Hendrik Lim, MBA*
getex@cbn.net.id
PERNAHKAH Anda mengamati atau mengalami sendiri: setelah mendengar khotbah yang inspiratif, atau berhadapan dengan suatu pengalaman baru yang mengairahkan, berjanji dalam dirinya untuk melakukan perubahan perilaku. Tapi sering hal tersebut tidak berjalan dengan lama, waktu dan kebiasaan lama akan men-sabotase kebiasaan baru tersebut. Akibatnya mudah ditebak, pola lama kembali menunjukkan kekuasaannya. Perilaku menjadi seperti permaianan yo-yo: Limbung ke kiri atau ke kanan, tergantung keadaan dan suasana.
Sebagian besar orang, termasuk organisasi sering tampak penuh semangat saat mencanangkan diri untuk melakukan perubahan. Dan sering kita lihat, perubahan yang menekanan aspek psikologis behavioral approach ini, tidak berlangsung lama. Hal ini terjadi karena perubahan dengan pende-katan behavioral ini, tergantung kesadaran kita. Ketika kita sedang berada dalam keadaan “sadar”, kita ingat akan tekad yang telah kita canangkan, dan ketika kita tidak sadar, kita kembali lagi ke pola lama.
Tidak banyak bisa Anda andal-kan, kalau sebuah turn around didasarkan pada alam kesadaran. Hal ini lumrah, karena manusia beroperasi dengan tingkat kesa-daran hanya sekitar 10-15 %, dan sisanya dijalankan oleh kebiasaan dan bersifat “auto pilot”. Kalau lagi ingat, kita memodifikasi perilaku. Pas lagi lupa, hilanglah semua tekad itu. Atau ketika tantangan dan intimidasi keadaan begitu berat, kita membuat kompromi sebentar, dan terus terbawa lagi dalam arus lama.
Lantas, bagaimana kita menciptakan suatu mekanisme, yang bisa membuat kita mendasarkan sebuah peru-bahan pada sebuah titik refensi yang permanen? Salah satu cara efektif yang bisa An-da lakukan, adalah mulai mengajukan pertanyaan dan pernyata-an pada diri sendiri, perihal identitas diri. Yaitu menurut Anda sendiri, atau apa yang Anda katakan pada diri sendiri: Siapakah diri Anda menurut penilaian Anda sendiri itu.
Kalau Anda berkata pada diri sendiri dan amat percaya dengan apa yang Anda katakan pada diri sendiri itu, maka afirmasi itu akan bersifat sangat kuat. Misalnya kalau Anda berkata pada diri sendiri: “Saya ini anak Tuhan, sangat berharga, dan teramat unik, maka pola perilaku Anda akan berubah secara substansi”. Kita tidak akan berani lagi bermain main dengan hidup, atau tidak akan lagi membiarkan diri berbuat sesuatu yang tidak pantas, atau tidak lagi membiarkan pembicaraan dengan diri sendiri (self talk) sesuatu yang bersifat distortif dan memperlemah atau memper-tanyaakan kesanggupan dan rasa percaya diri.
Bagaimana kalau selama ini orang merasa tidak pernah membuat identifikasi tentang dirinya? Bila itu terjadi pada diri Anda, maka Anda bisa mengecek buah yang dihasilkannya. Apakah Anda senang dan puas dengan hasil yang telah tercapai saat ini. Apakah Anda puas dengan status perilaku Anda saat ini? Ketika orang tidak memiliki titik referensi identitas, ia mendasarkan tindakannya pada kesadaran diri, yaitu ketika ia ingat dan sadar, atau ia mendasarkan tindakan pada keadaan dan suasana hati. Bila lagi tenang dan damai, tindakannya terukur, dan bisa sedang stres, ia memililiki pola respons yang lain. Kondisi ini sering disebut orang mood-moody.
Dengan setiap hari melakukan afirmasi identifiasi diri, dan membuatnya terdalam di dalam diri, maka titik acuan respons Anda berlabuh pada tempat yang tetap. Ia tidak tunduk pada keadaan. Apa akibatnya? Orang akan melihat Anda sebagai pribadi yang konsisten, bisa dipegang, dan sosok yang jelas (bold and clear)!
Sebagai contoh tempelkan kata-kata: “Aku Anak Raja”, pada setir kemudi Anda, maka pola perilaku Anda berkendara pasti akan berubah. v