Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)
Reformata.com - TEWASNYA Osama bin Laden (OBL), 2 Mei lalu, oleh operasi militer Amerika Serikat (AS) di Kota Abbottabad, Pakistan, merupakan berita besar bagi dunia. Di AS, rakyat bersorak-sorai karena pasukan militer negara adidaya itu berhasil membunuh seorang pemimpin gerakan teroris global yang dikejar dengan kekuatan pasukan perang dunia. Presiden AS Serikat Barack Obama langsung mengumumkan kepada dunia bahwa tewasnya pemimpin Al-Qaeda yang sangat dicari-cari itu merupakan kemenangan dunia atas terorisme. Dan untuk kesekian kalinya saat itu Obama menegaskan bahwa perang terhadap terorisme, khususnya terhadap jaringan OBL, bukan perang terhadap Islam.
Benarkah? Tentu saja, karena yang diperangi sesungguhnya memang para penjahat transnasional yang selalu menghalalkan kekerasan dalam setiap aksinya demi mencapai tujuannya. Jadi, para teroris itu haruslah dilihat sebagai orang-orang yang anti-kedamaian dan ketertiban. Sebaliknya, jangan lihat agama mereka. Sebab, bisa saja sebagian dari teroris itu rajin beribadah dan selalu menyerukan ”Allah Mahabesar”. Tapi, itulah ironisnya, di saat yang lain mereka tega membunuh orang-orang yang tak bersalah.
Apakah dunia telah memenangi perang terhadap terorisme karena sukses membunuh seorang OBL yang diburu selama kurang lebih sepuluh tahun? Jawabannya, belum. Mengapa? Pertama, karena kelompok teroris yang berjejaring dengan Al-Qaeda di pelbagai belahan dunia selama ini masih eksis dan banyak. Oleh Departemen Luar Negeri AS, OBL dikatakan “memiliki jaringan keuangan global untuk membiayai kegiatan terorisme”. Karena itulah bagi AS, memerangi kelompok-kelompok teroris itu merupakan agenda mahapenting yang harus dikerjakan secara amat serius. Dari segi biaya, misalnya, sudah miliaran dollar AS yang dikucurkan selama sepuluh tahun terakhir ini demi menangkap OBL hidup atau mati. Tidakkah itu sebuah pengorbanan?
Di mata AS, OBL memang sosok yang penting, karena dialah yang diyakini sebagai dalang serangan teror paling dahsyat di abad ini -- yang dikenal sebagai Peristiwa 11/9 yang menewaskan lebih dari 3000 orang dan hancurnya menara kembar World Trade Centre di New York dan sebagian gedung Pentagon. Untuk itulah AS mengerahkan segenap kekuatannya dan mengajak negara-negara sekutunya untuk menangkap OBL hidup atau mati, serta melucuti Al-Qaeda dan jejaringnya di seluruh dunia.
Kedua, karena isme kaum teroris itu tak dengan sendirinya ikut terkubur bersama jenazah OBL. Di Indonesia, misalnya, jangankan sekarang, di tahun 2001 saja, sebagai protes atas serangan AS ke Afghanistan pasca-Peristiwa 11/9, muncul sekelompok orang di Lampung yang menamakan dirinya Front Osama. Heran sekali. Tidakkah mereka tahu siapa OBL dan sepak-terjangnya dalam kejahatan transnasional?
Sejak tahun 1970-an, OBL giat berkhotbah dan menganjurkan untuk berperang dengan kekuatan tentara demi mewujudkan satu agama di seluruh dunia. Saat bersamaan ia juga mulai mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok fundamentalis Islam. Tahun 1979, saat Uni Sovyet menginvasi Afghanistan, pandangan OBL tentang perjuangan di dunia makin terbentuk, yakni “membela kebenaran agama Islam melawan negara-negara Barat”. Sejak itulah ia bergabung dengan kelompok Mujahidin di Pakistan. Awal 1980-an, ia ke Arab Saudi untuk menyalurkan dana bantuan, merekrut anggota, memindahkan dan melatih para tentara relawan dari negara-negara Arab, yang kemudian disebut Front Pembebasan Islam (FPI), untuk berperang bersama pejuang Mujahidin Afghanistan.
