Michael Christian
Konselor yang terhormat. Nama saya Sugeng, asal Jawa Timur. Saya punya seorang istri dan seorang anak perempuan berumur 2 tahun. Saya berumur 42 tahun, dan istri 38 tahun. Masalah saya begini Pak: Saya menduga istri saya terkena gangguan jiwa. Sejak menikah saya memang merasa agak aneh karena dia kalau beres-beres rumah sepertinya sembarangan saja, sapu diayunkan tinggi-tinggi, sehingga debu dan kotoran berhamburan ke mana-mana. Kadang-kadang saya diberikan kopi yang pahitnya luar biasa, dan dia bilang dia lupa kasih gula, dan kejadian ini berulang kali dilakukan, meski saya sudah bicara berkali-kali sebelumnya.
Memang sebelum menikah, kami menjalin hubungan hanya 2 bulan, dan karena mungkin karena sudah tua juga kami buru-buru menikah. Tapi saat itu kelihatannya dia baik-baik saja. Lama kelamaan baru kelihatan keanehannya. Dia seperti linglung, suka bengong sendiri, lalu ketawa-ketawa, atau tiba-tiba mengambil makanan di warung dekat rumah, sehingga saya merasa tidak enak dan sangat terganggu oleh omongan tetangga.
Hal ini saya bicarakan dengan anggota keluarganya, dan mereka bilang bahwa sejak pulang dari Arab sebagai TKW dia memang aneh. Tapi sebelumnya mereka tidak pernah cerita juga sama saya. Saya pikir di Arab dia pernah dipukul majikan, atau diapa-apakan, tapi dia sendiri tidak mengaku, dan hanya bilang lupa. Terus terang saya menjadi emosional terhadap dia, karena saya sendiri tidak tahan dalam kondisi ini, dan seringkali dia membahayakan anak kami. Dia bisa lupa memberi air dingin untuk mandi atau minum susu anak kami. Rasanya sulit sekali punya istri seperti ini. Saking tidak tahannya, saya pernah pukul dia. Saya tahu itu tidak baik, tapi rasanya sudah mau pecah kepala saya. Terus terang saya sedang berpikir untuk bercerai saja, ini pun demi keselamatan bersama, khususnya anak saya. Bagaimana ya Pak? Mohon bantuannya.
Sugeng
Jawa Timur
BAPAK Sugeng yang terhor-mat, terima kasih telah menyampaikan pergumulan Bapak kepada kami. Memang merupakan kondisi yang sulit di tengah-tengah keluarga yang masih tergolong baru, dan adanya anak kecil yang perlu diasuh, serta mungkin banyaknya segudang harapan dan impian dalam membangun bahtera rumah tangga. Pada umumnya dalam setiap pernikahan, setiap pasangan pasti mengharapkan bisa saling mengasihi dan mela-yani, mungkin Bapak bekerja sebagai kepala keluarga, men-cukupi kebutuhan keluarga, dan ibu bekerja di rumah, menjadi ibu rumah tangga yang baik, yang menjaga dan memelihara serta membesarkan anak, sekaligus menjadi pendamping yang setia dan melayani bapak. Tetapi justru yang bapak temukan adalah ketimpangan dalam rumah tangga karena istri tidak bisa berfungsi dengan baik. Sehingga saya mempercayai jika rasanya setengah mati untuk menjalankan roda rumah tangga ini. Ibaratnya seperti berjalan menggunakan sebuah kaki untuk melangkah.
Dalam kondisi ini, tidak heran jika kita seringkali merasa putus asa, dan kecewa yang begitu rupa sehingga mempengaruhi kondisi emosi kita. Ada kalanya kita menjadi begitu frustrasi dan mungkin berteriak atau memaki dengan penuh emosi, dan bahkan mungkin juga melampiaskan dengan memukul sesuatu di hadapan kita entah itu barang maupun istri kita sendiri. Memang di satu sisi, kondisi Ibu bisa membahayakan baik dirinya sendiri maupun orang lain termasuk anak. Ditambah lagi sikap dia terhadap tetangga, kemungkinan besar itu pasti membuat kita malu. Meski hal tersebut mungkin bukan kemauan dia juga untuk melakukan itu atau disengaja.
Jika benar ini masalah kejiwaan, memang betul bahwa sulit sekali rasanya memulihkan kondisi kejiwaan seseorang ke taraf yang normal jika tanpa disertai obat-obatan dan terapi. Sehingga tidak akan ada gunanya jika orang tersebut kita perlakukan dengan keras bahkan dengan paksaan untuk berubah, selain memberinya obat yang sesuai dengan resep psikiater. Tapi dari apa yang Anda ceritakan, kami menyadari benar kondisi yang Bapak alami sehingga kita bisa bertindak reaktif, meski kita sadari itu salah.
Namun sebagai orang Kristen, saya percaya sekali, kita pasti diingatkan akan janji-janji nikah kita, di mana dalam suka maupun duka, sehat atau pun sakit, kelimpahan atau pun kekurangan, tetap setia sampai maut memisahkan kita. Terus terang, saya berpikir, apa yang Bapak rasakan saat ini waktu membaca tulisan ini. Mungkin Bapak sudah tahu, atau sudah sering mendengar perkataan ini, atau mungkin Bapak merasa diingatkan dan dikuatkan kembali, tapi saya sendiri tidak heran kalau Bapak merasa kalimat ini seolah-olah menekan perasaan kita, dan membuat kondisi di mana kita dipaksa mengerti orang lain, padahal saat ini Bapak butuh untuk dimengerti.
Sekali lagi, menjalani ini memang bukanlah hal yang mudah, namun di sisi lain, perceraian juga bukan sesuatu yang lebih memudahkan atau meringankan kondisi kita, karena memang kita tidak lagi hidup secara individual, ada anak yang membutuhkan peran bapak dan ibu secara bersama-sama. Di sisi lain, kekerasan juga ternyata tidak menyembuhkan kondisi Ibu, malah dalam beberapa kasus, ada kemungkinan makin parah, dan mengalami ketakutan atau pun trauma.
Saya berharap melalui balasan surat ini bapak merasa terdorong dan bersedia mengesampingkan keinginan untuk bercerai terlebih dahulu, sebaliknya justru memper-timbangkan untuk bertemu dengan psikiater jika memungkinkan, atau minimal bertemu dengan konselor untuk mengurangi beban masalah yang bapak pikul dan pikirkan. Kiranya Tuhan Yesus memberkati bapak, Ibu, dan keluarga. Untuk bantuan lebih lanjut, bapak boleh menghubungi Lifespring Counseling and Care Center di 021-30047780.v