TAK pernah terbersit di benak Tamianna Siman-juntak kalau dirinya akan menjadi mahasiswi dalam usia yang sudah sepuh. “Tapi itulah kehendak Tuhan,” kata Ibu Anna—nama panggilannya—yang kini 74 tahun! Dia mulai kuliah di Institut Filsafat Theo-logia dan Kepemimpinan Jaffray Jakarta (IFTKJ) tiga tahun lalu (2008), pada usia 71 tahun. Kini dia sudah menyelesaikan 6 semester perkuliahan. Agustus 2011 nanti dia masuk semester ke-7. Bila kuliah program S-1 hanya delapan semester, maka sebentar lagi Anna akan meraih gelar sarjananya.
Menurut Ibu Anna, semua itu terjadi setelah sang suami, Prof Dr Pdt MV Manurung, meninggal dunia pada Maret 2008 lalu. Setelah suami yang saat itu menjabat Gembala Sidang Gereja Kristen Ma-ranatha Indonesia (GKMI) Filadelfia Jakarta, gereja ha-rus mencari pengganti. Dan para pengurus gereja dengan suara bulat menunjuk Ibu Anna sebagai gembala sidang yang baru. Dua bulan setelah sang suami meninggal, Anna ditahbiskan menjadi pendeta di gerejanya. Setahun kemudian dia ditahbiskan di kantor pusat GKMI yang berkedudukan di Manado, Sulawesi Utara. Tidak sulit bagi Anna menjalankan amanat ini mengingat diri-nya telah puluhan tahun men-dampingi suami melakukan pelayanan. Di samping itu, pengetahuan teologinya juga cukup memadai sebab dia per-nah mengikuti Sekolah Alkitab Malam (SAM).
Setelah Anna ditahbiskan menjadi gembala sidang, kera-batnya yang menjadi dosen di IFTK Jaffray menyarankannya untuk kuliah teologi. “Untuk apa saya kuliah? Usia saya sudah 70 tahun lebih,” kata Anna waktu itu. Baginya memang sangat tidak masuk akal jika harus kuliah lagi. Tapi setelah diberikan beberapa pandangan, akhirnya Anna melangkahkan kaki ke kampus IFTK Jaffray di Jatinegara, Jakarta Timur. Sebagai calon mahasiswa baru, Anna mestinya mengikuti tes masuk pada pagi hari, bersama puluhan calon mahasiswa lain yang umumya berusia remaja. Namun karena pagi itu dia harus mengantarkan cucunya dulu ke sekolah, dia baru bisa ujian siang harinya, sendiri.
Anna mengaku kesulitan mengerjakan soal-soal ujian, seperti bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. “Soalnya saya sudah lupa, kalau pengetahuan soal firman Tuhan, bolehlah, toh saya pernah belajar di sekolah Alkitab,” kata ibu dari empat anak dan nenek delapan cucu ini. Dia dinyatakan lulus oleh panitia penguji. “Saya sebenarnya bukan lulus, tetapi diluluskan,” tambah mantan perawat di RS PGI Cikini ini.
Akhirnya, Anna yang saat itu berusia 71 tahun pun resmi menjadi mahasiswi IFTK Jaffray jurusan teologi. Semula ada rasa ragu. Tapi setelah mengikuti perkuliahan, dia merasa senang dan sukacita. Tidak ada kendala psikologis meskipun dia harus berteman dengan anak-anak muda yang seusia dengan cucunya. “Meski ada juga beberapa teman kuliah yang sudah berstatus bapak dan ibu, tapi sayalah yang tertua di sana,” kata ibu yang juga pernah bekerja di BNI selama 30 tahun. Dia senang sebab teman-temannya itu baik-baik semua. Dia dipanggil “ompung”. Bahkan beberapa dosen juga memanggil dia ompung. Kalau tidak datang kuliah, semua mencari-cari. “Di mana ompung,” kisahnya senang.
Duluan selesai
Sewaktu baru kuliah, sempat ada keraguan. Misalnya bagai-mana harus membuat laporan dan tugas-tugas dari dosen mengingat dia tidak biasa mengetik pakai komputer. Dan sama seperti mahasiswa lainnya, Anna pun harus membaca buku-buku dan membuat la-poran tentang isi buku itu. Dia juga harus mengerjakan tugas-tugas lain yang diberikan dosen. Tetapi semuanya itu bisa diatasi dengan meminta tolong keponakan-keponakan yang sering datang dan mengi-nap di rumah. “Saya hanya memberikan cacatan-catatan dan mereka yang mengetik,” tandas ibu yang di lingkungan gereja dipanggil dengan nama Ibu Manurung. Selain rasa se-nang dalam menjalankan kuliah, ada hal lain yang membuat Anna merasa sukacita, yakni dirinya jarang sakit, bahkan merasa sehat. Padahal Anna sudah empat kali operasi. Pada tahun 1980 dia menjalani operasi empedu untuk mengangkat batu di empedu. “Sekarang saya tidak punya empedu lagi,” ujar Anna yang pernah 12 tahun bekerja di RS Husni Thamrin, Salemba. Beberapa tahun setelah operasi empedu, dia harus menjalani operasi myom di bagian peranakan. Pada tahun 60-an dia sudah operasi amandel. Tahun 86/87 dia dua kali operasi batu ginjal.
Mengagumkan memang daya tahan dan kondisi Ibu Anna. Bayangkan, sebagai mahasiswa dia harus berada di kampus dari pagi hingga sore. Dia kuliah dari hari Senin sampai Jumat. Kalau dia ambil tiga mata kuliah yang dimulai pukul 10.00, berarti dia harus berada di kampus sampai pukul 17.00 atau 19.00. Tapi sekarang dia jarang ambil tiga mata kuliah, tetapi dua mata kuliah. Demi mengerjakan tugas-tugas dari dosen, sering Anna baru bisa tidur pada pukul 02.00 atau 03.00 dini hari. Hebatnya lagi, dia sering yang pertama menyetor tugas-tugas kuliah ke dosen. Dia sendiri berharap, ketekunan, semangat dan tanggung jawabnya da-lam menjalankan kuliah itu me-motivasi rekan-rekannya yang masih muda.
Ditanya apa resepnya sehingga dalam usia 74 ini Bu Anna masih sehat dan bersemangat, dia menyebutkan salah satu kebiasaannya sejak dulu yakni: rutin dan banyak minum air putih.
Hans P. Tan