Dari Arab, ia terus berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain demi memperluas jaringan dan merekrut banyak tentara relawan. Pada musim panas 1996, ia kembali ke Afghanistan dan membangun tempat persembunyian di pegunungan dekat Kota Kandahar, di bawah perlindungan Pemerintah Afghanistan. Dari sana ia terus mengembangkan jaringan terorisnya, mendanai kamp-kamp pelatihan dan aktivitas-aktivitas militer di mana-mana. Khususnya kamp Kunar, yang melatih teroris untuk Al-Jihad dan Al-Jamaah Al-Islamiyyah.
Tahun itu juga OBL menyatakan perang suci melawan AS. Ia menyatakan Deklarasi Jihad berjudul “Pesan dari Osama bin Laden kepada Saudara-saudara Muslim di Seluruh Dunia, Terutama di Jazirah Arab: Deklarasi Jihad Melawan AS yang Menduduki Tanah Suci Tempat Berdirinya Dua Masjid Suci”. Tahun 1998, OBL mengumumkan pembentukan organisasi payung gerakan teroris yang bernama Front Dunia Islam (FDI) untuk berperang melawan orang-orang Yahudi dan Kristen (Al-Jabhah al-Islamiyah al-Alamiyyah li-Qital al-Yahud wal-Salibiyyin). Yang termasuk anggota FDI adalah organisasi-organisasi teroris asal Mesir seperti Al-Jamaah Al-Islamiyyah, Kelompok asal Mesir Al-Jihad, Kelompok Bersenjata Mesir, Masyarakat Cendekiawan Pakistan, Sayap Militer Afghanistan di bawah OBL dari Komisi Penasihat dan Reformasi (Djelantik, 2010). Sementara di Indonesia ada Jamaah Islamiyah (JI), yang ditengarai berjejaring dengan Al-Qaeda dan terlibat dalam aksi Bom Bali I (2002).
Kurt Campbell dan Michele Flournoy dalam buku To Prevail: An American Strategy for the Campaign Againts Terrorism (2003), mencatat bahwa OBL pernah mengeluarkan fatwa di tahun 1998 sebagai berikut: “All those who believe in Allah and his prophet Muhammad must kill Americans wherever they find them”. Upaya untuk mengenyahkan militer AS dari Teluk Persia disampaikan dalam bahasa agama ala OBL sebagai “removing a blasphemy, a violation of religious law”.
Masih banyak sisi kelam OBL yang tak mungkin dipaparkan dalam inci yang rinci di sini. Tak heran jika Pemerintah Arab Saudi, sejak 1994, secara resmi mencabut kewarganegaraan OBL dan membekukan semua asetnya. Inilah yang harus disadari, agar kita tak salah menyikapi kematiannya. Bahwa OBL bukan mati sahid, dan karenanya tak layak disebut syuhada. Kalau ada sebagian orang yang bersukacita atas kematian OBL, itu bukan terkait OBL sebagai anak manusia. Melainkan, OBL sebagai penjahat kemanusiaan. Sebab, kematian OBL setidaknya telah membuka jalan bagi perdamaian dunia.
Pasca-tewasnya OBL, di Jakarta, ada sekelompok orang yang meratapinya, bahkan menggelar acara doa bersama secara khusus dan penyampaian “ucapan terima kasih atas jasa-jasa Asy Syahid Syaikh Osama bin Laden”. Mereka mengutuk keras pembunuhan brutal terhadap pimpinan tertinggi Al-Qaeda itu oleh pasukan elit AS. Mereka bahkan mengharapkan lahirnya Osama-Osama lain yang lebih berani lagi dalam membela Islam.
Di Solo, sedikitnya 100 pemuda yang mengatasnamakan diri Aliansi Komando Anti Israel dan Amerika (ALKAIDA) dibaiat siap mati untuk menuntut balas atas kematian OBL. Prosesi di Bundaran Gladag Solo itu itu dilakukan bersama-sama dalam tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Indonesia.
