Reformata.com - TUBUH manusia punya intelegensi dan logika berpikirnya sendiri. Ia punya dan berjalan berdasar beberapa prinsip, misalnya prinsip konservasi energi. Maksudnya kalau sesuatu aksi atau respons bisa dilakukan bisa dijalankan dengan memakai energi yang sekecil mungkin, se konservasif mungkin, maka reaksi itulah yang akan dipilih, dan menjadi prioritas. Dan sebuah reaksi yang berulang-ulang, akan memerlukan energi yang makin rendah setiap kali kita memulainya. Ia seperti sebuah jalan yang sudah sering dilalui, jadi tapak-tapaknya jelas. Atau bisa juga diumpamakan sebuah otot yang sering dilatih, ia menjadi terbentuk. Menjadi sebuah pola dan kebiasaan.
Kebiasaan itu menjadi semacam molding. Sebuah default kebiasaan reaksi, terlepas dari apakah reaksi itu baik atau jahat, kita tanpa sadar akan tunduk terhadapnya. Misalnya, bila saya punya kebiasaan membaca koran setiap pagi, maka pola ini akan teraktivasi dengan konsumsi energi yang amat rendah dari pada kegiatan lain. Jadi tidak usah heran, meskipun saya sedang membaca renungan pagi, atau baca Alkitab dan ketika tukang koran sudah datang, maka otak saya akan melihat, bahwa membaca koran membutuhkan energi yang lebih rendah daripada meneruskan membaca renungan pagi. Maka tanpa saya sadari, saya akan melakukan konversi, baca koran.
Begitu juga misalnya kalau membuka situs porno itu menjadi sebuah kebiasaan, maka hanya dibutuhkan energi yang sangat kecil untuk memulai reaksi itu. Jika seseorang sedang mengikuti sidang Dewan dan intelegensi badannya seolah berkata: memerlukan jauh lebih banyak mendengarkan pidato yang membosankan, dari pada men’klik’ sebuah situs porno, maka reaksi otomatis seperti itu yang akan dipilih oleh tubuh, tanpa orang tersebut sadari. Ketika aktivasi ini terjadi, dan reaksi berantai terjadi, maka makin susah untuk menghentikan sebuah reaksi kimia berantai yang sedang terjadi. Orang menjadi terjebak di dalamnya dan membayar ongkos yang mahal. Ia korban dari reaksi, alih-alih menjadi seorang arsitek reaksi, ia menjadi korban dari sebuah reaksi kimia dalam tubuh. Tubuh selalu submisif. Ia harus tunduk pada sebuah kebiasaan. Apa pun kebiasaan itu. Karena ia harus takluk pada prinsip konservasi energi untuk memulai sebuah reaksi.
Begitu juga kalau kebiasaan jahat itu membutuhkan energi aktivasi yang lebih rendah, maka kita menjadi budak dari kekejian. Terjual kepada dosa dan akan mematuhinya. Namun ketika kita suka terhadap kebenaran, maka kita akan menjadi budak dari kebenaran, dan tunduk kepadaanya. Akibatnya dibutuhkan energi lebih kecil untuk memulai sebuah respons dan ketaatan kepada kebenaran. Tubuh adalah makhluk submissif. Ia harus tunduk pada sebuah kebiasaan. Apa pun kebiasaan itu. Ia harus menjadi “budak” dari kebiasaan. Sampai ia dimerdekakan. Ketika membaca Surat Paulus di Roma 6: Slave of Righteousness, budak dari kebenaran, saya melihat ketajaman Paulus yang luar biasa. Pandangan ini selaras dengan hukum biochemistry dalam tubuh.
“Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah menaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran..... Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal”.
Tantangan terbesar manusia adalah menciptakan kebiasaan kebiasan baik, yang memunculkan rasa nyaman dan senang ketika kita melakukannya, sehingga sepertinya kita memberi tahu kepada tubuh: betapa nyaman melakukannya, dan tubuh membentuknya menjadi pola kebiasaan, sehingga ia bisa mengambil konklusi: hanya dibutuhkan energi yang amat rendah untuk aktivasi kebenaran. Dan saat itulah kita menjadi budak kebenaran. Dan upahnya sungguh amat berbeda antara upah jadi korban dosa, atau korban kebenaran.v