PANTI jompo kerap diidentikan dengan tempat penampungan bagi orang yang sudah tua. Tempat bagi orang tua yang anak-anaknya tidak mau repot mengurus mereka. Atau rumah khusus bagi manula yang tidak punya keluarga. Dengan kesan seperti ini, panti jompo acap kali dikonotasikan secara negatif, yang tentu saja tidak sepenuhnya benar.
Panti Sosial Tresno Wreda (PSTW) “Senjarawi” misalnya, justru membuktikan anggapan seperti itu salah betul. Panti yang berada di Kota Bandung, tepat di Jl. Jeruk No.7 Bandung Jawa Barat ini, justru dengan tangan terbuka dan kasih sepenuhnya membantu orang tua mereguk kembali kasih yang mungkin hilang. PSTW Senjarawi juga melayani dan membantu yang senja usia mengisi hari-hari, dan mempersiapkan mereka untuk menghadap Sang Pencipta. Sesuai dengan namanya, “Senja Rawi” yang berarti “Matahari Menjelang sore”, PSTW Senjarawi memberi kehangatan pada para orang tua, layaknya sinar mentari menjelang sore, dan menyinarkan kembali kehangatan itu ke banyak orang.
PSTW Senjarawi sendiri merupakan salah satu cabang pelayanan Gereja Bala Keselamatan di Indonesia yang dibuka sejak 4 Oktober 1949. Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang kesehatan yang berdampak pada semakin banyaknya para usia lanjut, Gereja Bala Keselamatan merasa perlu memberi perhatian besar untuk melayani mereka yang lanjut usia, dan salah satu aktualisasinya adalah dengan membuka sebuah Panti Wredha bagi mereka yang senja usia. Letnan Eivord Grace, Bendahara PSTW Senjarawi, menceritakan awal mula dibangunnya PSTW Senjarawi atas prakarsa Bala Keselamatan yang telah membeli bangunan terdiri dari 26 rumah dan sebuah rumah ibadah atau gereja. Namun seiring meningkatnya minat orang yang ingin masuk, dan kebutuhan khusus bagi oma-opa yang aktivitasnya bergantung sepenuhnya pada bantuan pengasuh, maka dibangunlah sebuah .
“Sall dikhususkan bagi oma-oma yang sudah tidak bisa melakukan kegiatan seperti mandi sendiri, makan dan apa-apa harus dibantu” kata Letnan Grace.
Menurut Letnan kelahiran 7 Juni 1983 ini, PSTW Senjarawi adalah panti yang terbuka, dalam artian siapa saja boleh masuk selama memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Tentu saja syarat uatamanya terkait usia. “Yang boleh tinggal adalah usia 60 tahun ke atas”.
Saat ini PSTW Senjarawi dihuni 90 oma dan opa yang 20 di antaranya tidak punya keluarga dan 70 lainnya datang dengan diantar keluarga mereka. Ada beragam alasan keluarga mengantar orang tua mereka ke PSTW Senjarawi. “Umumnya keluarga beralasan sibuk, tidak bisa mengurus; Karena oma opa sepi di rumah; Atau Anak anak sudah punya keluarga sendiri,” jelas Letnan Grace. Tentu saja ini membuat sedih Oma-Opa, namun Grace mengatakan bahwa hal seperti itu merupakan respons awal dari orang tua yang akan segera berubah. “Untuk orang yang baru-baru masuk, satu minggu pertama mereka ingin pulang. Tapi lama kelamaan mereka bisa beradaptasi dengan teman-teman yang lain, karena sudah seperti keluarga sendiri,” terang Wanita Asal Palu Sulawesi Tengah ini.
Hal ini seperti diamini Oma Runtulalo, salah satu penghuni PSTW Senjarawi. Oma yang sudah berada di Senjarawi sejak lima tahun lalu itu mengaku betah, dan senang. Bahkan tak segan-segan Oma Runtulalo memplesetkan nama Senjarawi dengan Sorgarawi, lantaran dia menganggap tinggal PSTW Senjarawi layaknya surga di bumi. “Oma senang di sini, ndak kerja apa-apa. Kalau di rumah kan kerja aja. Mau cabut rumput juga ndak boleh. Pakaian juga dicucikan. Cuci piring juga, Sampe oma bilang disini bukan senja rawi, tapi sorga rawi.”
Pelayanan PSTW Senjarawi
Dengan filosofi “With Heart To God and Hand To Man”, PSTW Senjarawi memenuhi kebutuhan para penghuninya secara menyeluruh. Tidak saja kebutuhan kesehatan fisik, tapi juga memenuhi kebutuhan spiritual dan psikis. Karena itu PSTW Senjarawi tak sekadar menyediakan kamar yang layak, makanan yang sehat dan bergizi, dan beragam fasilitas yang mendukung kesehatan fisik, tapi juga membantu memenuhi kebutuhan kerohanian dengan layanan firman dan konseling pribadi. “Setiap hari kami ada dua kali Biston, pagi dan malam. Selain itu kami juga sering melakukan pendekatan pribadi dengan berdiskusi, sharing dan tanya-jawab ke ruangan masing” Kata Letnan Grace
Di samping kebaktian (Biston) rutin yang diterapkan, penghuni PSTW Senjarawi juga kerap bernyanyi dan memuji Tuhan kembali dalam pelayanan yang dilakukan oleh para tamu pengunjung dari berbagai Gereja dan Persekutuan Doa atau keluarga yang mengadakan perayaan Hari Ulang tahun. Momen-momen seperti ini yang amat ditunggu-tunggu Oma dan Opa di Senjarawi. Selain terpenuhi dahaga rohani mereka, Oma-Opa juga senang dihibur, dijenguk dan dikunjungi saudara seiman lainnya, momen seperti ini mereka gunakan sebaik-baiknya untuk unjuk kebolehan dan talenta, khususnya yang senang menyanyi.
Untuk menunjang kelancaran operasionalnya, PSTW Senjarawi bekerja sama dengan masyarakat sekitar, dan berbagai instansi, khususnya aparat terkait mulai tingkat RT, RW, hingga Pemerintah Kota Bandung. PSTW Senjarawi juga bekerja sama dengan para donatur dan gereja-gereja dari berbagai denomenasi dan persekutuan-persekutuan doa. Tak hanya itu, dalam memenuhi kebutuhan operasionalnya penghuninya PSTW Senjarawi juga menerapkan sistem subsidi silang. Slawi