Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Kredo

KECERDASAN SPIRITUAL

Author : Pdt Robert R Siahaan MDiv , Posted : 27 September 2011

Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.
www.inspirasijiwa.com

SETELAH sekitar dua dekade kebanyakan orang masih sangat terkesan dengan teori “kecerdasan emosional“ dari Daniel Goleman yang telah membuka lebar-lebar pemikiran dunia bahwa yang selama ini diistimewakan yakni “kecerdasan intelektual” bukanlah penentu utama kesuksesan manusia. Namun tidak lama setelah penemuan teori kecerdasan emosional (EQ) muncullah satu teori yang mengatakan bahwa kecerdasan emosional saja tidak cukup, untuk menjadi benar-benar sukses dan bahagia sesorang juga harus cerdas secara spiritual, atau biasa disebut dengan “kecerdasan spiritual” atau SQ (spiritual quotient).  
Adalah psikolog Danah Zohar dan suaminya Ian Marshall yang memunculkan Q yang ketiga yaitu SQ yang merupakan landasan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif.  Buku mereka yang berjudul “SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence” memuat bahwa kecerdasan spiritual tidak bisa dihitung karena pertanyaan yang diberikan semata-mata merupakan latihan perenungan. Menurut  Zohar  dan Marshall manusia zaman ini  sedang hidup dalam budaya yang “bodoh secara spiritual.” Manusia sekarang ini sedang kehilangan pemahaman terhadap nilai-nilai mendasar yang ditandai oleh materialisme, individualisme, egoisme, kebanyakan kehilangan makna dan komitmen. Dengan kata lain manusia zaman ini sedang mengalami  kekeringan spiritual di tengah pertumbuhan IQ manusia yang  tinggi dan di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat. Oleh karena itu, penting sekali bagi setiap orang bukan hanya meningkatkan atau mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi tetapi juga sangat penting untuk meningkatkan dan mengembangkan kecerdasan spiritualnya. Apakah SQ itu ? Zohar  dan Marshall dalam bukunya  tidak memberikan batasan secara definitif . Mereka hanya menekankan pada aspek nilai dan makna sebagai unsur penting dari “Kecerdasan Spiritual.” SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai, dan menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya; menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan pilihan-pilihan orang lain.
Berlandaskan pada beberapa ahli psikologi Sigmund Freud, C.G. Jung ; neurolog Persinger, Ramachandran; dan filsuf Daniel Dennett, Rene Descartes, Zohar  dan Marshall mengulas mengenai “Kecerdasan Spiritual” yang disimbolkan sebagai Teratai Diri yang  menggabungkan tiga kecerdasan dasar manusia (rasional, emosional, dan spiritual ), tiga pemikiran ( seri, asosiatif, dan penyatu ), serta tiga jalan dasar pengetahuan ( primer , sekunder , dan tersier ) dan tiga tingkatan diri ( pusat-transpersonal,  tengah-asosiatif & interpersonal,  dan  pinggiran-ego  per-sonal ). SQ menurut mereka berkaitan dengan unsur pusat dari bagian diri manusia yang paling dalam menjadi pemersatu seluruh bagian diri manusia. SQ menurut mereka adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan dan kebijaksanaan di luar ego atau jiwa sadar . SQ menjadikan manusia yang benar-benar utuh secara intelektual, emosional dan spiritual. SQ adalah kecerdasan jiwa. Lalu jika dikaitkan dengan kekristenan, apakah SQ ini merupakan hal yang baru yang belum pernah di bahas sama sekali dalam Alkitab? Tentu saja tidak, malah kita sangat bersyukur bahwa banyak sekali contoh-contoh pribadi-pribadi yang dicatat dalam Alkitab sebagai orang-orang yang memiliki kecerdasan spiritual jika kita meminjam kacamata Zohar  dan Marshall. Ambillah contoh tokoh seperti Yusuf, Daniel, Nehemia dan Rasul Paulus, selain Tuhan Yesus tentunya yang merupakan “contoh khusus.” Boleh dibilang mereka-mereka itu adalah contoh dari pribadi-pribadi yang sangat cerdas secara spiritual. Banyak sekali cobaan-cobaan, kesulitan-kesulitan dan penderitaan serta tantangan yang mereka hadapi, yang bahkan menuntut nyawa mereka sebagai taruhan dalam perjalanan hidup mereka sebagai umat Allah, namun mereka semua berhasil tanpa terjatuh dalam kecacatan moral atau cacat spiritual sejauh Alkitab mencatat.
Memang kebanyakan orang memang masih mendefinisikan kecerdasan spiritual secara kasat mata, yaitu jika seseorang memiliki pengetahuan yang banyak serta memiliki pemahaman yang akurat terhadap ayat-ayat Alkitab, rajin beribadah dan rajin melayani maka ia disebut cerdas spiritual. Pemahaman ini pada akhirnya membuat sebagian orang bingung, merasa tertipu, merasa dibohongi, padahal kaca mata yang mereka pakailah yang salah. Karena antara pemahaman dan aktivitas beribadah dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari masih ada faktor lain yang tidak terlihat secara kasat mata yang termasuk dalam bagian kecerdasan spiritual yaitu motivasi, ketulusan, kejujuran, integritas dan keotentikannya. Banyak orang Kristen yang tidak mengalami makna sejati dari kehidupan kekeristenannya jika mereka hanya memiliki pengetahuan tentang Allah dan Alkitab namun tidak hidup di dalamnya. Anthony Dio Martin dalam bukunya “Emotional Quality Management” menekankan bahwa kita perlu berhati-hati dengan pertumbuhan EQ yang tidak berlandaskan prinsip-prinsip spiritualitas. Ia menekankan bahwa bisa saja terjadi dimana EQ berkembang tanpa suatu spiritualitas sejati, oleh karena EQ pun dapat dengan mudah dimanipulasi. Anthony menjelaskan bahwa selama ratusan tahun telah menunjukkan banyak diantara para pemimpin dunia yang memiliki kecerdasan emosional akhirnya dengan mudah memanipulasi rakyat secara destruktif dan sangat merugikan, sehingga jutaan rakyat dicampakkan dalam jurang kesengsaraan. Tanpa kendali dari SQ kekuatan EQ akan berkembang menjadi kekuatan yang jahat dan penuh pura-pura. Marilah kita mulai melatih dan mengembangkan kecerdasan spiritual kita dengan merendahkan diri dan menundukkan diri untuk mengikuti dan menataai perintah Tuhan. Tuhan Yesus berkata bahwa pusat dari spiritualitas kita adalah relasi yang intim dan benar dan secara terus menerus di dalam Dia: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yohanes  15:4-5. Soli Deo Gloria! v




 

0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4145 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net