Kristen untuk memberikan penjelasan dan pembuktian tersebut. Berapologi berarti mempertanggungjawabkan atau membuktikan kebenaran dan kejelasan imannya. Di ke-mudian hari ilmu tersebut dikenal sebagai apologetika. Apologetika Kristen adalah suatu ilmu yang mempelajari berbagai hal yang sering ditanyakan oleh pihak lain mengenai kekristenan, baik yang berhubungan dengan masa lampau, masa kini, maupun atas masa yang akan datang. Kegiatannya disebut sebagai apologi. Berapologi berarti berusaha untuk menyusun rumusan sebagai jawaban atau tanggapan atas berbagai pertanyaan seputar iman Kristen. Surat I Petrus 3: 15-16 merupakan teks yang paling jelas mengingatkan akan pentingnya Apologetika Kristen, di samping nats-nats yang lain. Kata apologetika dalam bahasa Indonesia berasal dari kata apologia (kata benda), dalam bahasa Yunani dari kata aphologestae (kata kerja). Kedua kata ini muncul dengan beberapa pengertian di dalam Perjanjian Baru, yang pada akhirnya diterjemahkan sebagai ‘apologetika dalam pengertian masa kini. Pengertian kata dari apologia dan aphologestae ada-lah membuat jawaban atau memberi pertanggungjawaban atau membuat pertahanan atas ide-ide yang sedang dipertanyakan oleh pihak lain kepada seseorang (Mat. 22: 15-17, 23-38). Melalui apologetika dapat dipelajari se-cara lengkap dan mendasar berbagai cara atau pendekatan untuk memberi jawab mengenai dasar-dasar iman Kristen dan hal-hal yang terkait dengannya ketika dipertanyakan atau diragukan. Pegangan utama warga gereja dalam berapologo adalah Alkitab, yang dapat ditambah dengan pendekatan-pendekatan atau sumber-sumber lainnya.
Di sinilah letak urgensi da-ri pentingnya apologetika Kris-ten dikembangkan. Urgensi tersebut antara lain: Pertama, sebagai tanggapan atas pesan-pesan Alkitab atau atas iman Kristen tentang kesiapsediaan memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang muncul dari orang-orang non-Kristen dan orang-orang Kristen yang se-dang kebingungan, bahkan (ada kalanya) terhadap diri sendiri. Kedua, sebagai cara untuk ber-pikir cerdas dalam menanggapi berbagai hal yang dapat muncul dalam kekristenan. Ketiga, sebagai cara untuk bersikap bijaksana terhadap siapa yang bertanya atau dalam menanggapi berbagai isu, pertanyaan, dan persoalan yang menyangkut kekristenan. Keempat, sebagai cara untuk mempelajari sekaligus melanjutkan perjuangan para apologet (yang berapologi) Kristen di masa-masa yang lampau.
Cakupan atau hal-hal yang dapat dipelajari dalam apologetika sangatlah luas, sebab apologetika berbicara mengenai hampir se-mua hal yang berkaitan dengan kekristenan. Di samping berbagai isu terdapat pula berbagai metode. Ciri-ciri pertanyaan yang patut ditangapi dalam kerangka apologi, antara lain: (1) cenderung (bertendensi) meragukan hal-hal yang berhubungan dengan kekristenan; (2) bertendensi mem-bingungkan; dan (3) bertendensi menyudutkan atau bersifat menye-rang. Materi pertanyaan atau isu-isu yang sepatutnya dibahas dalam apologetika adalah isu-isu yang bersifat dogmatis, etis, historis, dan kontemporer.
