Registrasi! | Sudah punya akun?
 
 

Senggang

Alvin Kurniawan, Semua Orang Diciptakan Sebagai Worshiper

Posted : 27 September 2011

Reformata.com - ORANG yang sudah menemukan potensi diri dan tujuan hidupnya, pasti akan mengarahkan langkahnya sehingga menjadi produktif dan maksimal. Hal ini dialami Alvin Kurniawan, jebolan Akademi Fantasi Indosiar (AFI) 3.  

Tadinya, pria kelahiran Yogyakarta 29 Agustus 1982 ini tidak suka musik dan nyanyi. Dunia ini, bagaikan bayang-bayang keinginan sang ayah, Tony Indrayakti (alm), yang dirasakan menekan dan memaksanya. Hal ini pula yang menyebabkan Alvin lebih memilih untuk beraktivitas bersama teman-teman gerejanya, daripada di rumah. “Saya bosan, harus terus mengikuti kemauan Papa,” kenang Alvin tentang masa itu.

Alvin memilih gereja, sebagai tempat berekspresi dan mendapat kebebasan. Tempat yang membuat dirinya dapat terlibat melayani dan memikirkan hal-hal rohani, walau dengan motif yang salah. Sebaliknya, tekanan dan paksaan yang dirasakan dari sang ayah agar tetap bernyanyi, ternyata menuntunnya menemukan potensi diri sebagai penyanyi. Kedua hal ini membentuk Alvin untuk dapat bernyanyi dan hidup melayani. 

Perjalanan yang tak tertebak, namun kini menghantar Alvin semakin mengerti, hidup ini diatur oleh Tuhan kepada segala yang baik. “Itu cara Tuhan meluruskan saya ke tujuan yang benar,” ungkap pelantun lagu  “Tetap Setia” album AFI 3.


Kehidupan yang diubahkan

Sejak di kelas 4 SD hingga kelas 3 SMP, Alvin mengalami gangguan pernafasan. Saat bangun tidur di pagi hari, si bungsu dari 2 bersaudara ini mengeluarkan banyak lendir. Alvin diduga mengalami penyakit bronchitis, TBC, paru-paru, hingga asma parah. Berbagai upaya telah dilakukan keluarga demi kesembuhan dirinya. Obat-obatan  yang terus dikonsumsi menyebabkan masalah pada lambung Alvin, dan itu pun berdampak pada pernafasan. Sewaktu kelas 3 SMP, kondisi kesehatannya sempat kritis! Dan itulah yang mengubah ayah dan keluarga Alvin. Ayah Alvin dalam doanya, berdoa akan berubah dan melayani Tuhan bila anak bungsunya itu dipulihkan.  

“Semua itu rencana Tuhan. Kalau saya tidak sakit, Papa tidak bertobat dan saya tidak sungguh-sungguh dalam Tuhan. DIA yang mengatur segalanya,” kisah Alvin penuh haru. “Tuhan benar-benar memulihkan saya dari penyakit yang sempat mengancam hidup saya,” tambah pria yang kini ikut kuliah  tingkat magister di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Petamburan, Jakarta Barat ini.

Masa-masa sulit yang dialami Alvin akhir tahun 2010, tidak memiliki pekerjaan tetap, dan tidak punya murid private, memaksa dirinya berpikir keras dan berjuang untuk bisa hidup di Jakarta. Dia  memberi les vokal untuk beberapa anak. Namun, lagi-lagi Alvin diantar untuk kembali pada panggilan hidup, agar tetap melayani banyak orang dan bersinar sebagai anak Tuhan, bukan untuk memperkaya diri sendiri.

Popularitas yang dia dapat sebagai jebolan AFI, tidak mengubah tekadnya untuk melayani Tuhan. Album rohani Follow Hymn dan Throne adalah karya yang menuntunnya semakin fokus melayani Tuhan. Alvin bersama group Throne-nya membuka praise worship seminar gratis. Kegiatan ini menghadirkan 50 orang anggota vokal yang diasuh langsung oleh Alvin, rutin setiap senin selama 1½ jam. 

Seiring dengan ketulusan dan kesungguhan, Tuhan menyertai usaha lain yang dirintis Alvin dan teman-teman. “Bekerja sebanyak-banyaknya, jadi melayani motifnya lurus. Membuka usaha studio dan lainnya. Menghasilkan uang yang cukup, agar melayani tidak menuntut apa-apa,” papar vokalis Base Jam ini cermat.

Alvin tak hanya sekadar menjadi penyanyi, namun mengajarkannya kepada orang lain. Dia  juga belajar menjadi pemuji yang mengerti Firman Tuhan. “Hubungan pribadi dengan Tuhan, menyebabkan kita mengenal Dia dan belajar firman-Nya. Dengan demikian kualitas kita pasti terlihat,” urainya.

Alvin pun meyakini, bahwa semua orang diciptakan sebagai worshiper.  “Jika fokus hidupnya dipakai untuk menyembah Tuhan, maka akan terlihat dampak hidupnya. Sebaliknya jika fokus hidup kita pada hal lain, maka yang tampak pasti hal itu juga,” tandas warga jemaat GBI Kasih Kristus Plasa Pasifik, Kelapa Gading ini. ?Lidya Wattimena

 

0
0 votes
1 2 3 4 5

Comments

Lainnya

Arsip :20122011201020092008
  •    •    •    •    •    •    •    •    •  
Copyright © 2004-2011 Tabloid Reformata. All rights reserved . | 1.4199 sec | TOP
Online Support :
YouTube Facebook Twitter RSS
Powered by: Indocms.net