Author : Pdt Robert R Siahaan MDiv wwwinspirasijiwacom, Posted : 02 September 2011
Reformata.com - BANYAK orang yang memaknai spiritualitas dalam definisi yang sempit dan sering dikaitkan secara terbatas dengan aktivitas keagamaan semata. Spiritualitas memang dapat diartikan berbeda-beda oleh setiap orang maupun menurut pandangan setiap agama. Sekelompok orang beranggapan bahwa orang yang bertapa di tempat-tempat sepi dan khusus adalah orang-orang spiritual. Akibat pemahaman yang sempit ini, pengertian spiritualitas bergeser semakin jauh dan semakin tidak jelas. Pemahaman yang sempit ini juga akhirnya dapat berujung pada perilaku yang menyimpang, sehingga ada yang mengartikannya sebagai ilmu olah batin yang dapat meramalkan sesuatu layaknya paranormal. Bahkan itu ada yang meyakini bahwa tindakan terorisme dengan peledakan bom adalah suatu bentuk jihad dan sedang berjuang di jalan Tuhan.
Umumnya orang beranggapan bahwa seseorang orang yang rajin ke gereja untuk beribadah dan aktif melayani, maka orang tersebut disebut atau dianggap orang spiritual. Lebih dari itu, kebanyakan orang beranggapan bahwa para hamba Tuhan, pendeta, pastor dan alim ulama adalah pasti orang spiritual. Pertanyaanya adalah apakah benar bahwa orang yang rajin beribadah atau memiliki banyak pengetahuan tentang kitab suci atau para hamba Tuhan itu adalah benar-benar orang spiritual?
Ada teman saya yang mempertanyakan tentang ketidaksimetrisan antara psikologi dan spiritualitas. Ia melihat bahwa ada orang yang fenomena kejiwaannya (psikologinya) baik, namun bukan orang yang disebut spiritual. Contohnya adalah teman-teman ateisnya yang kelihatannya baik-baik saja dan kelihatan sehat jiwanya, meskipun menolak keberadaan Tuhan. Di sisi lain, ada orang yang kelihatan sepertinya sangat spiritualis, namun fenomena kejiwaannya sehari-hari (psikologinya) jelek. Kalau demikian apakah dasarnya untuk menentukan dan menilai bahwa seseorang memiliki spiritual yang baik (sejati) atau disebut spiritual.
Mengapa orang yang memiliki pengetahaun yang banyak tentang kitab suci belum tentu memiliki spiritualitas yang baik? Dan mengapa orang yang tidak percaya kepada Allah atau menolak Tuhan namun dapat menunjukkan suatu pola kejiwaan (psikologi) yang sehat. Apakah memang benar bahwa spiritualitas itu tidak selalu berkaitan dengan Tuhan atau bahkan tidak memerlukan Tuhan. Sebagaimana André Comte-Sponville yang menulis buku yang berjudul “Spiritualitas Tanpa Tuhan.” Comte sepertinya memisahkan konsep spiritualitas lepas dari agama dan entitas Tuhan. Dapatkah disebut spiritualitas jika tanpa tanpa Tuhan hadir dalam hidup manusia?
Jika ada orang Kristen yang tidak memiliki sikap hidup yang buruk, itu berarti spiritualitasnya juga buruk, hal seperti ini terjadi karena faktor ketidaktaatan dan keengganan bertumbuh. Bukan karena spiritualitas kekristenan itu mandul. Jika ada orang ateis. Memiliki sikap hidup yang baik maka itu pun benih yang berasal dari Allah yang masih ada dalam diri manusia, sekalipun orang berdosa (kebikan relatif).
Dalam tulisan John Calvin (Institutio) menegaskan, bahwa spiritualitas sejati terletak pada relasi dengan Allah daripada pengetahuan tentang Allah. Sama seperti yang ditekankan oleh J.I. Packer dalam bukunya “Knowing God” juga menekankan perbedaan yang tegas antara sekadar mengetahui tentang Allah dengan mengenal Allah itu sendiri secara pribadi. Calvin juga menegaskan bahwa menguasai teologi secara baik dan sistematis sangat berbeda dengan mengenal Allah secara pribadi. Di satu sisi Calvin sangat menekankan aspek praktis dalam spiritualitas, di sisi lain ia menekankan bahwa pusat dari spiritualitas Kristen adalah Allah sendiri dengan kehadirannya di dalam diri setiap orang yang percaya.
Spiritualitas sejati tidak berpusat pada kegiatan keagamaan yang superfisial, dan spiritualitas sejati tidak didasari pada tatanan nilai moral serta kewajiban-kewajiban di dalamnya. Spiritualitas sejati adalah persekutuan dengan pribadi Kristus Yesus (mystical union). Tuhan Yesus memperingatkan murid-murid-Nya agar menghindari dan menjauhi praktek-praktek keagamaan yang sia-sia (Matius 6). Lebih keras lagi teguran Tuhan terhadap jemaat di Efesus dalam Wahyu 2, Tuhan memuji kerajinan dan komitmen mereka dalam beribadah dan dalam melayani namun kehilangan kasih yang semula (spiritualitas yang kosong). Aktivitas rohani yang hebat luar biasa tidak menjamin kualitas spiritualnya bagus.
Hingga saat ini pun banyak orang Kristen, sadar atau tidak sadar sedang berjalan dalam spiritualitas semu, dengan melakukan banyak aktivitas rohani tetapi dengan motivasi untuk memuaskan diri dalam berbagai macam kebutuhan-kebutuhan materi atau yang bersifat afektif. Problem utama dan terbersar dalam hidup manusia di sepanjang zaman adalah problem spiritualitas, seperti di tuliskan D. Elton Trueblood: “The greatest problems of our time are not technooological, for these we handle fairly well. They are not even political or economic, because the difficultiesin these areas, glaring as they may be, are largely derivative. The greatest problems are moral and spiritual, and unless we can make some progress in the realms, we may not even survive.” Tuhan Yesus menegaskan bahwa hanya jika kita berada di dalam Dia orang Kristen dapat menghasilkan buah atau hasil hidup (ibadah, bc. Rm 12:1-2).
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yoh 14:4). Seharusnya dan merupakan panggilan, dan merupakan tugas dan ethos hidup orang Kristen untuk merefleksikan totalitas hidup dan karyanya dengan nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan (spiritualitas Kristen). Soli Deo Gloria. v