Selain mereka ada juga seorang elit politik, Anis Matta, yang menuangkan rasa kagumnya kepada OBL dalam dua puisi yang berjudul “Surat untuk Osama” dan “Jawaban Osama”. Di matanya, OBL adalah teladan mujahid yang gagah-berani melawan tirani bangsa-bangsa adidaya. Keberaniannya melawan kesewenang-wenangan AS menginspirasi para aktivis di seluruh penjuru dunia untuk memberontak terhadap kesewenang-wenangan bangsa adidaya yang arogan.
Terus-terang saja, bukankah kita sulit memahami sikap orang-orang kelompok ini? Berterima kasih kepada OBL atas jasa-jasanya? Jasa-jasa seperti apa yang dimaksud? Tapi, tak usah heran. Sebab, rekam jejak mereka selama ini pun centang-perenang memperlihatkan jati diri mereka sebagai kaum vigilante (kelompok warga sipil yang gemar melakukan kekerasan demi tujuan tertentu dan dengan cara mengambil alih peran aparat penegak hukum). Mendaku diri membela agama, tetapi kerap mengedepankan cara-cara yang justru kontra-agama.
Terkait Anis Matta yang menilai AS sewenang-wenang dan tiranik, mestinya ketika Presiden AS Obama (dan isterinya, Michelle Obama) datang ke Indonesia 9-10 November silam, ia bersuara keras tentang hal itu dan meminta kader partainya di kabinet, Tifatul Sembiring, untuk tak ikut menyambut Obama sebagai bentuk protes terhadap AS. Namun faktanya, saat itu Anis tak menunjukkan sikap oposisinya. Sembiring pun, yang semula bertekad tak akan bersalaman tangan dengan Michelle, toh tak konsekuen bersikap. Kompromistik atau cermin keminderan di depan ibu negara dari sebuah negara adidaya?
Pertanyaannya sekarang, akankah Pemerintah Indonesia membiarkan saja orang-orang yang “mendukung” gembongnya teroris itu? Kalau begitu akankah upaya memerangi terorisme di dalam negeri berjalan efektif? Bukankah terorisme niscaya sulit diberangus jika masih ada kelompok-kelompok di masyarakat yang mendukungnya atau setidaknya menoleransinya? Mungkin itulah sebabnya Indonesia dianggap sebagai “safe heaven” bagi para teroris dan tempat persemaian yang subur bagi isme-isme pro-kekerasan.
Beda sekali dengan di Malaysia. Di sana teroris tak berkutik sedikit pun, karena pemerintahnya tegas. Di Indonesia, 9 Februari lalu, setelah Tragedi Cikeusik (6 Februari) dan Insiden Temanggung (8 Februari), Presiden Yudhoyono akhirnya berkata tegas dan memerintahkan aparat penegak hukum agar mencari jalan yang legal untuk membubarkan organisasi massa perusuh atau pun kerumunan massa pembuat kerusuhan. Pertanyaannya, mengapa hingga kini tak ada satu pun organisasi massa perusuh yang dibubarkan?
Di Cirebon, 16 Mei lalu, pemaksaan kehendak oleh sekelompok massa radikal yang menamakan dirinya GAPAS (Gerakan Anti Permurtadan dan Anti Penyesatan) membuat umat Kristen yang hendak merayakan Paskah di Gedung Gratia harus membatalkan niatnya. Esoknya, saat umat yang sama hendak merayakannya di Hotel Apita, ormas yang dipimpin Andi Mulya itu kembali beraksi, menuntut perayaan Paskah itu dibubarkan. Padahal, pihak panitia sudah mengantongi surat izin resmi dari aparat kepolisian setempat. Namun, polisi lebih memilih tunduk kepada massa radikalis itu.
Inilah Negara Osama, di mana kekerasan dipertontonkan begitu leluasanya di depan aparat penegak hukum. v