Reformata.com - Membangun sebuah generasi dan berjuang menyelamatkan generasi adalah tugas penting seorang Hamba Tuhan khususnya Misionaris yang melayani di Indonesia. Itulah yang selama ini dikerjakan oleh Ev. Jeveline Lengkong Hilliard, bersama suaminya Mike Hilliard, pendiri sekaligus pemimpin di Panti Peduli “Mama Sayang” (PPMS) ini.
Berawal dari visi yang Tuhan tanamkan kepada Jeveline dan Mike di tahun 2002. Ketika itu kedua pelayan Tuhan ini sedang mengadakan mision trip keliling ke Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan. Saat di Kalimantan barat, Jeveline melihat ada begitu banyak anak-anak tidak bersekolah. Setelah ditanyakan kepada pendeta setempat, mereka tidak dapat bersekolah karena kondisi ekonomi orangtua yang tidak mampu lagi menyekolahkan. Ibu berdarah Manado ini ingat betul bagaimana jawaban pendeta kala itu. “kami lagi mencarikan tempat pelemparan. jadi mereka dititip di sini (Gereja) supaya sewaktu-waktu bisa cari tempat. Kenang Jeveline.
Singkat cerita Jeveline men-ceritakan apa yang dilihatnya itu kepada ibunya yang kebetulan adalah seorang Gembala Jemaat Gereja GPDI di Jalan Mangga. Mendengar itu, Ibu Jeveline justru mendorong agar Dia dapat menolong anak-anak itu. Meskipun awalnya menolak, namun berkat peneguhan dari ibu Jeveline bahwa ada maksud Tuhan dibalik pengalaman yang dilaluinya, maka hati Jeveline pun akhirnya tergerak juga . Tak hanya itu saja, ada begitu banyak hal dan tanda yang kian memperteguh niat dan tekad Jeveline untuk mendirikan sebuah panti yang dapat menolong dan memberkati anak-anak tidak mampu. Salah satunya adalah kemudahan dan kelancaran mengontrak rumah didepan rumah miliknya yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya.
Di bulan Mei tahun 2003 Jeveline mengawali niat baiknya itu dengan langkah pertama menjual apa yang ada untuk mendukung pelayanan tersebut. Menurut Jeveline hal ini sangat penting sebab, seperti yang Tuhan perintahkan dalam pernikahan di Kana “isilah tempayan itu maka Tuhan akan menjadikan anggur yang luar biasa”, jelas Jeveline.
Tahun-tahun pertama men-dirikan PPMS adalah tahun yang berat bagi Jeveline. Ada begitu banyak rintangan dan masalah yang tidak pernah Ia sangka sebelumnya. Awalnya ibu dari tiga anak dan nenek dari empat cucu ini berpikir untuk mengasuh 10 sampai 20 anak di PPMS tapi yang datang justru 45 anak. Kontan hal ini membuatnya panik, tak hanya karena persiapan untuk anak sebanyak itu belum matang betul, tapi juga karena sulitnya komunikasi kepada anak-anak yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Enam bulan setelah itu, Jeveline bahkan sempat putus asa dan memutuskan tak ingin melanjutkan pelayanan yang baru di rintisnya itu. Tapi Mike, suami Jeveline memberi dorongan dan semangat agar terus maju dan setia pada komitmen awal.
Kini panti di daerah Jonggol, tepatnya di kompleks perumahan Citra Indah Bukit Menteng
Blok A8/30 Jl. Raya Cileungsi Jonggol itu sudah lebih mapan dan semakin maju. Saat ini sedikitnya ada 105 anak yang di asuh di PPMS. Bukan saja anak-anak dari daerah yang nota bene orang tuanya tidak mampu, tapi anak-anak dari kota yang orang tuanya terbilang mampu pun ada. Alasan orang tua yang mampu tersebut seperti diceritakan Jeveline umumnya karena orang tua kesulitan mendidik anak yang kenakalannya sulit dikontrol.
Disiplin, keras dan tegas adalah pola didikan yang diterapkan di PPMS. Bagi Mama Jev, panggilan anak-anak panti kepada Jeveline, mendidik anak itu perlu skill khusus, tidak hanya bermodalkan kesabaran saja.