Isu-isu dalam apologetika da-pat dipelajari berdasarkan lima pendekatan, yakni: pendekatan topikal, pendekatan tematis, pendekatan tokoh, pendekatan tempat, dan pendekatan tempo. Pertama, pendekatan berdasarkan topik. Pendekatan topikal adalah pendekatan untuk berusaha menjelaskan pengertian hal-hal yang bersifat pokok (kebendaan), seperti apa yang dimaksud dengan ‘eksistensi Allah’, ‘eksistensi dosa’, ‘sorga’, ‘neraka’, ‘keselamatan’, dan lain-lain. Kedua, pendekatan berdasarkan tema. Pendekatan tematis adalah pendekatan untuk berusaha menjelaskan berbagai alasan mengapa suatu tindakan atau praktik untuk melakukan sesuatu diperbolehkan atau ti-dak diperbolehkan, misalnya: “bolehkah suami-isteri bercerai karena memang sudah tidak saling mencintai?”, “bolehkah seseorang berbohong demi kebaikan?”, “bolehkah melakukan bunuh diri demi menghindari pemerkosaan?”, dan lain-lain. Ketiga, pendekatan berdasarkan tokoh. Pendekatan berdasarkan tokoh adalah pendekatan yang mempelajari cara-cara tokoh tertentu (dalam Alkitab maupun dalam sejarah gereja) untuk menjawab berbagai pertanyaan serius tentang iman Kristen pada jaman mereka masing-masing. Keempat, pendekatan berdasarkan tempat. Pendekatan tempat adalah pendekatan yang memperhatikan berbagai permasalahan dan isu-isu yang muncul untuk ditanggapi dan dijawab, yang berkaitan dengan iman Kristen, di tempat-tempat tertentu di seluruh dunia ini. Pendekatan ini selalu mengasumsikan bahwa pergumulan di wilayah yang satu dapat berbeda dengan wilayah lainnya. Kelima, pendekatan ber-dasarkan tempo. Pendekatan ber-dasarkan tempo adalah menjejaki persoalan apologi Kristen dari jaman ke jaman atau dari abad ke abad, misalnya perdebatan teologis pada abad I Masehi berbeda dengan perdebatan teologis pada abad XI Masehi.
Isu-isu yang didalami dalam apologetika ada yang merupakan isu-isu yang bersifat besar dan serius (major issue), ada pula bersifat kecil dan kurang serius (minor issue). Maksudnya, dalam apologetika terdapat pertanyaan-pertanyaan yang bersifat sangat utama, utama, dan kurang utama jika dibandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan lain.
Seorang apologet Kristen dapat bersikap pasif, dapat pula bersikap aktif sekaligus proaktif dalam memberikan penjelasan atas berbagai hal yang dipertanyakan dalam kekristenan. Oleh sebab itu, kesediaan seorang Kristen untuk berapologi menunjukkan tingkat pemahaman seorang Kristen tentang hal-hal yang dipercayainya di dalam kekristenan itu sendiri. Kemampuan berapologi juga dapat menunjukkan kecerdasan berpikir seorang warga gereja. Selain itu, apologetika dapat digunakan sebagai cara untuk mendekatkan orang lain kepada pemahaman yang benar akan hal-hal yang diimani dalam kekristenan. Namun apologi dapat juga diadakan dalam rangka menjalin persahabatan dengan sesama yang bukan Kristen di samping sebagai sarana mengajarkan pesan-pesan Alkitab dan penginjilan terhadap orang tidak percaya. Alasannya adalah karena banyak orang yang tidak percaya karena tidak mengerti, dan kalau sudah mengerti mereka kiranya menjadi percaya (Yoh. 20: 24-29; Kis. 8: 26-40).
Salah satu langkah adalah dengan mengadakan seminar khusus dengan topik atau tema yang sudah dipilih. Contohnya adalah seminar yang akan kami selenggarakan pada Sabtu 18 Juni 2011 mulai 09:00 – 14:00 WIB di Central Park Office Tower Lt. 6/T5 Podomoro City Jl. Letjen. S. Parman Kav 28, Jakarta Barat dengan judul Memahami Ulang Arti Kutuk dan Dosa Turunan. Dalam seminar ini kami menyiapkan bahan tertulis yang dapat dibaca dengan jelas seputar arti sesungguhnya dari kutuk dan dosa turunan berdasarkan pesan-pesan Alkitab sehingga dapat dimengerti dengan baik (tidak disalahtafsirkan) oleh setiap orang, termasuk oleh warga gereja itu sendiri.v