Ruth Stephani, Mahasiswi UPH
Reformata.com - USIA boleh saja masih belia, namun prestasi sudah seabreg-abreg. Ungkapan ini tepat sekali ditujukan untuk Ruth Stephani Panjaitan, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (FH UPH), Tangerang, yang saat ini kuliah semester ke-8 atau semester terakhir, dan menyusun skripsi. Topik skripsinya tentang perlindungan terhadap TKW. Alasannya, karena dia konsern dengan hak-hak perempuan dan bagaimana WNI diperlakukan di negara asing. “Karena saya juga bercita-cita menjadi diplomat, maka harus tahu juga bagaimana melindungi WNI,” cetusnya.
Dia masuk UPH pada 2007 setelah menyabet ijazah setingkat SMA dari Amerika Serikat (AS). Dia sendiri cuma dua tahun menjadi siswa SMA 12 Kebunjeruk Jakarta Barat. Lewat program pertukaran pelajar, Macel Open Door, dia berangkat ke AS untuk belajar di Mountain View High School, Arizona, setingkat SMA. Di sana dia belajar selama 10 bulan atau satu tahun akademik. Dan dari sanalah dia mendapatkan ijazah setingkat SMA.
Tahun 2009, setelah menjadi mahasiswa UPH, dia lagi-lagi terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar. Kali ini ke La Trobe University, Melbourne, Australia. Selama satu semester Ruth bersama 9 temannya dari UPH, belajar sistem hukum Australia yang ternyata berbeda dengan sistem hukum Indonesia. Untuk bisa terpilih ke Australia, ada beberapa tahapan yang dia lalui. Tahap pertama adalah penilaian berdasarkan CV, menulis essays, berdasarkan nilai, serta kemampuan bahasa Inggris. Tahap kedua adalah wawancara dengan wakil rektor UPH. Dan semua tahapan ini dapat dia lalui dengan mulus, sehingga bersama 9 orang lagi dia dikirim ke Australia.
Sebenarnya Ruth juga pernah mencatat berbagai prestasi nasional maupun internasional bersama timnya. Seperti dalam ajang Jessup International Law Moot Court Competition, pada 2010 di Washington DC, USA. Bersama tim sebanyak 5 orang dia menyabet juara 1 nasional dan juara 1 best memorial.
Tahun ini dia terpilih sebagai student of the year, dan outstanding senior di kampusnya, UPH yang berlokasi di Lippo Karawaci Tangerang, Banten. Tentang apa kriteria yang membuat dia terpilih sebagai mahasiswa terbaik tahun ini, si bungsu dari dua bersaudara ini mengatakan kalau dirinya sangat aktif di kampus. “Saya misalnya sering bantu senat, aktif di International Community Foreign Student, organisai atau wadah yang menampung mahasiswa asing yang belajar di UPH. Bahkan dia juga menjadi pemain piano part time di kampus. Di samping itu dia tercatat pernah beberapa kali menyumbangkan piala untuk kampusnya itu. Dan yang terbaru, dan baginya sangat membanggakan, adalah dia menjadi juara pertama mahasiswa berprestasi di lingkungan Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) DKI Wilayah 3. “Sekarang aku lagi nunggu apakah bisa masuk juara nasional,” tutur putri dari seorang ibu yang berprofesi sebagai dokter ini. Ayahnya sendiri sudah meninggal saat Ruth masih kecil.
Ingin jadi pengacara
Ruth mengisahkan, dia baru mencatat prestasi saat duduk di bangku SMA. Semasih di SMP dia paling cuma aktif di OSIS. Ada pun ajang lomba yang pernah dia ikuti semasa SMA antara lain adalah: Remaja Ceria, semacam pemilihan “Abang-None”, tetapi khusus remaja. Di ajang ini dia menyabet juara harapan dua tingkat DKI Jakarta Barat. Di lingkungan sekolahnya, SMA Negeri 12, Ruth menjadi
wakil ketua 1 Majelis Perwakilan Kelas (MPK), yang tugasnya mengawasi OSIS. Di SMA dia mengambil jurusan IPA, sebab pelajaran IPA membantunya dalam mengungkapkan logika pikiran. Dan kemampuan berpikir secara logika ini sangat penting jika dirinya kelak menjadi pengacara atau diplomat, yang menjadi cita-citanya.
Selulus SMA mengapa memilih kuliah di UPH? Alasan Ruth antara lain karena UPH itu “Kristen banget”. Selain itu lingkungannya bagus, dan yang juga sangat penting adalah karena UPH menjalin kerja sama dengan banyak universitas bertaraf internasional di seluruh dunia. Di samping itu, sewaktu menyelesaikan SMA-nya dari AS, dia bisa dengan mudah diterima di UPH, sekalipun harus melalui testing juga. Andaikata dia mendaftar di perguruan tinggi lain, tentu prosesnya tidak semulus itu, sebab kemungkinan besar dia harus terlebih dahulu mengikuti paket-paket pelajaran dalam rangka penyesuaian ijazah.
Masih banyak sebenarnya penca-paian atau prestasi yang diraih oleh lulusan SDK Petra Indonesia, dan SMP Lemuel II Indonesia ini yang tidak mungkin dipaparkan di sini. Tapi dengan berbagai prestasi nasional dan internasional maupun aktivitasnya yang padat, Ruth ternyata tidak melupakan akar dan budayanya sebagai keturunan Batak. Wanita yang beribadah di Gereja Methodist Indonesia Daan Mogot, dan HKBP ini juga menjadi anggota Pagelaran Seni Budaya, DPP Kerabat Kerukunan Masyarakat Batak.
Hans