“Memang Mendidik itu perlu skill yang luar biasa. Sabar, tegas, disiplin, juga sesekali garang“. “Tegas sebagai seorang pendidik, lemah lembut sebagai seorang ibu, tapi juga keras kalau anak tidak mau berubah“ jelas Jeveline.
Bukan itu saja, pemimpin menjadi model, pemimpin menjadi teladan juga menjadi pola didikan efektif di PPMS. Pola-pola didikan yang diterapkan seperti ini tidak terlepas dari panggilan awal Jeveline dan Mike sebagai seorang misionaris yang dipahaminya sebagai “mengajar orang untuk pergi“. Ya... tentu saja pergi untuk melayani Tuhan dengan berbagai talenta, skill, dan pengajaran yang telah diberikan. ”Satu orang saya tolong maka mereka akan tolong lagi lebih banyak orang”, terang Jeveline. ”Saya diberikan anugerah oleh Tuhan untuk melihat budi dunia ini. Itulah yang saya berikan pada orang lain, apa yang pernah saya dapat. Menolong orang lain yang memang betul betul tidak mampu”. Imbuh Jeveline. Dengan ini Jeveline dan Mike dalam wadah PPMS tengah membangun generasi, berjuang menyelamatkan generasi agar lebih baik lagi. Aktualisasinya adalah dengan menanamkan bibit yang baik pada anak. Seperti memberi teladan kepada anak-anak sebagai suami-istri dan Orang tua yang akur.
Untuk membangun sebuah generasi diperlukan piranti dan persiapan yang matang, baik itu secara spiritual maupun material. Secara spiritual PPMS mewajibkan anak-anak untuk berdoa, membaca firman Tuhan dan sharing bersama setiap pagi, siang dan malam hari, diluar ibadah minggu. Moment itu juga dimanfaatkan betul oleh PPMS untuk menumbuhkan kedekatan antar penghuni, juga kedekatan dengan orang tua mereka di PPMS.
‘Pagi-pagi jam 4 mereka bangun, suami saya yang menjadi imam. Siang sehabis sekolah mereka berdoa. Dan malamnya saya yang pimpin. Jadi satu hari dua kali mereka bertemu dengan Bapak dan Ibunya“. Jelas Jeveline
Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan psikologis anak, menurut Jeveline kata kunci yang pas adalah perhatian. Tak hanya diterapkan di kehidupan dalam panti, tapi juga dilakukan ketika diluar panti seperti ketika belanja bekomunikasi dengan mereka dan banyak hal lain yang dilakukan.
PPMS juga memupuk hobi dan talenta anak-anaknya. Bukan saja dalam bidang akademis, tapi juga dalam bidang olah-raga. Panti yang dipenuhi dengan pepohonan hijau nan asri itu kini telah memiliki dua tim olah raga yang handal. Pertama adalah tim Sepak bola putra yang kerap memperoleh piala dan penghargaan. Kedua adalah tim Ragbi putri yang juga tak kalah hebatnya. Untuk melatih kedua tim itu PPMS tak segan-segan mendatangkan pelatih dari luar negeri. Tentunya dengan harapan anak-anaknya dapat menjadi tim-tim tangguh.
Tidak melulu berkutat pada kebutuhan intern saja. Pelayanan PPMS juga dilebarkan kedunia pendidikan dan kesehatan. Hal itu diwujudkan dengan membangun sebuah klinik dan sekolah di kompleks perumahan yang sama.
Perjalanan panjang PPMS tidak terlepas dari pimpinan dan intervensi Tuhan secara langsung. Meskipun ada warna-warni hambatan dan tantangan, tak membuat PPMS menjadi hancur. Lalu tutup. Jeveline menceritakan bagaimana Tuhan selalu mencukupkan kebutuhan PPMS dan tak membiarkan anak-anaknya kelaparan.
.“Tuhan luar biasa perhatikan kami, kami tidak pernah kekurangan. Tidak pernah tuhan tinggalkan. Saya melihat benar-benar firman tuhan diaminkan. Anak-anak ini adalah kesaksian hidup.“
?Slawi